Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 15


__ADS_3

Anindita langsung dibawa ke rumah sakit karena di tengah jalan tadi secara tiba-tiba ia drop dan pingsan.


Simon sangat khawatir dan bahkan ia sampai balapan di tengah jalan agar bisa cepat membawa putrinya ke rumah sakit.


Saat ini tubuh Dita telah dipasang infus dan juga alat bantu kehidupan yang ada di rumah sakit tersebut.


Clarissa yang berada di luar ruangan UGD terus berdoa tanpa henti. Wanita itu bahkan merelakan diri untuk datang meksipun dirinya dalam keadaan tak baik-baik saja.


"Dita di dalam sana apakah baik-baik saja?" tanya Clarissa kepada suaminya.


"Dita pasti akan baik-baik saja. Kau jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku bahkan menemukan dia masih hidup dan juga tak terlalu parah."


"Aku sangat khawatir dengannya."


Simon menarik napas panjang dan menatap k arah sang istri. Ia pun mengusap kepala Clarissa.


"Kau istirahat dahulu. Aku tak ingin mengkhawatirkan dua orang sekaligus. Kau tahu jika itu sangat membuatku tak tenang. Kau jangan membunuh ku dengan keras kepala mu."


Clarissa ingin protes kepada sang suami. Tapi ia baru sadar jika apa yang dikatakan oleh Simon benar.


"Maafkan aku. Aku memang harus beristirahat. Tapi aku juga tak bisa tenang."


"Tidak apa-apa. Dita pasti akan baik-baik saja. Percaya kepada ku, kemarin juga aku sudah menyakinkan dirimu jika aku bisa membawa pulang Dita dalam keadaan utuh dan aku menepati janjiku pada mu."


Clarissa merasa terharu kepada sang suami. Ia meneteskan air matanya dan memeluk tubuh Simon.


"Aku sangat bersyukur diri mu bisa hadir dalam hidup ku."


"Aku juga sangat bersyukur karena mencintai orang seperti mu." Sejenak Clarissa langsung terdiam saat mendengar pengakuan tersebut.


Ada sesuatu yang membuatnya harus tersenyum paksa.


"Apakah kau yakin?"

__ADS_1


"Clarissa. Kenapa kau tak pernah yakin. Kejadian masa lalu tak perlu kau ingat lagi. Yang ada hanya masa depan bersama mu dan Dita. Aku juga tak pernah memikirkannya lagi. Karena yang lalu biarlah berlalu."


Clarissa tersenyum lebar. Tuhan, begini kah dicintai oleh orang yang sangat dicintai olehnya. Penantian bertahun-tahun yang cukup panjang.


Simon mengantarkan Clarissa ke ruangan rawat perempuan itu. Ia menenangkan Clarissa di dalam sana hingga Clarissa jatuh tertidur.


Kemudian ia pun pergi ke tempat UGD. Hatinya sangat deg-degan dan juga tak bisa terkontrol.


"Kau adalah anak yang hebat. Dari kecil kau sudah sangat kuat seperti ibu mu. Kau benar-benar mirip dia tangguh seperti dia, kau memang jiplakan ibu mu. Aku yakin kau bisa melewati semua ini. Tidak ada yang tidak mungkin karena kau adalah harapan kami satu-satunya," ujar suara hati Simon seraya terus menatap ke arah ruangan UGD.


Ia tak sabar menunggu sang dokter keluar dari ruangan tersebut dan membawa kabar baik bagi dirinya.


Setelah lama menunggu apa yang ia harapkan pun terwujud. Tiba-tiba pintu dibuka dan lalu keluarlah sang dokter yang menangani Dita.


"Bagaimana anak saya Dok?" tanya Simon berharap akan mendapatkan kabar yang mengenakan.


"Keadaan Dita mulai kembali normal dan dia dipastikan hanya kelelahan. Kami juga menemukan beberapa luka dan bekas luka di tubuh Dita. Apakah sebelumnya pasien pernah melakukan sesuatu yang sangat membahayakan?"


