
Bisa dikatakan jika selama ini hari-hari Dita tidak ada yang menarik. Ia tak begitu bergairah menjalani hidup walau terkadang ada kedua anaknya yang akan menghibur dirinya.
Dita tak bisa kemana-mana tanpa seizin pria itu dan wanita tersebut menganggap jika hal itu adalah suatu masalah yang sangat serius. Wanita itu menganggap jika ia tak bisa sama sekali untuk tidak peduli dengan semua ini. Karena di sini yang dipertaruhkan itu adalah kehidupannya yang akan datang.
Sementara itu Dita merupakan anak yang bebas. Dia lebih menyukai dunia luar dan menikmati keindahan dunia tersebut dari pada terkurung di dalam rumah yang tidak ada gunanya sama sekali.
Tapi apa boleh buat jika inilah memang yang sudah takdirkan oleh sang penulis. Dita pun hanya bisa merenung di depan jendela. Entah kenapa tidak ada nasib baik yang memihak kepadanya.
Walaupun ada itu hanyalah seberapa tidak sebanding dengan nasib buruk yang selalu ia terima.
"Kau terus melamun, Apakah hidup bersamaku bukanlah sebuah anugerah bagimu? Aku hanya menginginkan kau berada di samping ku Kenapa itu sangatlah susah untukmu?"
Dita pun melirik ke arah orang yang baru saja berbicara kepadanya itu. Wanita tersebut menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Abraham tak akan pernah mengerti dengan perasaan yang tidak ingin dikekang.
"Kau ingin memenjarakan ku di rumah ini ya? Kau tahu jika aku sama sekali tidak menyukai tempat ini?"
Abraham pun berpikir beberapa detik sebelum ia tahu jawabannya. Ada rasa kecewa yang terdapat pada dirinya tapi dia berusaha menepis semua itu.
"Aku tahu kau ingin berada di sini. Maka dari itu aku menahanmu karena supaya tak ingin kau kabur."
Dita pun menatap Abraham dengan sangat serius. Wanita itu terlihat sangat marah besar kepada Abraham.
"Kau hanya memikirkan tentang dirimu tapi kau tak bisa memikirkan bagaimana hatiku. Apa kah aku bisa menerima semua itu atau tidak, kau sama sekali tidak peduli, bukan?"
"Jika yang kau inginkan adalah pergi dari ku, maka aku mengatakannya aku sama sekali tidak memikirkan hatimu karena aku ingin egois."
Baiklah untuk kali ini Dita akan kehabisan kata-kata melawan laki-laki tersebut.
Ia pun menggembungkan kedua pipinya. Kemudian wanita itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia mengepalkan tangannya cukup erat.
"Aku tidak bisa mengerti kenapa semuanya bisa terjadi pada diriku ya?"
"Karena kau memang ditakdirkan untukku."
__ADS_1
Cukup lama Dita pun bungkam dengan hal tersebut. Benarkah dirinya ditakdirkan untuk Abraham? Jika seperti itu ia tak akan pernah bisa kabur dari pria itu.
Mungkin ini saatnya Dita menyerah dengan keadaan dan menerima semuanya dengan lapang dada.
"Kenapa kau bisa mencintai ku?"
tanya Dita kepada laki-laki itu karena Ia sangat membutuhkan jawaban dari pria tersebut untuk menimbang.
Abraham merasa jika cintanya tak perlu lagi untuk dijelaskan. Tapi tampaknya jika berbicara dengan Dita hal itu harus memang dibicarakan.
"Agar kau tak lagi banyak berbicara maka aku akan mengatakan yang sebenarnya. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diri mu. Aku tak mengerti hal itu kenapa bisa terjadi, karena cinta datang secara tiba-tiba. Mungkin memang ada juga karena....."
"Karena wanita itu?" potong Dita dengan cepat.
"Mungkin."
"Aku bukan dia. Lagipula dia siapa?" tanya Dita dengan sangat gugup untuk mendengar jawabannya.
Abraham hanya tersenyum tipis karena berpikir Dita belum tahu yang sebenernya siapa wanita itu. Baiklah, mungkin Simon sengaja ingin Dita tak mengetahuinya.
