Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 50


__ADS_3

Dita membuka matanya. Ia pun menguceknya pelan dan tak menyangka jika pagi telah tiba begitu cepat. Dita pun berusaha mengangkat tubuhnya bermaksud ingin bangun, tapi karena terlalu kantuk ia pun kembali merebahkan tubuhnya. Dita mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia pun meraba sisinya dan sama sekali ia merasakan tak ada Abraham di sana.


Hal itu membuat Dita terkejut dan membuka matanya dengan cukup lebar. Tapi Dita berusaha untuk untuk berpikiran positif bahwa bisa saja Abraham mungkin telah bangun lebih awal dari dirinya.


Tapi pada saat matanya tak sengaja memandang ke arah lubang angin yang masih menunjukkan hari yang masih gelap membuat Dita sedikit heran dan sadar jika hari masih malam. Dita lantas langsung bangun dari rebahannya. Kemudian wanita tersebut pun menatap ke arah jam.


Rupanya hari masih jam 02.00 pagi. Dita pun memutuskan untuk keluar karena tiba-tiba ia merasa sangat haus. Selain itu ia juga ingin mencari Abraham.


Pada saat sedang berjalan menuju dapur, Dita mendengar suatu keributan yang tak jauh dari dirinya berada. Tapi karena ia yang terlalu haus Dita pun memutuskan ke dapur lebih dulu untuk mencari minum.


Setelah selesai membasahi tenggorokannya Dita pun segera kembali ke tempat tadi pada saat ia mendengar suara keributan tersebut. Sejujurnya ia sangat penasaran Apa yang sebenarnya terjadi di sana. Tampak sekali jika yang ia dengar tadi bukanlah hal yang sederhana.


Dita tak dapat menebak apa yang sebenernya telah terjadi hingga membuat rasa penasarannya mengakar dan terus menjalar sampai menggerogoti akal sehatnya. Wanita tersebut pun berpikir jika Abraham ada di sana maka dari itu ia berani memutuskan untuk menghampiri tempat itu kembali. Sesampainya di tempat itu lagi Dita langsung mengintai ke arah suatu ruangan yang Dita yakini sumber keributan tersebut Ia pun memperhatikan ruangan tersebut dengan mata yang ingin keluar dari tempatnya.


Dita sungguh tak menyangka dengan apa yang saat ini ia lihat. Dia melihat Abraham dan Petrus yang saling bertengkar. Tidak biasanya hal seperti itu terjadi. Tampaknya pemicu perkelahian mereka ini ada hubungannya dengan dirinya.


Sebab Dita beberapa kali mendengar jika namanya terus disebut oleh mereka. Tangan wanita itu pun bergetar dan memutuskan untuk diam dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi di sana untuk mengetahui apa penyebab pertengkaran itu.


"Kau begitu bodoh Abraham, kau dihasut oleh wanita. Kenapa aku seperti tak mengenal mu? Kenapa kau begitu tak mempedulikan aku lagi seperti dulu? Dan bahkan kau ingin menyuruh ku untuk berhenti dari kebiasaanku. Kau tahu sendiri jika aku tak bisa melakukan hal tersebut."


"Sekarang aku yang bertanya, sebenarnya siapa yang telah menggaji mu? Dan kau bekerja untuk siapa? Untuk aku atau untuk dirimu? Kau tahu sendiri jika aku bukanlah orang yang terbuka. Kau bahkan baru saja mengetahui wajah aku dan masa laluku, Kenapa kau seolah-olah menjadi orang yang paling dekat denganku dan mengerti diriku. Jika kau terus membangkang aku, maka tidak ada yang tidak mungkin nanti aku akan memberhentikan kau bekerja di tempatku. Karena memang aku merasa muak denganmu."

__ADS_1


Petrus yang mendengar semua kalimat yang dilontarkan oleh Abraham pun terdiam. Dia mengepalkan tangannya. Cukup sudah dirinya menjadi suruhan pria itu. Jika bukan karena untuk balas budi dia tak akan mau melakukan hal tersebut.


