
Setelah mendapatkan informasi yang valid, Petrus less menemui Abraham. Begitu banyak hal yang janggal yang harus ia diskusikan dengan Abraham.
Pria itu malam-malam mendatangi Abraham yang masih dalam keadaan sedang beristirahat. Pria itu terpaksa untuk menemui bawahannya agar ia bisa mendapatkan informasi mengenai Dita.
Mereka bertemu di ruangan Abraham dan lalu ia diberikan sebuah map oleh Petrus yang berisi beberapa catatan mengenai Dita.
Ia pun membaca lengkapnya dan sudah terdeteksi di mana wanita itu tinggal ketika di Yunani. Kenapa ia dulu sangat bodoh dan tak bisa mengetahui di mana Dita padahal rupanya tak jauh dari kota yang ia tinggali selama di Yunani.
Abraham pun menghela napas panjang dan mulai berpikir jika itu hanyalah kesalahan dan kali ini ia tak boleh melakukan kesalahan yang sama. Ia pasti bisa membawa Dita.
Lalu ia pun mengambil beberapa foto yang dipotret oleh Petrus. Ia memperhatikan seorang wanita yang tengah berdiri di samping mobil.
Seketika keningnya berkerut ketika melihat wanita itu. Apakah mungkin dia adalah Dita? Tapi dari perawakannya tak terlihat seperti Dita beberapa tahun yang lalu.
Wanita ini lebih terlihat dewasa dan juga bisa dikatakan ia sangat cantik dengan tubuh yang sangat seksi. Tapi bagaimana pun perubahan Dita tetap akan diketahui oleh Abraham.
"Dia benar-benar Dita. Aku tak menyangka jika wanita itu masih ada di New York." Senyum mematikan pun terbit di wajah Abraham.
Entah kenapa ia sangat yakin jika Dita akan ia dapatkan kembali bagaimana pun caranya. Abraham pun menghela napas panjang dan memejamkan matanya. Ia meremas foto itu karena jantungnya berdesir setelah sekian lama tak lagi melihat Dita di hidupnya.
"Dia benar-benar Dita. Aku sangat merindukannya. Aku menyesal karena tak membunuhnya hingga aku lagi-lagi terjebak di lingkaran dosa yang sangat dalam yaitu memendam cinta kepada wanita itu. Padahal tak seharusnya apalagi Alana akan marah kepadaku. Tapi apa peduli ku kepada Alana? Alana sudah membenci ku dan aku pun sama."
Abraham pun mendongak dan menatap ke atas dengan pandangan kosong.
Sementara itu Petrus yang melihat tuannya tampak gusar hanya hisa menunduk pasrah. Jauh di dalam lubuk hatinya tak ingin jika Abraham terjerat ke lingkaran percintaan.
Benar apa yang dikatakan oleh Abraham seharusnya ia membunuh wanita itu dengan cepat.
"Aku harap kau mendapatkan yang terbaik setelah ini."
__ADS_1
Abraham pun mengangguk dan tak tahu anggukan itu untuk apa. Entahlah ia terlalu frustasi dengan jalan hidupnya yang sama sekali tak hisa ditebak oleh laki-laki itu.
Ia pun kembali menatap ke arah map dan membuka lembaran map baru. Senyumnya ingin luntur saat ia melihat jika ada seorang anak yang kemarin ia temukan.
Abraham terkejut dan mencoba untuk mengambil foto anak-anak tersebut. Ia memperhatikan dengan wajah yang sangat syok.
Pria itu mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Petrus untuk meminta kejelasan dari prao tersebut.
"Siapa dia?"
"Aku belum bisa memastikannya. Tapi tampaknya dia adalah anak tuan. Tapi belum juga tentu itu benar bisa saja anak orang lain." Abraham terkejut bukan main dan memperhatikan dua anak itu.
Jika dia adalah anak Dita dan dirinya itu artinya anak tersebut kembar karena ada dua orang di sana. Jika anak tersebut hanya satu yang itu artinya Dita memiliki anak dari orang lain.
Tapi bisa saja keudanya tersebut juga bukan anaknya.
________
Ia yakin mereka pasti akan mendengarkan dirinya. Dita pun membuka kamar sang ibu dan mendapatkan jika orang tuanya saat ini tengah bercumbu.
Dita terkejut dan langsung menutup pintu. Ia menyentuh dua pipinya dengan perasaan bersalah kepada mereka.
"Kenapa kau sangat tolol. Dita apa yang sudah kau lakukan," ucap wanita itu sambil menepuk pipinya.
Ia pun menarik napas panjang dan memejamkan matanya. Tangannya terkepal dan lalu kemudian ingin pergi. Tapi, orang tuanya membuka pintu.
"Kenapa Dita?" tanya sang ayah.
Dita pun merasa kikuk dengan ayahnya itu. Ia menggaruk kepalanya dengan perasaan aneh. Karena merasa canggung ketik ia telah mempergoki keduanya.
__ADS_1
Pun begitu juga dengan Simon dan Clarissa yang memerah malu karena telah terpergok oleh anak sendiri. Terutama Calrissa yang bersembunyi di balik punggung sang ayah.
Entahlah apa yang ada di pikiran Dita tadi. Ia terlalu panik sehingga tak bisa berpikir jernih dan juga tanpa sengaja membuka pintu kamar orang tuanya dan melihat apa yang seharusnya tak ia lihat.
"Maafkan aku."
"Tidak masalah. Tapi kau tampak sangat panik, apa yang sebenernya terjadi pada mu?" tanya Simon kepada anaknya itu.
Dita pun meneguk ludah dengan susah payah. Wanita itu berusaha untuk semaksimal mungkin dan menyampingkan rasa malunya.
"Aku tadi merasa seperti sedang diawasi oleh seseorang. Entah kenapa firasat ku mengatakan jika ada yang aneh dengan semua ini."
Simon memandang Calrissa. Rupanya hal itu juga disadari oleh Dita.
"Kau harus berhati-hati. Abraham sepertinya ada di sini dan juga tahu jika kau ada di sini. Sekarang ia tengah mengincar keberadaan mu. Apakah kau ingin bersama pria itu lagi?"
Mendengar hal tersebut tentu saja Dita menggeleng keras. Sampai kapan pun ia tak akan mau bersama pisikopat tersebut.
"Tentu saja tidak. Aku tidak akan mau dengannya," ucap Dita dengan wajah marah.
Calrissa menatap sendu ke arah sang anak. Tapi sayangnya sepertinya semua sudah terlambat. Calrissa berharap tak akan terjadi sesuatu meksipun tak bisa juga menjanjikan cepat atau lambat Dita akan dibawa oleh Abraham.
"Tampaknya kita sudah terlambat. Dari pengamatan ku sepertinya Abraham sudah mengetahui apa yang sebenernya terjadi pada diri mu. Ia tahu jika kau tinggal di Yunani dan tempatnya juga sudah ia dapatkan. Tak menutup kemungkinan dia juga tahu bahwa kau melahirkan anaknya. Tampaknya dia terobsesi kepada mu."
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1