Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 49


__ADS_3

Dita sedikit lega akhirnya Abraham dan Simon, serta Clarissa sudah mulai berbaikan dan kembali seperti masa lalu, semua itu berkat lewat jalur Dita.


Mereka sepakat untuk menurunkan ego masing-masing demi anak yang mereka sayang. Dita pun sangat bangga dengan kenyataan tersebut. Ia ingin sekali lebih banyak membuat banyak moment membahagiakan di antara mereka.


Abraham pun sepanjang jalan menyetir mobil dalam keadaan kesal. Bukan Dita tak tahu apa penyebab pria tersebut bersikap demikian, karena ada hal yang mengganggu dirinya dan itu adalah karena rasa malu yang ia dapatkan pada saat bertemu dengan Simon dan juga Calrissa.


Tapi, mengingat kembali jika demi Dita ia akan melakukan apapun dan tak peduli lagi dengan harga dirinya yang tak ada nilainya di depan Dita. Abraham menarik napas panjang dan menatap ke arah wnaita itu yang duduk di sampingnya.


Mereka sedang melakukan perjalanan pulang ke rumah mereka. Karena setelah selesai menjemput Alvarez dan Naomi di taman bermain mereka memutuskan untuk pulang karena tidak ada lagi yang harus dilakukan di rumah Calrissa dan juga Simon.


Lagipula Naomi dan juga Alvarez sudah sangat kelelahan dan tak bisa melakukan banyak hal lagi untuk mengeksplor tempat permainan mereka.


"Apakah kau sekarang mengerti dengan rasa lelah? Kau sudah diajak datang ke rumah Oma tapi malah memilih untuk datang ke taman bermain. Kau tahu Oma sangat kecewa pada mu tadi."


Alvarez dan juga Naomi yang mendengar nasehat tersebut pun terdiam dan saling menyalahkan. Mereka menatap satu sama lain dengan tubuh yang menegang. Ide untuk datang ke taman bermain muncul dari Naomi. Karena anak itu merasa sudah sangat lama tak bermain di taman bermain.


"Ini semua salahmu kakak. Aku sama sekali tidak ingin ke tempat itu dan mengatakan Jangan ke sana tapi kau terus memaksaku." Jika sudah begini mereka akan saling menyalahkan. Dita sangat membenci hal tersebut.


"Diamlah kalian berdua Dan jangan bertengkar. Naomi dan juga Alvarez kalian sama. Kalian berdua telah membuat pusing kepalaku." Dita pun mengembuskan napas panjang bertanda jika wanita itu benar-benar merasakan sangat lelah dengan situasi yang terjadi saat ini.


Abraham yang melihat betapa lelah nya sang istri pun merasa tak tega. Ia dengan inisiatifnya sendiri memijat punggung Dita dan berharap jika Dita dapat merasa ketenangan dari pijatan yang ia berikan.


Dita menatap ke arah Abraham tersebut dengan pandangan pelan. Ia menatap tak suka ke arah pria itu. Ya tentu saja, demi membuatnya tenang tapi Abraham tak begitu memperhatikan jalanan dengan benar.


"Kau benar-benar ingin mencari mati. Aku tidak ingin mati bersama mu hari ini," ucap Dita dengan suara yang sangat cemberut. Pasalnya ia sudah dalam keadaan lelah tapi dibuat emosi lagi oleh Abraham.


Bagaimana tidak darah tinggi dirinya dibuat oleh Abraham. Sementara itu Abraham yang merasa jika semua yang dilakukannya salah pun akhirnya memutuskan untuk berdiam.

__ADS_1


Karena yang paling benar memanglah diam. Begitu pula dengan Naomi dan Alvarez. Mereka melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh ayahnya.


Mereka pikir jika Ibu mereka adalah wanita yang sangat galak. Emang hal tersebut tak dapat dipungkiri untuk beberapa hari belakangan ini Dita tak dalam mood yang baik.


Hingga pada akhirnya mereka pun sampai di depan rumah. Abraham turun dan membukakan pintu mobil untuk anaknya dan Dita. Dita juga turut turun dan cepat masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru.


