
Di salah satu desa yang berada di New York sedang heboh karena mendapatkan bangkai mobil yang berada di dalam jurang. Saat dilakukan penyidikan oleh aparat dan diketahui jika bangkai mobil tersebut rupanya milik seorang pengusaha besar di desa itu.
Orang tua Dita yang tak lain dan tak bukan tersebut yang dimaksud sangat syok saat tahu jika anak semata wayangnya kecelakaan. Sang ibu bahkan harus dilarikan ke rumah sakit karena sempat koma beberapa hari setelah mendengar Dita kecelakaan dan jasadnya tak ditemukan.
Ayahnya wanita itu juga tak hentinya menangis dan selalu memikirkan bagaimana nasib putri tunggal mereka yang satu-satunya menjadi harapan mereka. Karena tak mungkin sang istri hamil lagi di saat terjadi masalah di rahimnya untuk melanjutkan penerus mereka jika Dita tiada
"Ayah, apakah tetap tidak ditemukan di mana anak kita? Aku benar-benar bingung dan tak tahu harus berbuat apa," ucapnya sembari meneteskan air mata.
Clarissa sang ibu menangis sesugukan karena mengharapakan putrinya pulang. Usaha pencarian pun dilakukan sebesar-besarnya dan tetap saja tak ditemukan padahal sudah berlalu beberapa hari namun tak ada juga tanda-tanda dimana tubuh Dita berada.
"Tenang saja. Mungkin Dita masih hidup dan dia ada di sekitar sana." Hanya itu yang mampu diucapkan oleh suami Clarissa karena hal tersebut dapat sedikit menenangkan hati istrinya.
Benar saja, Clarissa pun berhenti menangis dan kemudian ia pun berdoa kepada Tuhan agar anaknya baik-baik saja dan tetap dijaga di mana pun keberadaanya.
"Aku harap juga seperti itu. Semoga dia dalam lindungan Tuhan. Kenapa rasanya sangat sesak di dada ku saat mendengar bahwa dia masih hidup. Pasti selama ini Dita sangat merasa tersiksa. Kira menjadi orang tua yang tak becus bagi dirinya."
Simon pun menghela napas panjang. Ia mengusap tangan sang istri.
"Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Ini semua terjadi karena memang sudah menjadi takdir kita dan anak kita. Mungkin ada rencana baik yang Tuhan lakukan."
Simon terlihat begitu optimis. Tapi sebenarnya dalam hati ia menangis karena merindukan sang anak yang entah di mana keberadaan wanita itu.
Melihat Clarissa dapat berdamai dengan keadaan membuat Simon bisa bernapas lega. Pria itu mengusap kepala sang istri lalu mengecupnya.
Setelah merasa Clarissa baik-baik saja ia pun yakin untuk meninggalkan wanita itu. Banyak hal yang harus ia urus terutama masalah kehilangan sang anak.
Simon menatap anak buahnya yang sudah menunggu di depan pintu. Pria itu mengisyaratkan kepada sang anak buah tersebut mengikuti dirinya.
Hingga sampailah di tempat yang lebih sepi. Ia sengaja membawa anak buahnya ke tempat itu agar Clarissa tak bisa mendengar.
__ADS_1
"Apakah yang terjadi sebenarnya?"
"Setelah dilakukan penyelidikan, rupanya mobil itu jatuh saat hendak melakukan putar balik. Itu terlihat pada bekas jejak mobil yang berusaha untuk melakukan putar balik. Dan satu lagi yang paling penting adalah kami menemukan tapak kaki seseorang yang masuk ke dalam hutan. Mungkin Nona ingin mencari bantuan tapi tersesat. Sayang sekali jejak tersebut terputus. Masih ada hal yang mengganjal karena ada beberapa orang tak dikenal yang juga tampaknya tengah menyelidiki kasus ini. Entah apa tujuan mereka, tapi sepertinya mereka bukan orang biasa."
Simon berpikir keras. Kira-kira siapa orang itu dan apa tujuannya.
"Apakah kau tidak ada memiliki foto mereka?"
"Ini Tuan."
Simon mengambil foto tersebut yang sudah dicetak. Mereka berbadan gagah dan bukan seperti seorang rakyat biasa. Ada beberapa komunikasi di antara sesama mereka yang sangat aneh.
Simon memerhatikan dengan lekat-lekat. Dan ia terpaku pada seorang yang sedikit masuk di dalam foto itu. Seseorang bertopeng yang sedang mengawasi mereka semua.
Dan di situlah ia sadar jika kasus anaknya ini bukanlah kasus biasa.
__________
Dita trauma setiap kali melihat daging. Ia masih ingat di mana dengan kejamnya dirinya diberi makan daging manusia.
Melihat daging saja sudah membuat wanita itu sangat mual walau beberapa kali Sonya meyakinkan jika daging itu adalah daging hewan.
"Kenapa kau tidak ingin memakannya?"
"Bagaimana mungkin aku memakan daging ini. Kau tak tahu aku sangat trauma karena aku pernah diberikannya daging manusia."
Wajah Sonya sangat syok saat mendengar pernyataan Dita. Benarkah seperti itu? Ia saja juga ikut mual dan tak selera melihat daging yang tersaji di meja makan.
"Benarkah dia manusia? Kenapa sangat menakutkan sekali?" tanya Sonya dan langsung menyingkirkan daging itu.
__ADS_1
"Kau mengerti kan sekarang betapa aku sangat menderita dengan kehidupan ku. Tidak ada yang enak yang seperti kau pikirkan."
Dita memejamkan mata dan berusaha menahan tangisnya. Rasa mual setiap kali melihat daging telah menyakiti hati Dita.
"Aku hanya akan makan sayuran."
"Baiklah. Mungkin aku sementara waktu juga akan memakan hal yang sama dengan mu," ucapnya dan menyantap makanan tersebut dengan lahap. Hanya Sonya yang bersemangat makan namun tidak dengan Dita.
Dita sudah dihantui oleh rasa mual.
"Kenapa daging itu tak dimakan?" Pertanyaan terbodoh yang benar-benar dikatakan oleh seseorang yang sudah membuat dirinya merasa trauma.
"Tidak kah kau sadar dengan apa yang kau lakukan kepada ku?" Dita tertawa kecil. "Aku tidak selera makan."
Dita berusaha untuk pergi dan tak ingin satu meja dengan Abraham. Ia masih marah dengan kemarin di mana pria itu tanpa ampun menyakiti batinnya. Memangnya dia seorang ja.lan.g? Dia adalah wanita terhormat.
Melihat Dita yang seakan ingin menghindari dirinya membuat emosi Abraham pun terpancing. Pria itu menggeram dan menarik tangan Dita.
"Mau ke mana kau? Di mana letak sopan santun mu di saat aku datang dan ingin kau malah pergi. Duduk di sini jangan ke mana-mana."
Dita dipaksa untuk duduk kembali tapi wnaita itu enggan. Alhasil dirinya pun digendong dan didudukkan di pangkuan Abraham.
"ABRAHAM!! LEPASKAN AKU!"
__________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1