Dita sempat ragu Apakah ia harus menerima ajakan pria itu ataukah tidak. Tapi tampaknya ia memang harus menerima ajakan dari Abraham agar bisa mengetahuinya dengan jelas.
"Ya."
"Baiklah kita berdua akan pergi ke sana."
_______
Abraham dan juga Dita pun sampai ke tempat hutan itu lagi. Abraham langsung membawa Dita ke ruangan tersebut. Tapi ia cukup terkejut saat tahu bahwa Dita pernah masuk ke ruangan ini.
Tapi hal itu bukanlah menjadi masalah untuk saat ini. Pria itu pun mengajak Dita menghampiri peti mati yang menyimpan mayat yang masih awet setelah puluhan tahun.
Ketika peti mati tersebut dibuka Dita pun tak bisa berkata-kata dan dia menahan nafasnya karena ia seperti tengah melihat bayangannya sendiri.
__ADS_1
Dita menutup mulutnya. Wanita itu pun langsung membuang pandangannya karena merasa mual.
"Kau tidak boleh seperti itu. Rupanya kau sama sekali tak tahu siapa dia? Perhatikan! dia memang sangat mirip dengan mu, bukan?" Dita pun mengangguk mengiyakan. "Karena dia adalah ibu mu."
"Hah?" Dita shock bukan main saat mendengar fakta tersebut. Ibunya? Kenapa wanita ini bisa menjadi ibunya? Ibunya adalah Calrissa dan tidak mungkin telah meninggal. "Ibu ku ada di rumah, Clarissa."
"Calrissa adalah ibu tiri mu. Sementara itu Alana adalah orang yang sangat aku cintai tapi dihamili oleh Simon karena kebodohan Simon, meskipun aku tahu hal itu aku tetap masih sakit hati dan membenci Alana dan Simon, termasuk membenci diri mu."
"Kau!" ucap Dita sembari mundur. Wanita itu menggelengkan kepalanya sembari menahan tangis. "Kenapa semua ini terjadi? Hiks, Mama!" teriak Dita menatap ke arah peti tersebut.
Ia menyentuh mayat sang ibu dan menarik napasnya dengan pelan. Ia berusaha untuk meminimalisir perasannya agar lebih baik lagi. Tapi, hati siapa yang tidak sakit melihat ibu kandung terbujur kaku dalam peti.
"Tapi dia adalah benar-benar ibumu. Kau tidak bisa mengelak kenyataan itu jika kau adalah anak Alana. Tampaknya Simon tidak ingin tahu jika kau adalah anaknya bersama Alana."
Dita pun tak bisa langsung menyalahkan ayahnya. Pasti ada sesuatu yang membuat ayahnya merahasiakan hal tersebut. Perempuan itu kembali lagi melihat ke arah mayat ibunya dengan pandangan yang sangat lirih. Oh Tuhan ibunya begitu cantik dan juga mirip dengannya.
"Jadi dia adalah benar-benar ibu ku? Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia bisa mati?" tanya Dita dengan rasa yang ingin tahunya sangat besar.
Tentu saja ia ingin tahu penyebab kematian Akan, apalagi itu adalah ibunya. Dan di saat inilah Dita juga baru sadar kenapa Abraham selalu menyalahkan dirinya lahir ke dunia.
"Kau akan semakin membenciku jika aku mengatakannya," ucap Abraham yang sudah sangat yakin ia akan dibenci oleh Dita. Memangnya anak mana yang tidak akan membenci orang yang telah membunuh ibunya.
"Katakan."
"Aku lah yang membunuh ibu mu karena aku sakit hati kepadanya. Aku juga ingin membunh Simon, tapi sayang aku yang hampir terbunuh. Saat usia mu tiga tahun aku juga hampir ingin membunuh mu, tapi kau tetap selamat."
"Lantas apa hak aku hidup dengan bajingan yang ingin mengincar nyawa keluarga ku?" tanya Dita dengan suara yang parau akibat terlalu banyak menangis.
"Maafkan aku."
"Aku tidak mau."
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.