Wanita itu meninggalkan anaknya dan juga Abraham. Hingga Abraham menatap ke arah Naomi dan juga Alvarez yang mana mereka berdua juga sama merasa bingung dengan sikap ibu mereka.


"Ada apa dengan ibumu? Aku rasa dia tak seperti mama kalian yang aku kenal."


"Mungkin Mama sedang punya masalah kali ya."


Abraham menarik nafas panjang dan lalu kemudian membawa anak-anaknya masuk ke dalam rumah. Setelah itu barulah ia akan menyusul Dita dan menenangkan wanita tersebut.


__________


Dita membalikan tubuhnya dan menatap Abraham yang sedang melipat kedua tangannya di dada. Laki-laki tersebut menyenderkan bahunya ke dinding.


"Entahlah, secara mendadak mod ku tiba-tiba rusak."


"Apakah itu karena aku lagi?" tanya Abraham dan berharap jika hal tersebut bukanlah karena dirinya.


Dita menggelengkan kepala. Mood nya rusak bukan karena orang di sekitarnya. Mungkin hanya karena hormon. Dita juga berusaha untuk mengendalikan dirinya agar orang lain tak menjadi pelampiasannya.


"Tidak, ini bukan karena mu. Hanya saja memang mood ku yang tidak baik. Aku juga tak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku. Mungkin aku ingin datang bulan."


Abraham pun menganggukan kepalanya. Tapi pria itu merasa apa yang baru saja dikatakan oleh Dita merupakan kabar buruk bagi dirinya. Itu artinya ia tak dapat lagi bermeras-mesraan lebih dalam lagi bersama dengan Dita.

__ADS_1


"Entah kenapa itu menjadi kabar buruk untuk ku," ucap Abraham yang masih didengar oleh Dita.


Dita pun menarik nafasnya cukup panjang. Lalu menatap ke depan dengan pandangan kosong.


"Aku sedang berpikir apakah kita akan terus seperti ini? Aku memang sudah bisa menerima dirimu dan bahkan menjatuhkan hatiku kepadamu. Tapi entah kenapa masa lalu terus saja membayangi diriku. Tidak ada yang tidak mungkin Jika aku merasa takut kepadamu. Mungkin rasa trauma itu masih ada," ucap Dita sedikit merasa bersalah akan tetapi ia ingin bercerita dan mengutarakan hatinya. Abraham pun juga tak ingin egois. Di sini ia sudah mulai mengerti Apa akibat dari perbuatannya di masa lalu.


Abraham menarik nafas panjang. laki-laki itu menghampiri Dita lalu memeluk wanita tersebut dengan cukup erat.


"Aku tak tahu jika diri mu begitu merasa trauma terhadap diri ku. Kuharap kau mendapatkan hal yang jauh lebih baik lagi, yaitu perhatian ku."


Dita menganggukan kepalanya. Ia juga berharap hal yang sama. Tak ada lagi kendala yang ia rasakan dalam hidupnya selain kebahagiaan yang terus mengikuti mereka.


"Aku juga berencana ingin melamar mu. Walaupun ini sangat memalukan karena memintamu kepada Simon Tapi demi dirimu aku tetap melakukannya. Tak peduli dengan rasa maluku yang begitu tinggi," ucap Abraham yang begitu meyakinkan perasaan Dita.


Dita bahkan sampai tak bisa berkata-kata karena saking merasa terharunya terhadap Abraham.


Dia memang merasa jika umurnya masih sangat muda untuk menikah. Dia telah memiliki dua anak da mereka sama-sama membutuhkan kasih sayang dari dirinya dan juga ayahnya membuat Dita harus berpikir dua kali untuk tak menikah. Terlebih Ia juga tahu jika umur Abraham tak lagi muda. Walaupun wajah pria itu tampak muda tapi umurnya tak bisa dipungkiri telah memasuki kepala empat.


Bagi Dita umur hanyalah angka. Ia sama sekali mempermasalahkan mengenai umur yang terpaut jauh.


"Aku tidak sabar untuk menunggu hari itu. Aku harap dapat menantikannya dengan sangat bahagia nanti."


"Kau pasti akan bahagia."


_________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2