Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 51


__ADS_3

Dita menarik napas panjang dan menatap ke depan dengan pandangan yang sangat kosong. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak pada tubuhnya, sementara itu di rumah hanya ada ia sendiri.


Naomi dan juga Alvarez sedang keluar rumah karena mereka pagi tadi meminta kepada ayahnya untuk bermain bersama di taman bermain, anak-anak itu hanya tahu bermain. Dita pun terpaksa meminta agar Abraham menuruti apa yang mereka inginkan, sebab itu saja yang terus mereka mau, dan membuat Dita merasa pusing dan meminta agar Abraham membawa mereka ke tempat tersebut. Barang kali setelah itu mereka tak lagi merengek.


Dita sudah merasa stress mengurus anak-anaknya pada saat mereka dulu kecil. Dan sekarang Abraham yang harus mengurus mereka supaya pria itu bisa merasakan bagaimana perjuangan mengurus Naomi dan Alvarez.


Tidak ada hal yang sangat mudah Dita lalui di masa lalunya. Begitu banyak hal yang telah terjadi membuat Dita merasa jika ia telah melewati pahitnya kehidupan.


"Kenapa mereka belum juga pulang? Apa yang sebenarnya telah mereka lakukan sampai selama ini? Jangan katakan jika mereka tidak ingin pulang." Dita menghembuskan napas gusar.


Lantas ia memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan melihat apakah mereka sudah pada pulang apa belum. Anak-anak itu begitu merepotkan dan Dita sampai kewalahan memikirkan mereka.


Meskipun begitu Ia tetap menyayangi Naomi dan Alvarez sepenuh hatinya. Dita hanya merasakan lelah mengurus mereka akhir-akhir ini saja. Ia juga tak mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi pada dirinya.


Mungkin ada yang salah pada dirinya dan Dita pikir ia harus mencari tahu segera. Ia takut jika dibiarkan hal ini akan menjadi masalah psikologi untuknya.


Lagi-lagi Dita merasa jika perutnya seperti tengah diaduk. Begitu menyakitkan membuat Dita tak dapat melakukan apapun.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa akhir-akhir ini mood ku sangat buruk dan gampang berubah. Aku juga sering mengalami sakit." Dita mencoba berpikir penyakit apa saja yang pernah ia derita. Barangkali karena penyakit tersebut itulah kambuh hingga membuat ia akhir-akhir ini merasa berbeda.


Tapi setelah dipikirkan dengan cukup teliti Dita malah menemukan sesuatu yang baru. Di mana dia sangat yakin dengan dugaannya tersebut, yaitu bisa saja ia tengah hamil. Itulah yang terlintas di pikiran Dita tadi.


Tidak ada yang tidak mungkin dan Dita yakin Jika ia telah melakukan hubungan beberapa kali dengan Abraham tanpa pengaman. Dan bisa saja dari salah satu mereka ada yang berhasil membuahi sel telur nya.


"Dasar pria itu, bisa-bisanya ia tanpa pengaman tanpa memikirkan bagaimana nasibku nanti. Aku bahkan belum siap untuk memiliki anak lagi. Karena Naomi dan Alvarez belum begitu besar."


Dita pun menghela napas panjang dan mencoba untuk menghubungi Abraham untuk membelikan nya alat tes kehamilan.

__ADS_1


Sementara itu Abraham yang di seberang sana membaca chat dari Dita sangat terkejut. Ia tak menyangka jika Dita akan hamil lagi. Tapi tak apa karena hal itu adalah merupakan kabar baik bagi dirinya dan ia tak sabar menantikan kehadiran bayinya.


Sebab Abraham ingin merasakan bagaimana mengurus bayi, karena dulu ia tak diberikan Tuhan kesempatan untuk mengurus kedua anaknya di saat mereka masih kecil.


Semoga saja kali ini ia dapat meringankan beban Dita. Abraham ingin menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.


Laki-laki tersebut sangat tak sabaran untuk mengajak anak-anaknya pulang. Walaupun Naomi dan Alvarez sempat memprotes pada akhirnya mereka dapat ditenangkan oleh Abraham.


Dita di rumah menunggu kepulangan Abraham dengan sangat was-was. Ia takut jika Abraham tak akan menyukai kehamilannya kali ini.


"Aku harap dapat membahagiakan mu dengan ini. Tapi, jika kau tak bisa menerimanya maafkan aku juga tak mudah untuk menerimanya."


Itulah yang ada di pikiran Dita saat ini. Tampaknya terdengar kejam Tapi aslinya Ia pun merasa sangat tidak tega.


________


Ia harap ada kabar baik yang akan diterima olehnya. Maka dari itu Abraham dari tadi terlihat tak sabar untuk memberikan tespek tersebut kepada Dita.


Ia bahkan sampai melupakan kedua anaknya yang masih tertinggal di belakang. Pria itu lari begitu saja dan lekas menuju ke dalam kamar.


Sesampainya di depan kamar, lalu kemudian membuka kamarnya dan melihat Dita yang tengah tertidur. Sebenarnya Abraham sangat tidak tega untuk membangunkan Dita. Tapi Ia juga tak sabaran untuk mengetes Apakah Dita telah hamil atau tidak.


"Dita," panggil Abraham kepada wanita tersebut dengan perasaan sedikit bersalah. Dan pada akhirnya Dita pun terbangun. Wanita itu sempat merasa bingung sampai akhirnya ia pun teringat jika dirinya ingin mengecek apakah iya sedang hamil atau tidak.


"Apakah kau telah membelikannya untukku?" tanya wanita tersebut sambil mengumpulkan nyawa.


"Iya ini yang kau minta." Abraham menyerahkan alat tes kehamilan tersebut.

__ADS_1


Dita pun dengan cepat mengambil alat tersebut dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengecek keadaan dirinya. Abraham di luar sana menunggu dengan sangat was-was. Dadanya tak berhenti berdetak bahkan tingkat degupan jantungnya sangat laju.


Dan ketika mendengar suara pintu yang dibuka makin lagi membuat Abraham tak bisa berpikir dengan jernih. Tubuhnya merasa dingin karena belum siap mendengar apa hasil dari alat tes kehamilan tersebut. Ia tak ingin terlalu berharap dan dikecewakan nantinya.


"Bagaimana hasilnya?" Abraham dengan cepat bertanya karena ia sudah tak sabar ingin mendengar hasilnya.


Dita menarik nafas panjang lalu menyerahkan alat tes kehamilan tersebut kepada Abraham dengan tangannya yang bergetar. Melihat respon tubuh Dita yang ditunjukkan kepadanya membuat Abraham merasa sangat gugup.


Pria itu secara perlahan mengulurkan tangannya lalu mengambil alat tes kehamilan tersebut. Kemudian ia menatap ke arah alat tersebut dan tersenyum lebar. Rupanya garis yang ditunjukkan pada tes kehamilan itu adalah garis 2. Yang mana itu artinya Dita tengah hamil.


Saking bahagianya Abraham pun langsung berteriak girang dan melompat-lompat. Dita yang pertama kali melihat Abraham seperti itu tercengang.


Wanita tersebut cukup syok tapi ia juga merasa sangat bahagia melihat respon Abraham yang begitu senang.


"Apakah kau bahagia?"


"Tentu saja aku merasa bahagia dengan semua ini," ucap Abraham dan lalu kemudian memeluk tubuh Dita dengan sangat erat.


Melihat keantusiasan Abraham yang begitu besar membuat Dita tak bisa menahan tangisnya.


"Terima kasih untuk semuanya. Aku sangat bahagia kau dapat menerima kehamilan ini."


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2