Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 19


__ADS_3

Simon dari tadi terus mondar mandir di dalam kamarnya. Pria itu sangat gelisah dan juga tak bisa duduk dengan tenang. Pun juga begitu dengan Clarissa yang tak ada bedanya dengan Simon.


Tampak dari wajah mereka terpancar kepanikan yang sangat dalam. Mereka pun saling menarik napas panjang dan menatap satu sama lain.


"Sulit dipercaya dengan apa yang aku dengar. Aku masih tidak percaya dan mungkin saja dia adalah orang yang berbeda."


"Tapi bagaimana mungkin dia adalah orang yang berbeda. Kau mengatakan jika diri mu sangat familiar dengannya. Dan itu artinya kau sudah tahu siapa dia."


Simon pun duduk di samping sang istri. Dari tatapan matanya menyiratkan kesedihan yang sangat dalam.


Selain itu ia juga menyimpan rasa bersalah kepada Dita yang sangat dalam. Akibat masa lalu anaknya pun turut menjadi korban.


"Aku tahu jika dia sengaja ingin mengincar diriku. Tapi kenapa harus Dita yang turut menjadi korbannya."


Clarissa menangis keras. Ia pun menghapus air matanya dan menatap ke luar sana.


"Kau pernah mengatakan jika dia sudah mati. Tapi kenapa dia masih hidup. Apakah kau tidak bisa membunuhnya kemarin?" tanya Clarissa.


"Dia mati tepat di depan ku. Lagi pula belum tentu itu adalah dia. Dia tak mungkin masih hidup. Selain itu kematian wanita tersebut juga setelah Kematian dia. Belum tentu ialah yang membunuhnya dan mengawetkan mayatnya."


Antara percaya dan tidak percaya Clarissa pun hanya bisa mendesah panjang. Ia pun menarik nafas panjang dan coba berpikir yang lebih positif. Jika Abraham telah mati tidak mungkin ia hidup kembali.


"Kau benar, bahkan dokter pun mendeteksi jika ia sudah mati. Jadi tidak mungkin itu adalah dia. Mungkin itu adalah orang lain. Dan apa yang dikatakan Dita ita belum juga tentu benar."


Mereka pun saling mengangguk. Benar apa yang dikatakan oleh keduanya. Dan kini mereka fokus untuk mengungkap siapa sebenarnya orang di balik topeng itu. Bahkan ketika Simon telah berhasil menangkap bawahan laki-laki tersebut, ia pun tak bisa mendapatkan informasi mengenai Abraham.


Bahkan yang lebih malang lagi ia kehilangan jejak para bawahan Abraham. Sepalih ada yang sudah mati dan juga ada yang diselamatkan.


Mengingat kebodohan nya itu Simon kembali menggeram.


"Aku terlalu lemah tak bisa melindungi keluarga ku. Seharusnya Dita tak merasakan hal ini. Wanita itu terlalu lugu untuk merasakan pahitnya kehidupan."

__ADS_1


Clarisa mengangguk.


"Kau benar. Dita masih kecil. Dulu dia memang tak berapa mengerti dengan kehidupan karena ia masih kecil. Dan sekarang wanita itu pun harus rela tatkala dirinya mendapatkan masalah hidup. Aku masih tak tega. Dia dari kecil sudah kehilangan kasih sayang."


Simon pun menarik napas panjang dan memeluk tubuh Clarissa.


"Berhentilah berpikir yang aneh-aneh. Dita pasti akan selamat. Dia juga adalah wanita yang sangat tangguh dan pasti dia bisa menerima semua ini. Dan jangan mengenang masa lalu. Meskipun ia kehilangan separuh kasih sayangnya Tapi semua itu kau lengkapi dengan ketulusanmu. Aku selalu mengatakan jika kau adalah orang yang terbaik. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau adalah orang lain."


Clarissa yang menarik nafas dengan panjang. Berada di sisi Simon sedikit dapat mengobati rasa gelisahnya.


"Lagi-lagi kamu menyelamatkanku. Kamu sudah membuat aku mengerti betapa indahnya hidup ini. Kau adalah segalanya."


_________


Dita menyendiri di dalam kamar. Rupanya orang tuanya sudah tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya bahkan pemerkosaan itu.


Oleh sebab itu kemarin Clarissa sengaja menguatkan dirinya. Rupanya mereka sudah dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Kita pun harus menanggung malu. Padahal tak seharusnya ia malu kepada keluarganya. Ia harus mendapatkan dukungan dari mereka agar mentalnya tak terkena.


Selain itu kita sangat resah karena ia sering mengalami sakit perut dan juga beberapa bulan ini ia terlambat datang bulan. Ia tak berani untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Dita ingin menampik semua itu. Tapi rasa-rasanya tidak mungkin. Karena ia sudah terlanjur membuat masalah kepada hidupnya sendiri.


Saat tengah sedang melamun tiba-tiba Dita merasakan mual yang sangat pengaruh-pengaruh perutnya.


Dita langsung ke kamar mandi. Ia pun memetakan segala isi perutnya ke dalam wastafel. Perempuan itu pun menghilang nafas panjang saat melihat cairan kental yang ada di dalam wastafel tersebut.


Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengambil tes kehamilan. Dita sangat ragu untuk melakukan hal tersebut. Namun karena rasa penasaran yang terus mendorongnya membuat keputusan akhir Dita untuk melakukan tes kehamilan.


Ia menunggu dengan sangat deg-degan di dalam toilet. Adakah suatu keajaiban yang bisa menyelamatkan dirinya dari masalah besar.

__ADS_1


Anindita sangat mengharapkan hal itu. Tak lama ia pun membuka matanya untuk memberanikan diri menatap ke arah alat tes kehamilannya.


Apa yang saa ini ia lihat dengan mata kepalanya sendiri justru membuat sakit hati di dadanya yang tak dapat ditampik.


Tanda dua garis merah pada tes pack tersebut sudah menjelaskan kenapa selama ini ia kerap mengalami sakit perut.


Tangis Dita pun pecah karena saking tak sanggupnya ia menahan semua penderitaan yang ia terima.


"Bunda, hik." Kebetulan Clarissa pergi ke kamar Dita.


Tak sengaja ia mendengar suara tangisan Dita yang sangat kencang. Merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada anaknya, lantas Clarissa pun pergi ke toilet.


Ia mengetuk pintu dan Dita yang mendengar suara itu pun hanya membiarkan ibunya tanpa ingin membukakan pintu bagi sang ibu.


Ia sedang ingin sendiri. Pikirannya kacau dan Dita tak dapat berpikir dengan jernih. Sedangkan di luar sana Clarissa tengah kebingungan.


"Dita apa yang terjadi pada mu! Katakan kepada Bunda, jangan kau menyimpannya sendirian!"


Dita tetap tak menjawab. Yang terdengar hanyalah ruangan tangisnya. Clarissa yang sudah sangat panik itu pun lantas mencari suaminya.


Tak lama ia pun kembali lagi ke toilet tersebut sambil membawa sang suami.


"Dita apa yang terjadi pada mu sayang. Katakanlah."


Clarissa dan Simon pun saling pandang. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk mendobrak pintu itu.


Dan percobaan pertama langsung berhasil. Mata Simon dan Clarissa langsung membulat. Mereka tak menyangka melihat tubuh Dita yang terbaring lemah di toilet.


Mata Clarissa pun tak sengaja menatap ke arah tes pack yang ada di tangan Dita. Seketika melihat hal itu hancur harapannya. Ia jatuh lemas dan ikut menangis.


_______

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2