
Hari-hari Dita pun lebih banyak melamun. Wanita itu tak lagi sama seperti Dita yang dikenal oleh orang tuanya.
Dita lebih banyak menyendiri. Dan orang tuanya yang sudah tahu apa yang telah terjadi pada Dita pun tak banyak bertanya dan malah merasa ingin marah kepada orang tersebut yang memanfaatkan kelemahan Dita.
Clarissa menghampiri sang anak sambil membawa segelas air susu dan roti. Ia meletakkan makanan tersebut di atas meja Dita.
"Sayang. Main terus, makan dulu yuk." Dita lebih hobi bermain game untuk membuang rasa ketakutan yang masih disimpan di dalam dirinya.
Perempuan itu menghela napas panjang dan bangun memenuhi panggilan sang ibu.
"Iya Bunda. Dita akan makan."
Dita pun datang dan menghampiri ibunya. Ia memakan roti yang telah dibawakan oleh Clarissa.
Dita dengan lahap memakan roti dan air susu tersebut. Pada dasarnya wanita itu memang sedang dalam keadaan perut yang sangat kosong dan ingin makan. Hanya saja ia sangat malas untuk pergi ke dapur dan mencari makan.
Clarissa yang melihat semua itu pun tersenyum tipis. Ia bangga dengan Dita. Perempuan tersebut mampu melewati segala hal yang sangat menyakitkan dalam hidupnya dengan mengikhlaskan semua itu.
"Sayang, kalau kamu sakit kamu bilang aja ya sama Bunda."
"Bunda, Dita tidak sakit Bunda. Dita baik-baik saja. Jadi kau tak perlu khawatir mengenai kesehatanku," ucap Dita dengan suara yang sangat lembut untuk menenangkan ibunya yang tampak khawatir dengan kondisinya.
Padahal Dita juga sangat khawatir kepada kondisi ibunya. Iya tahu jika Clarissa jika menyembunyikan penyakit yang tengah dideritanya. Dita tentu sangat merasa bersalah karena penyakit itu juga kambuh karena perbuatannya yang telah membawa dampak buruk bagi keluarganya.
"Bunda, apakah orang yang sudah tak perawan lagi laki-laki tidak ada yang mau?" tanya Dita dengan air mata yang jatuh ke pipinya.
Perempuan tersebut menghela napas sangat panjang. Sangat sesak saat bertanya hal itu yang memalukan.
Clarisa sungguh tak menyangka jika Dita akan bertanya hal itu kepada dirinya. Apakah Dita sudah lelah menyimpan semuanya sendirian hingga ia membutuhkan seseorang sebagai tempat ia bercerita.
"Sayang. Tidak semua laki-laki seperti itu. This is New York Dita. Hal seperti itu sangat lumrah. Jadi buat apa kau khawatirkan itu. Pasti banyak laki-laki yang akan menerima mu. Apalagi kau adalah wanita yang sangat cantik. Kamu tidak percaya sama Bunda jika kamu cantik?"
Dita pun tersenyum lebar. Clarissa memang orang yang paling bisa menenangkan dirinya dari rasa ketakutan.
__ADS_1
Padahal Dita selalu saja kepikiran. Tapi berkat pernyataan sang ibu ia pun semakin yakin jika dirinya akan dilirik oleh pria lain.
"Tapi Dita malu bunda."
"Sudahlah jangan malu. Malu sama siapa? Orang Bunda dan teman-teman kamu juga gitu pas pacaran."
Dita membelalakan matanya. Ia tak menyangka jika orang tuanya berbuat hal semacam itu saat mereka tengah berpacaran.
"Apa Bunda seperti itu sama Ayah."
Carissa diam. Dita belum tahu bagaimana masa lalu bersama Simon. Mereka tak pernah pacaran dan tak pernah berhubungan. Simon langsung menikahi Clarissa.
"Ayah kamu langsung menikahi Bunda. Dia tidak pernah menyentuh Bunda. Tapi Bunda pernah berhubungan dengan teman ayah kamu. Pada saat itu ayah kamu masih sama mantannya," ucap Clarissa menjelaskan.
