Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 18


__ADS_3

Abraham harus menerima sebuah maslah besar di mana setelah ia mengalahkan Simon kemarin barulah ia menyadari jika Simon benar-benar gencar memburu dirinya.


Tampaknya pria itu ingin melakukan sesuatu kepadanya dan ingin membunuh dirinya. Ia tahu jika dirinya juga bila diposisi Simon akan melakukan hal yang sama. Hanya saja Abraham tak menyangka jika Simon akan sekuat ini.


Ia terlalu meremehkan Simon karena menganggap jika pria itu tak sekuat dulu. Dan rupanya Simon tak ada ubahnya dengan yang dulu yang selalu bisa mengalahkan dirinya.


Tapi, bagi seorang Abraham masa lalu tak ingin terulang lagi. Ia optimis bisa mengalahkan Simon bagaimana pun caranya.


"Sialan Simon. Biasa-biasanya dia menjebak semua anak buah ku. Tidak akan aku biarkan dia hidup dengan tenang. Keselamatannya akan terancam," ucap Abraham dengan nada yang sangat marah.


"Kau benar, aku juga tak menyangka jika dia bisa menjebak semua anak buah kita."


Abraham pun menarik napas panjang dan melihat ke arah tangan kanannya tersebut. Dari tatapan matanya ia seolah ingin Simon melakukan sesuatu.


"Aku ingin kau membunuh orang-orang yang telah ditangkap oleh Simon. Aku tak ingin banyak membocorkan rahasia ku."


"Baik Tuan." Petrus pun pergi untuk melaksanakan perintah yang ditugaskan oleh Abraham.


"Aku juga ingin kau membawa wanita yang sama seperti kemarin. Aku tidak sabar ingin membunuh."


Sisi gelap Abraham kembali muncul jika dirinya tengah dikuasai oleh amarah yang sangat kelam.


Pria itu bahkan mengambil semua alat membunuhnya dan akan pergi ke kota untuk mencari mangsa.


Kali ini ia akan membunuh siapa saja yang ia temui. Tak peduli mirip tidak dengan orang di masa lalu. Yang penting hasrat membunuhnya tertuntaskan.


"Kau mengatakan jika aku yang harus mencari mangsa. Kenap kau ingin pergi ke kota?" tanya Petrus heran.


Abraham pun mengeluarkan cerutu dari celana nya dan menghisap rokok yang sudah dibakar tersebut dengan sangat dalam.


"Aku ingin mencari mangsa sendiri. Kau juga tetap harus membawakan ku mangsa."


"Baik Tuan."


Abraham pun menarik napas panjang dan pergi ke halaman rumah. Rumah ini masih aman dan belum terdeteksi oleh aparat mana pun. Kecuali jika Dita melaporkan rumah ini.


Tapi entah kenapa ia sangat yakin jika Dita tidak akan melaporkannya. Meksipun benar Dita melaporkannya maka Abraham tak segan-segan memburu wanita itu.


Ia pun menarik napas panjang dan lalu kemudian tak lama memendam kesal di dada ia pun tak sadar jika sudah berada di kota.


Segera Abraham turun dengan pakaian biasa dan tampak seperti seorang pakir miskin. Tapi meski begitu tetap saja ada benda tajam yang ia sembunyikan. Dan benda itu dan diketahui oleh siapapun selain dirinya.

__ADS_1


Abraham kemudian melihat para mangsanya dan menatap mereka seorang tengah menimbang yang mana paling bagus untuk ia bunuh dan dagingnya paling lezat.


Ia melihat ada wanita cantik dan juga sangat seksi. Ia pun menargetkan jika wanita itu lah yang nanti akan dimangsa nya.


Untuk mendapatkan wanita itu, Abraham harus menggunakan pakaian yang gagah dan berwibawa untuk menggaet wanita tersebut.


Ia pun berdecak malas karena harus berganti pakaian lagi agar bisa mendapatkan mangsanya.


Ia pergi ke mobil dan berganti dengan baju jas. Lalu ia pun menghampiri wanita itu dan membunyikan klakson si wnaita.


