Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 23


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya ia datang kembali ke tempat ini. Tempat yang menyimpan kisah kelam yang tak akan pernah hilang sejarahnya di hidup Abraham.


Pria itu menatap dengan pandangan kosong ke arah ruangan tersebut. Ruangan yang dulunya penuh dengan canda dan tawa kini menyisakan kisah yang menyayat hati. Setiap orang yang datang ke sana serempak jika tempat itu benar-benar mengerikan dan tak seperti dahulu.


Hanya ada beberapa orang yang datang ke tempat ini hingga akhirnya mereka menyerah dan tak sanggup lagi untuk mengurus tempat tersebut.


Ia menatap ke arah foto-foto yang terpajang di setiap dinding. Foto wanita yang sangat cantik dan berpenampilan anggun. Setiap melihatnya membuat orang jatuh hati.


Tapi siapa sangka wajah cantiknya justru membawa malapetaka bagi dirinya. Ia tak pernah merasakan cinta yang tulus namun ketika ia telah mendapatkan kasih sayang itu sayangnya ia harus menelan kekecewaan karena dirinya harus mati.


"Sudah tujuh belas tahun lamanya kau berada di tempat ini. Menjadi saksi bisu dengan apa yang terjadi. Kau berhasil membuat ku mengubah dunia penuh dengan darah dan juga jeritan kesakitan. Terima kasih karena mu aku kehilangan jati diri ku. Aku memang menyesal tapi aku tak tak tahu cara meminta maaf kepada mu. Semua ini terjadi karena kebodohan ku. Tapi aku tak bisa menerima semua apa yang terjadi pada diri ku begitu saja. Terima kasih selama ini kau menemaniku." Abraham mengatakan kata-kata tersebut tepat di depan peti jenazah yang memuat seorang wanita cantik dengan pakaian putih yang terbaring tak bernyawa di dalam peti tersebut.


Tak ada yang sanggup mengurus mayatnya selain dirinya. Hingga pada akhirnya ia hampir setiap hari melihat mayat ini dan berkutat dengan masa lalu yang tak akan pernah hilang dalam ingatannya.


Pria itu menghela napas panjang. Ia menatap ke arah rak buku dan juga meja rias. Dulunya tempat itu adalah milik wanita tersebut.


Ia pun berjalan ke arah rak buku dan mengambil salah satu buku harian milik wanita tersebut.


Sudah berulang kali ia khatan membaca buku tebal tersebut. Antara marah dan juga bersalah yang bercampur menjadi satu setiap kali ia selesai membaca buku tersebut.


Abraham membaca kembali buku harian yang memuat kisah kehidupan sang wanita yang ia curahkan setiap hari perasannya di sana.


Abraham jadi mengetahui bagaimana hati wanita itu yang sesungguhnya terhadap dirinya. Dan tanpa diduga sangat di luar ekspektasi Abraham.


"Apa yang kau lakukan kepada ku sangat salah. Aku tahu kau sangat tak sanggup berada di posisi mu. Tapi aku juga tak ingin kau berselingkuh di belakang ku. Ini sangat sakit. Tapi lebih sakit lagi setiap melihat wajah mu dan wajahnya. Apa yang harus aku lakukan? Ditinggalkan olehnya ternyata lebih sakit. Aku tidak mengerti dengan hati ku yang bersikap demikian. Apa yang sedang terjadi pada ku. Aku mohon sadarkan lah aku Alana," ucap Abraham yang tanpa sadar telah menyebut nama wanita itu.

__ADS_1


Padahal dirinya sangat pantang dan sudah berjanji tidak akan menyebut nama wanita itu lagi dalam hidupnya. Tapi hari ini pertahanannya goyah. Ia pun menangis sejadi-jadinya. Ini adalah momen yang jarang dilihat orang.


Di mana Abraham sangat rapuh dengan keadaan yang saat ini menimpa dirinya. Semuanya tampak tak seperti dengan apa yang ia harapkan.


"Kau tahu dia sangat mirip dengan mu Alana. Dia mirip seperti mu. Kenapa aku harus melihat dia lagi? Kenapa aku tidak membunuhnya? Aku tahu aku tidak akan sanggup membunuhnya dan bahkan dendam ku kepada mu turun kepadanya. Aku membenci ini semua, tapi ketika dia pergi aku merindukannya. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada ku?"


Abraham rapuh. Ia tak sekuat seperti yang orang lihat. Pria itu benar-benar tak memiliki jala hidup yang pasti. Saat ini dirinya telah kehilangan arah dan tak dapat kembali.


Kebencian Abraham terhadap Alana pun kian menjadi saat ia melihat bagaimana wajah damai itu yang tetap diam. Padahal saat ini dirinya tengah emosional dan tak bisa terkontrol.


"Apa aku juga harus membunuhnya sama seperti aku membunuh mu? Ya tampaknya memang seperti itu. Aku harus membunuhnya agar hidup ku tak dihantui rasa bersalah dan tenang Kemabli."


Sebuah senyum devil pun muncul di wajah Abraham. Saat ini dirinya tampak seperti seorang iblis yang menjelma menjadi manusia.


Abraham menghapus air mata yang jatuh ke pipinya. Pria itu pun pergi dari tempatnya dan keluar dari ruangan tersebut.


____________


Dita menikmati suasana indah di depan rumahnya bersama sang ayah dan juga ibunya. Ini adalah moment langka yang hanya terjadi beberapa kali.


Simon sengaja melakukan hal tersebut agar Dita tidak terlalu setres dengan apa yang saat ini telah terjadi padanya.


Memang benar Dita sangat bahagia. Ia seperti anak kecil tapi padahal aslinya dirinya sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.


"Bunda. Jangan tarik aku, aku sudah lelah," ucap Dita yang menyerah.

__ADS_1


Simon menghampiri anaknya dan memeluk tubuh anak itu. Ia tak bisa memeluk tubuh Dita dengan erat karena terhalang oleh perut Dita yang kian hari terus membesar.


"Perut mu sudah semakin besar. Sekita dua bulan lagi tampaknya kau akan melahirkan dan aku akan menjadi seorang cucu."


Clarissa pun menatap ke arah perut Dita. Ia turut tersenyum melihat perut Dita yang sangat lebar.


"Aku aka menjadi seorang nenek. Huh, rasanya aku baru kemarin menggendong mu saat kecil dan sebentar lagi aku akan menggendong seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu ku sendiri. Kenyataan macam apa ini."


Dita tertawa mendengar celotehan sang ibu. Ia pun merangkul pundak ibunya tersebut.


"Dita juga merasa seperti itu. Baru saja Dita kemarin belajar berjalan dan saat ini Dita telah besar. Dita rasa, bukan Dita yang semakin besar tapi menang Dita yang tengah hamil masih muda. Semoga saja Dede bayi baik-baik saja."


Clarissa pun mengusap perut Dita dan tersenyum lebar.


"Sayang. Kamu harus menjadi anak yang baik. Ibu mu adalah orang yang hebat. Kau juga harus menjadi anak yang hebat."


Simon pun memeluk tubuh Dita dengan erat.


"Maafkan Ayah. Semua ini karena ayah yang tidak bisa mengendalikan musuh-musuh ayah hingga kamu menjadi salah satu korbannya."


"Sudahlah. Memang itu konsekuensinya," ucap Dita yang mulai mengikhlaskan dengan apa yang terjadi padanya.


________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2