"Memang mantan ayah siapa?"
"Ada. Orangnya sangat cantik. Tapi sayang dia tidak berjodoh dengan ayah kamu."
Dita pun jadi semakin penasaran dengan kisah orang tuannya seperti apa.
_________
Tapi ia merasa sangat familiar dengan setiap gerakan yang dibuat oleh pria itu. Apakah sebelumnya ia juga pernah bertarung dengannya pada saat si laki-laki tersebut tak mengenakan topeng.
"Pasti orang itu adalah musuh ku. Tidak mungkin ada orang yang mencari masalah dengan keluarga ku jika bukan tak ada hubungannya dengan ku."
Kali ini Simon benar-benar yakin jika orang itu adalah musuhnya. Jawabannya sudah mendekati kemungkinan. Tinggal ia menunggu dan mencari tahu siapa orang yang di balik topeng tersebut.
Apa masalahnya hingga ia mengincar keluarganya. Simon pun menghela nafas panjang. Ia jadi merindukan keluarganya di rumah.
Tapi karena sudah kejadian tempo lalu membuat Simon harus berpikir dua kali setiap kali ia ingin menemui keluarganya. Ia tak ingin keberadaan Dita ditembus oleh pria itu.
Apalagi Dita sangat trauma karena perbuatan laki-laki tersebut. Jadi tak mungkin dia membiarkan laki-laki itu akan pergi begitu mudahnya sebelum ia bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan kepada putrinya.
__ADS_1
"Apakah kau belum bisa mengetahui siapa orang di balik topeng itu?"
tanya Simon terhadap anak buahnya. Tangan kanannya itu menggelengkan kepala. Untuk menembus pertahanan yang dibuat oleh Abraham sangat sulit untuk dilalui.
"Beberapa kali kami sudah melakukan percobaan untuk menyelidikinya. Melalui akses internet selalu saja terjadi error. Dan melalui mata-mata pasti mata-mata tersebut akan tertangkap dan tidak akan pernah kembali lagi kepada kita. Sepertinya dia juga tahu bahwa kita itu menyelidiki dia."
Simon pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang mereka semua tahu jika Simon juga melakukan penyelidikan terhadap mereka. Begitupun sebaliknya Simon juga tahu bahwa mereka juga mengirimkan mata-mata untuk memberikan segala informasi dirinya kepada orang tersebut.
"Sepertinya dia bukanlah orang biasa. Pertahanannya juga sangat susah untuk ditembus. Orang ini tampak seperti memiliki masalah dengan ku. Tapi aku juga tidak mengerti kenapa dia sangat mengincar Dita. Apakah ada sesuatu pada diri Dita."
Tangan kanannya itu pun turut berpikir seperti Simon. Iya harus bisa memecahkan masalah ini agar ia semakin dipercaya oleh Simon.
"Apakah kau benar-benar tidak mengetahui siapa dia? Kau mengatakan jika dia seperti familiar. Kau coba ingat-ingat kembali siapa orang yang telah memiliki kemampuan seperti itu."
Simon pun mencoba mengingat-ingat sesuatu. Tapi entah kenapa dirinya tak bisa terlalu berpikir jauh. Seperti ada sesuatu yang menahan dirinya.
Ia yakin, orang ini memiliki sesuatu.
"Jika kau tetap tidak ingat. Aku bisa saja menebak jika orang itu adalah orang yang sangat dekat denganmu."
Simon juga berpikir hal yang sama seperti Petrus. Hanya saja pria itu lebih berpikir kritis.
"Baiklah. Aku akan turun langsung untuk menyelesaikan masalah ini."
Petrus tersenyum lebar. Setidaknya pekerjaannya sedikit berkurang.
"Tapi kau arahkan untuk penjagaan lebih diperketat lagi."
"Baik Tuan." Petrus pun pergi untuk melaksanakan perintah yang diberikan oleh Simon.
_________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.