Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 24


__ADS_3

2 bulan kemudian


Tak terasa kehamilan Dita pun telah mencapai kehamilan tua. Sebentar lagi akan melahirkan seorang anak dari rahimnya sendiri. Anak yang malang tapi ia mendapatkan kasih sayang begitu besar dari keluarga Dita dan dirinya sendiri.


Dita begitu mencintai anaknya pun begitu pula dengan orang tuanya. Anindita berharap saat ia melahirkan nanti tidak ada terjadi masalah satu pun.


Ia ingin kelahiran anaknya menjadi kelahiran yang paling dinantikan oleh keluarganya dan juga orang-orang lain. Tetangga tempatnya tinggal pun sangat ramah kepada Anindita. Mereka kerap kali mengunjungi Anindita dan membawakan beberapa bingkisan untuk wanita itu.


Bingkisan yang tak lain adalah kado yang diperuntukkan oleh calon anaknya. Saking tak sabarnya Anindita menunggu kelahiran bayinya tersebut, ya selalu mengusap perutnya dan mengecek apakah ada kontraksi yang terjadi.


Ia pun kadang berpikir Kenapa satu hari terasa sangat lama. Untungnya ada Clarissa yang selalu menenangkan Dita.


"Kamu kenapa bengong Dita. Sebentar lagi Kamu kan akan melahirkan, harusnya banyakin beraktifitas supaya lahirannya nanti lancar."


Anindita menatap ke arah ibunya yang baru saja datang sambil membawa makanan bergizi dan juga susu. Sejujurnya Dita sudah sangat muak dengan makanan tersebut. Iya bosan dan menginginkan makanan yang lain. Tapi ayahnya tidak ingin memberikan makanan apa yang ia inginkan tersebut.


"Ayolah Bunda, Kenapa kau selalu memberikan aku susu? Aku mual Bunda." Mata Clarissa pun kontan membulat besar. Iya tak menyangka dengan jawaban yang diberikan oleh Dita.


"Kamu ya, kamu ini benar-benar keterlaluan. Ini demi kesehatan kamu tahu. Nanti kenapa-napa sama cucunya Bunda gimana?" Bahkan sebelum lahir pun Dita dapat memprediksi jika ibunya lebih menyayangi cucunya ketimbang dirinya sendiri.


Menyadari akan hal tersebut Dita pun mengejutkan bibirnya. Ia ingin marah tapi sayangnya itu adalah anaknya sendiri. Anindita pun menghilang nafas panjang.


"Baiklah, berikan susu itu kepadaku. Aku akan meminumnya."


Clarissa pun sejenak bernapas dengan lega dan menyerahkan susu putih tersebut yang merupakan susu kehamilan itu kepada Dita.


Dita meneguk susu tersebut dengan tandas. Ia berusaha untuk tak mengingat rasanya kembali yang begitu hambar dan juga menggelikan di mulut Dita.


"Bunda, kira-kira kapan ya dia keluar? Dita sudah tidak sabar ingin melihat dia Bunda."


Clarissa pun menyunggingkan senyum lebar. Iya pun memeluk tubuh Dita dan mengusap perut Dita yang telah hamil besar.


"Dita. Paling hanya menghitung hari lagi. Kamu harus mempersiapkan mental dari sekarang. Melahirkan tidak semudah apa yang kamu bayangkan. Ketika kamu hamil saja sudah banyak keluhan. Ingat, jangan pernah berpikir yang aneh-aneh. Kamu harus kuat," ucap Clarissa yang menyemangati Dita. "Intinya bersabarlah dulu. Mungkin beberapa hari lagi kau sudah bisa menyentuh tubuhnya."


Membayangkan akan hal itu pun senyum kita tak bisa sirna dari wajahnya. Ia tak sabar untuk menunggu hari itu.

__ADS_1


"Hm, melahirkan tanpa seorang suami tampaknya sangat sulit ya Bunda. Apakah Bunda seperti itu ketika melahirkan ku?" tanya Dita kepada Clarissa dengan sangat serius.


Clarissa pun berusaha untuk tampil dengan baik. Ia pun melebarkan senyumnya walau di dalam hatinya terdapat kegundahan yang sangat luar biasa.


