
Dita pun sudah mulai bisa menerima Abraham serta masa lalunya. Atas permintaan dari Dita, Abraham pun memutuskan untuk mengubur Alana.
Hal itu sangat ia ikhlaskan karena itu adalah permintaan dari Dita langsung yang merupakan anak Alana. Ia akan melakukan apapun demi Alana dan kebahagiaan anak Alana.
"Aku tak menyangka akan jatuh cinta kepada mu yang merupakan anak Alana. Seperti Alana tak ingin aku dan dia jauh. Aku bersama mu sama saja seperti aku hidup dengan Alana."
Dita ingin protes dengan apa yang diucapkan oleh Abraham karena hal itu sangat menyinggung perasaannya. Alana dan Dita adalah dua orang yang berbeda dan tentunya tak dapa disamakan, dan dengan mudahnya Abraham malah menyamakan dirinya dengan Alana.
"Aku adalah Dita bukan ibu ku. Aku dan ibu ku tidak sama. Jangan menyakiti hati ku dan juga ibu ku karena ucapan mu." Abraham pun diam setelah ditegur oleh Dita.
Ia pun menarik napas panjang dan lalu kemudian memejamkan matanya dan membiarkan air mata mengalir di pipinya.
"Mama! Aku harap kau tenang di sana. Tak ada lagi rasa sakit yang akan kau terima karena di sana kau hanya akan mendapatkan kebahagiaan," ucap Dita sambil mengusap batu nisan Alana.
Abraham menatap Dita dengan pandangan sendu. Ia jujur merindukan Alana dan Alana terdapat pada diri Dita. Tapi seperti yang Dita katakan jika dirinya dan Alana adalah dua orang yang berbeda. Jadi Abraham tak bisa memuaskan jika Dita adalah Alana.
Alana merupakan seorang ibu dan Dita adalah merupakan anaknya. Jadi dari mana letak kesamaannya.
"Dan semoga kau bisa memaafkan semua kesalahan ku," ucap Abraham juga turut mengusap batu nisan Alana.
Ia merasa sangat bersalah dengan semua yang terjadi pada hidup Alana. Ini semua karena keegoisannya yang harus membunuh Alana padahal ia tahu jika Alana sama sekali tidak bersalah.
"Alana. Dia adalah wanita yang hebat. Bahkan dia berani untuk melahirkan seorang anak di saat umurnya baru saja beranjak 18 tahun. Bayangkan bagaimana Alana memperjuangkan dirimu hadir ke dunia ini." Dita yang baru saja mendengar pengakuan dari Abraham sedikit terkejut.
Ia baru tahu jika Alana melahirkan dirinya di umurnya yang baru saja menginjak 18 tahun. Jika itu artinya ibunya masih sangat muda.
"Bagaimana bisa?"
"Aku, Simon, Clarissa dan Alana satu sekolah. Kami terikat sebuah cinta persahabatan yang sangat rumit dan hingga pada akhirnya menyimpan rasa iri dari antara kami. Simon yang mencintai ibumu rela menjebaknya dalam sebuah hubungan. Tapi menurut yang dikatakan Simon Jika ia tidak menjebaknya tapi ia mabuk dan lupa dengan dirinya sendiri hingga ia melakukan hal tersebut kepada ibu mu. Semua itu terjadi di masa sekolah kami. Kami sudah bertengkar di saat umur kami bahkan belum beranjak dewasa. Maka dari itu aku masih terlihat muda dengan umur ku yang baru saja memasuki kepala empat dan kau sudah dewasa. Kau pasti tak percaya, bukan? Aku memang terlihat cukup muda."
Dita menatap ke arah Abraham dengan tatapan cukup muak. Ia pikir Abraham adalah seorang pedofil.
"Ku pikir kau adalah seorang pedofil yang mencintai seorang anak-anak."
__ADS_1
"Kau bukanlah anak-anak."
"Oh."
Dita pun menghela napas panjang. Tetap saja apa yang dilakukan oleh Abraham adalah sesuatu yang salah di mata hukum karena ia mengencani seorang anak-anak dan bahkan sampai menghamilinya.
