Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 54


__ADS_3

Setelah beberapa hari menginap di rumah sang ibu, akhirnya mereka semua pulang ke rumah sendiri. Abraham pun sebenarnya merasa risih tinggal di rumah Clarissa dan Simon, sebab ia tak bisa dengan leluasa untuk bermesraan dengan Dita. Maka dari itu beberapa kali ia membujuk Dita untuk pulang ke rumah sendiri.


Setiap kali ingin melakukan hal yang romantis dengan Dita selalu saja ada Simon dan juga Clarissa yang akan mengejek dirinya. Maka dari itu, Abraham sangat merasa dendam kepada dua orang itu yang sialnya perang menajdi sahabatnya dan sebentar lagi akan menjadi orang tuanya, Abraham sangat berharap mereka tak lagi menganggu hubungannya bahkan sampai mengejek dirinya.


"Aku harap tak bertemu dengan sosok menyebalkan seperti orang tua mu itu. Kenapa nasib sial selalu menyertai ku."


Untuk saat ini itulah yang selalu dibahas oleh Abraham. Dita saja sampai tak mengerti kenapa Abraham selalu membahas hal tersebut. Sebegitu marahnya kah Abraham kepada orang tuanya?


"Kenapa kau selalu saja marah? Apakah kau tidak tahu jika mereka adalah orang tuaku. Selain itu mereka juga adalah teman baikmu sendiri."


Mendengar isi kalimat yang terlontar dari mulut Dita sontak membuat Abraham dengan cepat menatap ke arah Dita. Ia sungguh tidak rela dianggap teman baik oleh Clarissa dan Simon. Sebab mereka selalu saja bertengkar dan hubungan mereka masih bisa dianggap canggung atau masih dalam keadaan retak.


"Aku tidak Sudi disebut teman baiknya. Tidak ada teman baik yang mengkhianati sahabatnya sendiri."


Dita menghela nafas panjang dan menatap Abraham dengan pandangan lelah. Pasti Abraham akan mengungkit masa lalu pria itu.


"Sudahlah. Lupakan saja masa lalu dan jangan selalu kau ungkit. Masa lalu adalah masa lalu dan masa depan adalah masa yang akan datang. Jadi kita harus memikirkan masa depan bukan masa lalu mu itu."


Abraham mendengus kasar. Lagi-lagi ia yang disalahkan. Namun karena tidak ingin memperkeruh suasana, Abraham memutuskan untuk mengalah.


Ia selalu saja berada di posisi mengalah. Abraham juga kadang ingin menang namun apa daya sebab orang yang dihadapinya adalah Dita, yaitu orang yang sangat dicintai olehnya.


"Kau selalu benar Dita. Baiklah untuk kali ini aku mengalah bahkan mungkin bukan kali ini aku selalu mengalah, tapi setiap kali aku bertengkar denganmu selalu saja aku yang mengalah."


Dita memandang Abraham dengan sindiran. Ia pikir memang sudah sepantasnya Abraham melakukan hal tersebut. Karena Abraham adalah seorang pria dan Dita adalah seorang wanita yang pada hakikatnya selalu benar.


"Memang itu yang harus kau lakukan. Jika kau ingin menjadi pria yang sejati maka selama aku benar kau harus mengalah."

__ADS_1


"Hem."


Abraham pun lama-lama merasa gemas dengan pasangannya ini. Ia memeluk tubuh Dita dengan cukup erat dan mengacu pipi wanita itu bertubi-tubi. Hingga membuat sebuah jeritan dari Dita yang cukup nyaring dan terdengar di telinga Abraham.


Abraham sampai menutup telinganya dan melepaskan Dita saking kuatnya jeritan perempuan itu.


Abraham menggosok telinganya dan menarik napas cukup panjang. Kenapa bisa jeritan Dita begitu kuat sehingga hampir saja membuat telinganya ingin meledak.


"Kau selalu saja tidak bisa mengontrol jeritan mu itu. Bagaimana jika misalnya ada orang yang mendengarnya. Mungkin mereka berpikir jika aku telah menyakitimu. Apalagi anak-anak, mereka bisa saja bangun mendengar suaramu itu."


Dita menatap Abraham dengan cukup tajam. Berani sekali Abraham menyalahkan dirinya padahal karena pria itulah ia menjerit cukup keras dan tak terkontrol lagi.


"Kau menyalahkan aku tanpa tahu siapa yang membuatku seperti itu. Seharusnya akulah yang menyalahkan dirimu, karena gara-gara kau aku sampai menjerit," ucap Dita kesal dan lalu kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia sama sekali tak ingin memandang wajah Abraham yang sangat menyebalkan.


Abraham menaruh tangannya di atas perut Dita. Lalu kemudian ia pun mengusap perut tersebut dengan perasaan yang hangat dan penuh kasih sayang. Ia ingin merasakan anaknya yang ada di dalam sana, padahal sang anak masihlah berbentuk sebuah gumpalan darah.


"Aku harap kau tidak akan mengikuti sifat ibu mu itu. Bisa-bisa aku akan gila dan akan kembali ke kebiasaan lama ku," ucap Abraham kepada dirinya sendiri dan menarik napas cukup panjang. Menghadapi Dita dengan mood swing nya yang begitu buruk membuat Abraham harus menguatkan kesabarannya.


"Aku rasa aku tidak setuju dengan hal itu."


Abraham menelan ludahnya dan menatap Dita dengan pandangan yang memelas.


"Kau selalu saja begitu."


_________


Dita pun membuka matanya dan terkejut saat pertama kali yang ia lihat adalah Abraham yang berlutut di depannya sambil membawa cincin.

__ADS_1


Dita terdiam dan mencerna situasi yang tengah ia hadapi ini. Ia tak menyangka jika Abraham akan melamarnya sekrang dan begitu cepat.


"Will You marry me?"


"Kau mengatakan jika akan melamar ku di depan orang tua ku."


"Aku akan melamar mu dua kali ini. Ini adalah lamaran private yang mana hanya ada kita berdua."


Dita menarik napas cukup panjang dan berusaha untuk menahan tangis. Karena ini adalah salah satu momen yang cukup mengharukan bagi dirinya. Ia tak pernah berpikir jika Abraham akan begitu sweet seperti ini di depannya.


Bahkan sempat terpikirkan oleh Dita jika Abraham adalah sosok yang paling dingin dan sangat menakutkan. Hari ini Abraham berdiri di depannya membuktikan jika pria itu adalah pria yang mampu memberikan kepercayaan kepada Dita dan tak seperti yang Dita pikirkan.


"Terima kasih untuk semuanya yang telah kau berikan. Aku sangat bahagia dengan ini, dan jawaban ku, sudah pasti adalah Ya."


Abraham tersenyum lebar dan memasangkan cincin tersebut ke jari manis Dita. Lalu kemudian ia menyempatkan untuk mengecup perut Dita.


"Aku bahagia dengan keputusan yang diberikan oleh Ibu mu."


Lalu kemudian ia pun berdiri dan memeluk tubuh Dita dengan sangat erat. Saking bahagianya Abraham sampai mengangkat tubuh Dita dan memutarkannya dengan cukup kencang.


"Terima kasih atas jawaban mu. Walaupun aku sudah tahu dengan jawaban mu, tapi tetap saja aku merasa sangat bahagia dengan kau menerimanya."


"Sudah pasti aku akan menerima lamaran mu. Terlebih sebentar lagi kita akan memiliki anak ketiga, masa aku ingin menolak lamaran dari ayah bayi ku ini."


Abraham terkekeh dan mengecupi pipi Dita berkali-kali.


______

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2