
Seketika ruangan tersebut menjadi hening setelah Dita mengatakan kabar baik itu. Dita pun meringis dan berharap jika Clarissa dan Simon akan senang mendengar kabar kehamilan dirinya.
Namun sampai sekarang kedua orang tersebut belum juga menunjukkan reaksi apapun terhadap kabar itu. Hal itu membuat Dita merasa tak tenang dan mengalihkan pandangan ke arah Abraham.
Namun Abraham juga tak menunjukkan reaksi apapun sehingga membuat Dita cukup kebingungan dengan situasi ini. Anak perempuan itu berusaha untuk berpikir positif dan yakin jika Clarissa dan Simon tak memarahinya.
Lagi pula apa alasan Simon untuk marah. Sebab pria itu juga telah mengizinkannya untuk tinggal bersama Abraham. Jadi hal semacam ini sudah menjadi konsekuensinya.
"Dita, kenapa kau sampai bisa hamil? Apakah tak menggunakan pengaman? Anak-anak mu masih kecil dan aku sangat takut jika kau tak bisa mengurus anak mu nanti. Apakah kau tak akan merasa lelah mengurus anak mu nanti?"
Dita diam dan belum bisa menjawab pertanyaan dari Clarissa. Jujur saja sebenarnya ia belum siap untuk memiliki anak lagi. Tapi karena Tuhan telah memberikan kepercayaan tersebut kepadanya dan mau tidak mau ia tak bisa menolaknya.
"Sebenarnya aku juga belum siap Bunda, Tapi aku berusaha untuk siap dan menerima anak ini dengan sepenuh hati. Aku tak bisa membayangkan jika anak ku nanti tahu jika ia tidak dinginkan. Aku tak tega melihat wajahnya yang sangat sedih. Mungkin kalian juga akan merasakan hal yang sama."
Calrissa menarik napas dan memandang ke arah suaminya. Seperti ada interaksi yang terjadi di mata mereka saat Simon dan juga Clarissa saling memandang. Jujur saja Dita saat ini tak bisa berhenti bergetar.
Clarissa belum juga memberikan jawaban Apakah ia akan senang mendengar kabar tersebut ataukah tidak. Seolah-olah wanita tersebut telah menunggu reaksi dari suaminya, Simon.
Dita hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan semoga Tuhan dapat membantu dirinya dan membukakan hati kedua orang tuanya agar bisa menerima anak yang sedang dikandung oleh Dita.
"Kau pasti tengah menunggu jawaban dari kami." Dita menegang, sungguh itulah yang ia rasakan. sementara simon memandang ke arah Abraham. pria tersebut memberikan tatapan yang cukup tajam membuat Dita merasa was-was dan tampaknya jika sudah begitu Simon pasti akan mempertimbangkan dirinya setuju atau tidak setuju dengan kehamilan tersebut. "Sebenarnya aku merasa sangat marah mendengar kabar ini karena yang menghamili mu adalah Abraham. Orang yang sangat aku benci, dan aku bahkan tak setuju jika kau bersama dia. Tapi karena sudah tak memiliki jalan lain maka aku pun setuju dengan kehamilan mu. Karena apa yang membuat dirimu bahagia juga turut membuatku akan bahagia."
__ADS_1
Dita yang mendengar ucapan dari sang ayah yang setuju dengan kehamilannya tersebut pun membuat ia tak bisa menahan rasa gembiranya. Hampir saja perempuan tersebut ingin meloncat-loncat tapi ditahan oleh Clarissa.
Karena yang ingin dilakukan Dita bisa saja membahayakan anak yang ada di dalam kandungannya apalagi wanita tersebut sedang hamil muda. Maka resikonya akan sangat tinggi dan Clarissa bersama Simon tak ingin Dita mendapatkan resiko tersebut.
"Kau sudah memiliki dua anak Kenapa tingkahmu masih saja seperti anak remaja. Bahkan kau ingin memiliki anak ketiga. Aku tidak mengerti dengan dirimu Dita. Apakah kau masih juga belum dewasa?"
Dita hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari sang Ibu tersebut.
"Maafkan aku Bunda."
_________
Atas paksaan dari Dita akhirnya Abraham pun menurut untuk tidur di rumah Simon. Lagi pula ia sama sekali tak bisa menolak permintaan dari Dita makanya ia selalu menuruti semua yang diperintahkan oleh Dita dan juga perkataannya.
Saat ini meja makan penuh dengan hidangan yang dibuat oleh Clarissa dan juga Dita, beragam makanan tersaji di sana. Simon dan Abraham sejatinya mereka sudah kewalahan dengan sikap kedua perempuan tersebut. Apalagi sampai memasak terlalu banyak seperti ini. Tapi, tak ada pilihan lain karena yang berkuasa sudah pasti istri.
"Aku tak menyangka jika jodohmu adalah gadis remaja."
"Aku pikir juga begitu, namun dipikir-pikir aku sangat beruntung." Simon mendengus dan merasa tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh Abraham.
Ia tahu maksud pria itu yang ingin menyindir dirinya. Agar tak terpancing dengan ucapan dari Abraham, Simon pun memilih untuk tak merespon pria tersebut.
__ADS_1
Ia memasukkan nasi dan juga lauk pauk ke dalam piringnya. Hal tersebut juga turut dibantu oleh sang istri yang selalu ada untuknya.
Abraham yang melihat hal tersebut sangat iri dan mengode Dita agar melakukan hal yang sama juga kepada dirinya. Namun sangat disayangkan sekali Dita tak ingin melakukan hal romantis dan menganggap jika Abraham hanya merasa iri dan tidak benar-benar mau ingin diperhatikan olehnya.
Laki-laki tersebut pun menghela nafas kecewa. Ia tak protes kepada Dita dan memakan makanannya dengan apa adanya tapi terlihat sangat kesal. Sedangkan Simon bersama Clarissa bertingkah seperti pasangan remaja seakan-akan tengah memanasi Abraham.
Apalagi penolakan dari Dita membuat pasangan tersebut kian gencar untuk memanas-manasi Abraham. Alvarez dan Naomi mereka tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Oma mereka.
Sedangkan Dita hannya fokus makan Walaupun sesekali ia tertawa melihat wajah Abraham yang merah padam dan kesal kepada pasangan Simon dan Clarissa itu.
"Aku baru kali ini melihat Bunda dan juga Ayah begitu mesra. Biasanya kalian akan sangat merahasiakan kemesraan kalian dariku. Entah kenapa hari ini aku merasa ada yang berbeda," sindir Dita kepada Clarissa dan juga Simon. Abraham pikir sindiran tersebut untuk menolong dirinya.
Padahal aslinya, Dita hanya memang ingin menyindir dan bukan karena Abraham.
"Dan kau ingin melihat kemesraan kami, kan? Maka hari ini aku menunjukkannya kepadamu. Bagaimana? Kami cukup mesra, bukan? Kenapa kau dengan Abraham? Apakah sedang bertengkar makanya tidak bisa melakukan mesra-mesraan."
Dita melirik ke arah Abraham. Ia hanya terkekeh dan melanjutkan makan.
"Dia sangat menyebalkan makanya aku tidak mau. Nanti yang ada dia akan besar kepala."
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.