"Apakah kau tahu jika diri mu itu seperti seorang om-om mesum yang tak tahu malu."
"Bukan keinginan ku ini terjadi. Aku juga tak ingin mencintaimu, tapi cinta itu datang begitu saja."
"Memang kau saja yang bodoh," umpat Dita kepada Abraham. Seharusnya pria ini cocoknya menjadi ayahnya bukan menjadi pasangan hidupnya. Baiklah ia sekarang memiliki sugar Daddy supaya terlihat lebih kece lagi.
_____________
Saat hendak masuk ke dalam mobil pulang dari pemakaman, Dita dikejutkan dengan sebuah rombongan orang yang cukup banyak. Ia pun menatap ke arah rombongan itu, sementara Abraham berusaha untuk menyembunyikan dirinya.
Dita menyipitkan matanya karena merasa kenal dengan salah satu orang yang ada di rombongan tersebut. Ya memang tak salah lagi jika orang itu adalah Ayahnya.
"Ayah."
"Dita. Aku benar-benar sudah ingin jantungan mengira jika kau kenapa-kenapa saat ku dengar jika Abraham sedang membawa mu ke kuburan. Jika sempat terjadi sesuatu aku tak akan memaafkan orang itu," tunjuk Simon ke arah Abraham.
Abraham hanya meneguk ludahnya kasar. Ia sudah cukup lama tak berhadapan dengan Simon seperti ini. Simon pun seolah tengah berjumpa dengan sahabat lamanya.
"Ayah tenanglah. Aku ke sini hanya untuk mengubur Mama Alana."
Simon pun refleks memandang ke arah Dita. Ia terkejut saat tahu jika Dita mengetahui tentang Alana. Apa kata wanita itu tadi, mengubur Alana?
"Dita. Kau mengatakan jika kau ke sini mengubur Alana?"
"Ya aku ke sini untuk mengubur Mama Alana, mama kandung ku."
Simon pun tiba-tiba lemas. Sepertinya Abraham sudah menceritakan semuanya kepada Dita dan ia tak bisa mengelak lagi dengan rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
__ADS_1
"Maafkan aku, semua ini terjadi karena kesalahan ku. Andai saat itu aku tidak melakukan hal yang ceroboh."
"Pastinya tidak akan ada aku." Simon pun terdiam. Ia menatap ke arah kuburan yang masih basah.
Pria tersebut melewati Abraham begitu saja dan kemudian menatap ke arah batu nisan tersebut dengan pandangan hampa.
"Alana! Aku harap kau bisa tenang di sana, jangan pernah bersedih karena aku pikir dengan begitu kau akan menjadi orang yang benar-benar bahagia. Anak kita aman di sini."
"Bahkan di depan kuburannya pun kau tak merasa bersalah sama sekali karena telah membuat kehidupan Alana hancur. Ia harus mengandung anak yang tidak ia inginkan tapi terpaksa dilahirkan, dan dia harus mati di tangan orang yang dicintainya. Semua itu karena mu Simon."
Simon melirik ke belakang tepatnya pada Abraham lalu menatap ke arah kuburan Alana. Benar semua itu terjadi begitu saja dan dirinya masih tampak baisa saja. Padahal yang membuat Abraham seperti monster dan suka membunuh wanita yang ia anggap mirip Alana adalah Simon.
"Lantas aku harus seperti apa Abraham?"
"Berikan Dita Kepadaku."
Mata Simon membulat dan sontak ia langsung beranjak pada saat Abraham mengutarakan keinginannya. Tidak akan pernah dikabulkan oleh Simon keinginan pria itu.
"Kau pikir aku akan membiarkannya?"
"Jangan membuat semuanya semakin parah lagi. Apakah aku ingin terjadi sesuatu dan itu karena mu lagi?" Simon diam tak bisa menjawab.
Dita melihat ke arah ayahnya dengan tatapan sendu.
"Tidak apa-apa ayah aku akan aman bersamanya. Anak-anak pun membutuhkan dia." Mendengar keinginan dari Dita pun akhirnya Simon mengizinkan Kita hidup bersama Abraham.
"Baiklah aku akan mengizinkanmu."
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA
__ADS_1