Hingga si wnaita tersebut menatap ke arah Abraham. Ia tersenyum tipis saat melihat Abraham.


Abraham pun sangat puas dengan apa yang ia dapatkan ini.


"Baby, apakah kau ingin bersama ku malam ini?" tanya Abraham dengan nada yang sangat menggoda.


Wanita itu pun menatap ke arah Abraham dari atas hingga bawah dan pada akhirnya ia pun yakin untuk ikut dengan Abraham tanpa tahu apa yang sebenernya nanti terjadi kepada dirinya.


__________


Abraham menatap tubuh wanita itu yang telah terpenggal dua. Perempuan tersebut baru saja mati karena diikat oleh tali yang terus melilit tubuhnya hingga terputus.


Abraham melihat bagaimana wanita itu pun tersenyum bangga. Ini yang sangat ia sukai.


Melihat betapa rapuhnya mangsanya ini membuat Abraham tertawa sangat gelak. Tawa yang mematikan bukan tawa lucu.


Kemudian pria itu pun menarik napas panjang dan meminum darah yang ada pada wanita itu.


Ia sangat menikmati hidangannya.


_________


Dita merasa tak nyaman akhir-akhir ini. Ia sering sakit-sakitan. Dan wanita itu mengira mungkin ini adalah efek dari semua yang ia rasakan pada saat di rumah Abraham.


Berbicara mengenai Abraham, Dita pun sangat penasaran ke mana pria itu berada sekarang. Apakah ia akan mencari Dita atau membiarkan Dita pergi?


Dita pun menghela napas panjang. Kenapa ia bisa kepikiran tentang Abraham. Harusnya ia tak peduli dengan pria itu.


Tak lama ia melihat jika ayahnya pulang dari kantor. Dita langsung tersenyum lebar dan lalu kemudian ia pun beralih ke arah sang ayah dan memeluk tubuh ayahnya.


"Papa, Dita merindukan Papa," ucap Dita kepada pria tersebut.

__ADS_1


"Oh sayang, kamu merindukan Papa? Baiklah sini peluk kesayangan Papa," ucap Simon dan lalu kemudian memeluk tubuh Dita.


"Papa dari mana saja? Kenapa Papa sangat lama?" tanya Dita.


"Akhir-akhir ini banyak sekali masalah, aku harus menyelesaikannya."


Dita pun mengangguk paham dan lalu melepaskan pelukannya pada sang ayah. Ia menatap ayahnya itu dengan seksama.


"Ayah duduk dulu."


Tak lama Clarissa pun datang. Ia menghampiri Dita dan suaminya dan ikut duduk di situ.


"Eh Ayah sudah pulang. Kenapa kau datang terlambat lagi?"


"Seperti biasa. Sangat banyak masalah yang harus aku tangani."


"Memangnya masalah apa Yah?"


"Kau tak perlu tahu. Ini adalah masalah orang tua."


Dengan polosnya Dita pun mengangguk dan tak banyak berbicara. Ayah dan ibunya saling bercengkrama dan hal itu membuat sedih di wajah Dita. Apakah ia akan menceritakan semua yang terjadi di b saja?


"Bunda, Ayah, ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian."


Simon pun mengerutkan keningnya.


"Tentang apa sayang?"


"Tenang yang terjadi sebenernya di hutan kemarin."


Clarisa dan juga Simon saling tatap. Mereka tak percaya jika anaknya akan secepat ini mengatakannya.


"Memangnya apa yang terjadi?"


"Di sana Dita bertemu dengan seorang psikopat. Dia telah membuat Dita ingin mati, tapi dia tak pernah membunuh Dita dan malah menyiksa Dita. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Yang pasti dia mengatakan jika kesalahan Dita adalah lahir ke dunia. Di sana Dita juga melihat mayat yang sangat mirip dengan Dita."


Mata Simon dan juga Clarissa membulat sempurna. Bahkan bola mata itu saking kagetnya ingin keluar dari tempatnya.


___________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN MEMBERIKAN KOMENTAR.


__ADS_2