"Maka dari itu aku menyanggupi untuk berhenti bekerja denganmu." Dan kali ini Abraham lah yang dibuat terdiam oleh Petrus.


Sebenarnya ia sangat merasa tidak rela jika Petrus tak lagi bekerja dengannya. Karena banyak hal yang telah Petrus lakukan untuknya.


"Kenapa kau melakukan hal tersebut? kau juga tahu jika yang aku katakan tadi hanyalah ancaman, tapi aku tak berharap jika kau benar-benar menurutinya."


"Maaf tuan, tapi aku benar-benar tak bisa untuk menghentikan kebiasaanku. Itu sudah menjadi sifatku dan kau tak bisa melarang ku melakukan hal tersebut."


"Baiklah jika itu mau mu." Abraham pun pasrah dengan keputusan Petrus. Lagipula ancaman itu awalnya juga dari dirinya. Mungkin dengan membiarkan Petrus melakukan apa yang ia inginkan itu merupakan jalan yang baik untuk Petrus.


Petrus lantas keluar dari ruangan tersebut. Sementara itu Dita masih berada di depan pintu karena masih merasa sangat syok. Pantas saja beberapa hari ini ia tak melihat Petrus di rumah.


Petrus menatap ke arah Dita. Ia juga merasa kaget mengetahui jika Dita ada di depan pintu dan telah mendengar semua pembicaraan mereka tadi. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi dan tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas.


"Kuharap kau dapat menjadi orang yang bisa mendampingi Abraham. Dia bahkan merelakan semuanya demi dirimu. Keterlaluan jika kau menyakiti hatinya," peringat Petrus untuk Dita.


Dita menelan ludahnya dengan susah payah. Suara Petrus begitu dalam hingga membuat dirinya merasa terintimidasi oleh laki-laki tersebut.


Abraham yang tahu jika Dita juga ada di tempat ini langsung menghampirinya. Ia memeluk tubuh Dita dengan cukup erat. Ia takut jika Dita akan menjadi sasaran kemarahan Petrus.

__ADS_1


"Kau berjanji tidak akan melukai siapapun."


Petrus pun menatap ke arah Abraham dengan mata yang tampak bosan. "Aku tidak akan menyakitinya. Karena aku tahu dia adalah orang baik yang dapat merubah diri mu. Walaupun aku sangat kesal dengan itu, tapi aku berusaha untuk menerima semuanya. Kuharap juga ada orang lain yang dapat merubahku sama seperti Dita yang dapat merubah mu."


"Aku dengan senang hati menunggu kabar tersebut."


Petrus menganggukkan kepalanya kemudian pergi dari rumah Abraham. Tinggallah Dita dan juga Abraham di ruangan tersebut.


"Aku rasa dia sangat sulit untuk berubah. Karena dirinya memiliki sifat ingin selalu membunuh dari lahir. Sementara itu aku menjadi seorang psikopat karena rasa benci ku yang begitu sangat dalam di masa lalu. Jelas perbedaan inilah yang membuat kenapa aku bisa cepat berubah."


Dita menatap ke mata Abraham. Tampaknya pria itu begitu sedih. Ia pikir Abraham pasti sedang memikirkan Petrus yang sudah lama bekerja dengan dirinya tapi pada akhirnya perpisahan itu pun terjadi.


"Aku harap dia bisa tetap berubah. Jangan merasa sangat tidak yakin. Sedangkan kau saja yang bisa berubah walaupun kau menjadi seorang psikopat karena masa lalu. Tapi tetap saja merubah diri bukanlah sesuatu yang mudah dan aku pikir Petrus juga bisa berubah sama seperti dirimu."


Abraham mendekap tubuh Dita dengan cukup erat. Dia merasa bahagia karena telah dipertemukan dengan Dita. Wanita yang sempat ingin Ia bunuh dan pada akhirnya ialah yang memberikan kebahagiaan untuk hidupnya.


"Jangan lupa kau langsung tidur. Aku ada urusan sebentar di ruang kerja."


Abraham mengecup kening Dita sekilas lalu kemudian pergi ke ruang kerjanya.


________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2