"Maksudnya?"


"Apa yang kalian maksud? Dita sama sekali belum pernah mempunyai luka seperti itu. Jika apa yang dikatakan kau benar, itu artinya ada seseorang yang sudah membuat Dita seperti itu."


Kecurigaan Simon semakin besar kepada orang yang bertopeng yang ada di dalam foto tersebut.


Segala bukti berdatangan yang menguatkan perdugaanya. Simon pun duduk di depan ruangan tersebut sambil berpikir keras apakah yang sebenarnya telah terjadi kepada anaknya.


"Apa hubungan orang itu pada anak ku. Siapa dia? Kenapa dia sangat mencurigakan? Tidak mungkin dia orang yang memiliki masalah dengan Dita. Pasti orang itu berhubungan dengan ku."


_______


Abraham menatap nyalang semak belukar yang meninggalkan jejak pelarian Dita. Laki-laki itu terlihat sangat dingin dan tak mengeluarkan rekasi apapun.


Petrus terus membantu Abraham untuk mencari keberadaan Dita walaupun ia harus berperang dengan semak belukar yang sangat dibenci oleh pria itu.

__ADS_1


Tak jarang ia terluka karena semak-semak tersebut.


"Apakah kau sama sekali tak bisa menemukan orang?" tanya Abraham kesal kepada Petrus.


Petrus yang sudah biasa pun hanya diam dan memberikan hasil kerjanya nya kepada Abraham.


Mata mereka berdua menyipit saat melihat ada jejak sepatu seseorang. Abraham langsung menghampiri bekas jejak orang tersebut yang ia perkirakan orang itu ada hubungannya dengan Simon.


"Apakah Simon telah datang ke tempat ini?" Abraham sangat terkejut karena Simon cukup pintar dan bisa mengetahui segala hal yang sengaja ia sembunyikan dari pria itu.


"Tampaknya seperti itu," balas Petrus. "Kemungkinan besar jika mereka sudah membawa Dita dari sini."


Mata Abraham seketika memancarkan kemarahan yang sangat dalam. Pria itu tampaknya kali ini harus melakukan sesuatu. Karena menghadapi Simon juga adalah hal yang sangat sulit.


Ia dan Simon adalah seorang sahabat di masa lalu. Dan Abraham tahu persis bagaimana Simon yang selalu unggul dari dirinya dalam berbagai bidang.


"Aku membenci fakta jika aku selalu kalah dengannya. Semua yang aku harapkan dan inginkan ia yang selalu mendapatkan," ucap Abraham sambil mengepalkan tangannya. "Aku tak sabar ingin berduel dengannya lagi. Apakah dia masih sama seperti dulu?"


Abraham tersenyum miring seolah tengah meremehkan Simon. Ia yakin Simon tak lebih dari seorang pecundang saat ini. Terlebih lagi dirinya menyimpan dendam yang sangat besar pada Simon.


Dari dulu ia selalu ingin membunuh Simon dan juga Dita kecil. Tapi tak pernah berhasil dan alhasil dirinyalah yang hampir terbunuh. Untungnya ia selamat dan Abraham memanfaatkan kesempatan itu untuk menghilang seolah-olah dia telah tiada dan menyusun kekuatan.


"Apa kau menginginkan aku untuk membunuh pria itu?"


"Kenapa kau sangat keras kepala sekali? Sudah aku katakan dia tak semudah yang kau bayangkan. Dia adalah rival ku. Orang yang seimbang dengan ku. Kau jangan terlalu meremehkan orang lain."


Abraham pun menghela napas panjang dan kemudian mengikuti jejak tersebut. Tapi dia kemudian memutuskan untuk lebih memilih kembali ke tempatnya karena dia sudah sangat yakin jika Dita telah ditemukan oleh ayah kandungnya.


"Apakah kau sudah yakin?"


"Aku yakin jika itu adalah Simon. Tinggal kita kembali dan menyusun rencana yang matang."


__________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN MEMBERIKAN KOMENTAR.


__ADS_2