Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 20


__ADS_3

Dita langsung dilarikan ke rumah sakit saat mendapati jika anak itu tengah mengandung. Yang ping tak disangka ternyata Dita sudah hamil dua bulan.


Hal itu benar-benar mengejutkan banyak orang terutama Dita sendiri. Clarissa tak ada hak untuk marah. Wanita itu menerima semuanya dengan apa adanya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan yang baru.


Rencana Dita akan dibawa ke luar negeri untuk mengatasi masalah yang saat ini sedang menimpa dirinya. Semoga dengan suasana baru ia mendapatkan pengalaman yang baru.


"Dita. Sudah jangan menangis lagi. Percaya sama Bunda jika ini semua ada hikmahnya. Bunda berencana ingin membawa mu ke luar negeri dan kita hidup di sana dengan cukup lama. Apakah kau tidak ingin sayang?" tanya Clarissa pada anaknya tersebut.


Clarissa berusaha untuk membujuk Dita. Namun hasilnya malah nihil wanita itu lebih memilih untuk diam dan tak membalas ucapannya sama sekali.


Dita menatap ke atas dengan pandangan yang kosong. Semuanya terasa hampa dan ia sendiri tak mengerti kenapa kehidupan yang rumit menimpa dirinya. Ia ingin lepas dari semua masalah ini.


Dita pun kembali terisak saat terbayang lagi bahwa dirinya tengah hamil anak pisikopat itu. Dita ingin sekali mengugurkan anak tersebut. Tapi ia tak tega untuk melakukan hal itu.


"Aku lelah Bunda," ucap Dita yang akhirnya membuka suaranya.


Clarissa yang mendengar Dita berbicara pun tersenyum lebar. Ia memeluk tubuh Dita dan menangis.


"Dita. Kau akhirnya berbicara. Bunda sangat khawatir kepada mu."


Dita tersenyum tipis. Ternyata banyak orang yang saat ini tengah mengkhawatirkan dirinya. Dita pun sadar jika ia tak boleh larut dalam masalah.


"Bunda maafkan Dita. Semua ini terjadi karena Dita Bunda."


Clarissa menggelengkan kepalanya. Wanita itu sangat bangga kepada Dita yang begitu mencintai hidupnya apa adanya.


"Sayang, semua ini bukan salah mu. Kamu adalah yang terbaik buat kami. Lagi pula tidak ada yang salah jika ada anggota baru di rumah kita. Nanti pasti akan seru," ucap Clarissa sambil membayangkan teriakan-teriakan anak Dita.


Dita pun ikut larut dengan bayang-bayang yang diciptakan oleh Dita. Ia pun tersenyum tipis tatkala mengingat hal itu.


"Tampaknya memang sangat seru jika aku nanti memiliki anak. Dia bisa menghibur ku."


"Benar. Jangan salahkan dia karena dia adalah anak yang sangat berharga dan dia juga tidak tahu apa-apa. Jadi dia adalah anugerah bagi mu dan juga diri ku."


Dita pun menganggukkan kepalanya. Baiklah kali ini benar orang tuanya. Ia pun tak kuasa menahan tangis. Dita begitu bersuka cita sambil mengusap perutnya.


"Sayang maafkan Mama yang sempat ingin menolak kehadiran mu. Akhirnya Mama sadar betapa kau sangat penting dalam hidup ku."

__ADS_1


Clarissa yang melihat interaksi antara Dita dan juga bayinya hanya bisa menagis. Begitu tulus cinta yang ada pada diri Dita dan juga anaknya tersebut.


Dita masih belia dan sebenarnya ia masih belum cocok untuk memiliki anak. Tapi takdir yang berkehendak lain hingga Dita pun tak ada pilihan lain selain ia pun menerima semua itu.


"Sayang. Nanti jangan lupa yah diminum obatnya. Bunda keluar dulu."


Dita menganggukkan kepalanya. Ia pun menghela napas kasar. Wanita itu kembali lagi menangis akan nasibnya yang begitu tragis. Dita yakin ia bisa melewati semua ini.


"Mungkin kau dikirimkan untuk menemani aku nanti."


____________


Abraham tak juga kunjung dapat menemukan keberadaan Dita. Ia benar-benar dalam kondisi yang tengah pusing karena tak juga dapat bertemu dengan Dita.


Padahal ia sangat ingin bertemu dengan wanita itu dan menghibur diri. Rasa rindunya kepada Dita pun kain menggebu-gebu.


Abraham mengungkapkan semua itu dengan meninju tembok yang sangat keras. Ia berteriak keras untuk mengungkap isi hatinya yang benar-benar sangat frustasi.


Abraham pun menyentuh rambutnya dan lalu kemudian menariknya dengan kasar. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk rasa frustasi yang sangat dalam kepada dirinya sendiri.


"Di mana kau. Kenapa aku bisa merindukan mu. Ini pasti bohong. Tidak mungkin aku bisa merindukan orang yang seperti mu," ucap Abraham dan menggerang.


Abraham menghela napas panjang. Ia pun memejamkan matanya sebelum Petrus masuk ke dalam ruangannya.


Abraham pun menoleh k belakang. Ia menatap jika orang itu adalah Petrus.


"Ada apa?"


"Ada yang ingin mencari mu. Kau pasti tidak menyangka," ucap Petrus yang membuat Abraham mengerutkan keningnya.


"Siapa?"


"Kau ingin bertemu dengannya tidak?"


"Jika itu sangat penting. Aku akan menemuinya," ucap Abraham dam lalu mendahului bawahannya tersebut berjalan.


Saat di ruang tunggu ia menatap Simon yang saat ini tengah duduk di sofa dengan kaki yang dilipat. Ia menatap ke samping tepatnya ke arah Abraham.

__ADS_1


"Kau. Kenapa kau ada di sini?"


"Kau kaget?"


"Kau menyerahkan diri ke kandang macan. Nyali mu sangat kuat juga," ucap Abraham dan tersenyum miring di balik topengnya.


Ia pun duduk di depan Simon. Ketegangan antara dua orang itu pun terjadi cukup lama.


"Kau tak akan bisa melakukan itu. Karena aku sudah melakukan sesuatu, jadi kau tak bisa melakukan apapun."


Abraham lupa jika orang di depannya ini adalah Simon.


"Baiklah, sekarang apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin kau berhenti meneror keluarga ku."


"Gampang saja jika kau bisa menyerahkan putri mu."


Simon sudah menebak jika itulah yang diinginkan oleh Abraham.


"Tapi sayangnya aku tak bisa melakukan itu. Dan satu lagi, aku akan melakukan sesuatu kepada kalian jika kau tak ingin menghentikan perbuatan mu."


"Kau pikir aku dapat diperintah seperti itu?" tanya Abraham dengan sangat marah.


"Abraham. Tidak ada yang perlu kau sembunyikan."


Abraham membulatkan matanya. Ia tak menyangka jika Simon dapat menebak dirinya.


Ia pun menghela napas panjang dan membuka topengnya. Simon yang melihat langsung jika Abraham masih hidup sangat terkejut bukan main.


"Benar kau rupanya."


Abraham pun menyunggingkan senyum kemenangan.


________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.


__ADS_2