"Benar sayang." Jika Dita memperhatikan mata Clarissa maka ia akan tahu jawaban yang sesungguhnya.


Dari mata Clarissa terdapat sebuah perasaan yang sangat dalam yang tak dapat ia ungkapkan. Semua itu ia sembunyikan dengan senyuman di wajahnya.


___________


Tak terasa hari yang ditunggu-tunggu Dita pun telah datang. Saat ini ia tengah berteriak kesakitan karena perutnya yang berkontraksi.


Bahkan air ketuban pun sudah pecah dan mengalir di pangkal paha Dita. Dita berteriak dengan kencang, sehingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru.


Sang ibu yang tadinya sangat sibuk di butik lekas pulang ke rumah saat ditelepon oleh pembantu mereka.


Dita dimasukkan ke dalam mobil, lalu kemudian wanita itu langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat.


Anindita dan juga ibunya telah menyiapkan rumah sakit tersebut dan juga fasilitas-fasilitas saat Dita ingin melahirkan.


"Bunda, kenapa Bunda tidak ingin masuk bersamaku?"


"Bundanya menunggu di sini sebentar sayang. Karena ayahmu ingin ke sini dan Bunda menunggu dulu di sini."


Dita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun bisa menerima apa yang diinginkan oleh orang tuanya tersebut.


Iya di dalam ruangan persalinan itu beberapa jam hanya sendirian. Walau terkadang Clarissa beberapa kali masuk untuk mengecek kondisi Dita.


Dita sangat kesal kepada perutnya ini yang tidak juga mengeluarkan bayi. Padahal Ia sudah sangat tersiksa dengan sakitnya perutnya. Tapi belum juga kunjung untuk melahirkan.


Sebelum melahirkan Ia pun melakukan beberapa gerakan yang membuat tubuhnya lebih rileks.


"Bunda Dita sangat lelah. Benar kata Bunda melahirkan tak segampang itu."


Carissa menghela nafas panjang. Gita memang baru mengetahui bagaimana sulitnya melahirkan.

__ADS_1


"Sabar sayang. Memang ini yang harus terjadi pada seorang wanita melahirkan. Oh iya Ayah kamu tadi mau ke sini. Katanya ada masalah di parkiran sebentar lagi dia bakal sampai di sini."


Dita menganggukkan kepalanya. Saat mendengar kabar jika anaknya ingin melahirkan, Simon pun langsung terbang dari New York ke Yunani.


Tapi sangat disayangkan ia tak begitu ketat berjaga. Dan karena itu pula lah saat sampai Simon harus tetap waspada agar ia tak kecolongan oleh salah satu anak buah dari Abraham.


Simon lantas menuju ke ruangan anaknya ketika merasa bahwa tempat itu telah aman.


Ia pun mengontrol detak jantungnya dan membuka pintu. Ketika membuka pintu ia melihat jika sang anak telah siap-siap untuk melahirkan.


"Apakah sudah waktunya?" tanya Simon kepada istrinya.


Istrinya tersebut pun menyunggingkan senyum lebar. Ia berbicara dengan mata yang terarah kepada Dita.


"Iya tampaknya sebentar lagi dia akan melahirkan. Kita tunggu saja calon cucu kita. Keamanan di luar tetap terjaga bukan?"


Simon pun menganggukkan kepalanya meyakinkan sang istri.


"Tak usah khawatir. Aku bisa menjamin jika keamanan di luar cukup baik."


Terdengar deretan Dita yang hendak melahirkan. Ia melahirkan secara normal. Sang dokter pun berusaha untuk mengeluarkan bayi dari tubuh Dita.


Dita kalang kabut dan merasa jika ini adalah di mana ia paling benar-benar bahasa kesakitan dalam hidupnya. Tak pernah terbayangkan jika sakit melahirkan akan seperti ini.


Tapi wanita itu optimis jika ia bisa melewati semua itu. Kita pun menarik nafas yang sangat panjang hingga wanita itu akhirnya telah berhasilkan melahirkan seorang putri cantik yang memiliki mata indah namun sayangnya mirip seperti ayahnya.


"Selamat Dita," ucap Clarissa sambil mengambil bayi merah yang baru saja lahir ke dunia.


"Selamat Buk. Bayinya perempuan."


"Terima kasih."


_______


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.


__ADS_2