
Rupanya kebahagiaan itu sangat sederhana. Yaitu ketika kamu bisa kumpul bersama dengan orang tua mu dengan perasaan yang sangat senang.
Setelah mengalami keterpurukan cukup lama akhirnya Dita bisa bangkit dengan perasaan yang lebih luas lagi ketika ia bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi pada hidupnya.
Kini dirinya hanyalah merasakan kebahagiaan walaupun hanya bersama dengan kedua anaknya dan juga orang tuanya. Itu adalah sebuah anugerah yang tidak akan pernah Dita dapatkan dengan mudah.
Seperti saat ini ia hanya bisa tersenyum terus-menerus melihat kelakuan dua anaknya yang sangat bertingkah lucu sambil berebut mainan.
Padahal mainan itu adalah mainan perempuan tetapi Alvarez tetap merebutnya. Ia pikir dengan membuat nangis kakaknya adalah hal yang terbaik. Jika sering menegur Alvarez dan ia harap anak itu dapat berubah lebih baik lagi.
Dita tak ingin kebiasaan saling merebut tersebut sampai ke hari tua mereka. Ia tahu kalau masih kecil hanyalah sebuah candaan tapi tidak ada ketidak mungkin jika candaan tersebut menjadi kenyataan.
"Alvarez, sudah mama bilang berikan mainan itu kepada kakakmu. Mama telah memberikanmu mainan yang baru. Apakah kau tidak malu dengan teman lelakimu yang lain karena kau merebut mainan seorang wanita?" tanya Dita dengan marah.
Alvarez yang mendengar suara ibunya yang menegur dirinya lantas langsung melepaskan mainan tersebut dan memberikannya kepada Naomi.
Naomi pun menatap Ibunya berbinar dan penuh rasa terima kasih karena sudah membela dirinya dari sang adik yang sangat nakal.
"Dia benar-benar keterlaluan. Aku tidak menyangka jika adikku akan seperti ini. Jika tahu begini aku tidak akan menemaninya dari kecil," ucapkan yang mulai merasa sombong karena telah dibela ibunya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh anak gadis yang membuat Dita sangat marah. Ia pikir keduanya sama saja. Tidak ada yang memiliki kelebihan paling menonjol.
"Kau pikir aku tidak akan marah jika kau mengatakan itu? Kau benar-benar keterlaluan, dia adalah adikmu Naomi." Walau sedang marah tetapi jika mengeluarkan amarahnya dengan suara yang lembut.
"Baik Mama."
Keduanya pun sama-sama merasa sangat bersalah. Alvarez lah yang paling manja dan merengek ingin digendong oleh Dita.
Dita dengan senang hati memeluk dan menggendong anak itu hingga meninggalkan kecemburuan pada Naomi.
"Naomi, kenapa wajah mu sangat cemberut?" tanya Dita pada anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Apakah kau tetap juga tidak mengerti dengan apa yang saat ini aku inginkan? Aku juga ingin digendong seperti dia."
Untuk memberikan rasa keadilan terhadap dua anaknya, Dita pun menurunkan Alvarez dan kemudian menggendong Naomi.
"Kau benar-benar memiliki rasa cemburu."
"Aku tidak menyangka saja jika kau masih muda."
Dita terdiam mendengar ucapan sang anak. Benar ia akan menginjak umur 23 tahun dan ia juga masih memiliki perawakan gadis remaja yang membuat orang sangat terkejut jika tahu ia telah memiliki anak.
"Kau tahu bukan jika aku sangat muda? Itu artinya aku telah mengorbankan masa muda ku untuk mengurus kalian. Jadi kalian jangan bawel. Mandi sana." Dita menurunkan Naomi dan meminta keuda anaknya kembali ke kamar mereka masing-masing untuk mandi.
Mereka dengan patuh dan memberikan rasa hormat yang besar kepada orang tuanya dan lalu berlari ke arah kamar mefeka masing-masing.
Dita tersenyum melihat dua anaknya yang sudah besar.
"Tak ku sangka lima tahu sudah berlalu."
___________
Wanita tersebut berguling ke sana kemari dengan tubuh yang dipenuhi oleh keringat. Mimpi yang merupakan traumanya.
Kita berusaha untuk mengontrol dirinya dan melawan mimpi itu. Iya berusaha untuk sadar dari mimpi tersebut tapi rasanya sangat sulit.
Dan pada akhirnya Dita pun terengah-engah dan membuka matanya. Ia menatap ke atas dengan pandangan yang sangat lelah.
Wanita itu langsung duduk dan menangis kencang. Apa yang baru saja ia impikan merupakan sebuah hal yang paling sensitif pada dirinya.
Dia tak menyangka Setelah sekian lama pria itu kembali lagi dalam mimpinya. Apakah ini adalah pertanda buruk? Apakah Tia psikopat bernama Abraham itu ada lagi di New York.
Dita merasa gelisah dan hampir tidak bisa tidur lagi. Tanpa sadar karena telah larut memikirkan hal tersebut Ia pun menangis.
__ADS_1
"Kenapa ini rasanya sangat menakutkan. Dan terasa juga sangat nyata. Apakah ini benar-benar terjadi pada diriku?" tanya Dita kepada dirinya sendiri.
Dita pun berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan pada hidupnya. Ia sudah kapok dan tidak ingin lagi mengulangi masa lalu itu kembali.
Dita pun maelan nafas panjang dan menghapus air matanya. "Aku yakin ini bukanlah sesuatu yang besar. Aku bisa melewati ini semua," ucap Dita dengan keyakinan penuh.
Ia pun beranjak dari ranjangnya. Wanita itu keluar untuk menjenguk anaknya yang ada di kamar sebelah.
Melihat mereka baik-baik saja membuat Dita sedikit lebih lega. Wanita itu menghampiri ranjang Naomi lalu duduk di samping wanita itu.
Ia menatap wajah Naomi yang sangat asing wajahnya. Ia sangat tampan dan sayang sekali ia tak mengetahui rupa ayah dari wanita itu.
"Aku sangat ingin melihat senyum mu. Aku tahu jika kau ingin bertemu dengan ayah mu. Tapi aku tidak bisa melakukan itu karena aku benar-benar tak sanggup melihatnya lagi," ucap Dita dengan deraian air mata.
Masih terbayang di benaknya bagaimana pria itu hadir kembali di mimpinya dan seolah itu adalah nyata.
Dita tak sadar jika anaknya telah bangun. Ia menatap ke arah sang ibu dengan pandangan yang sangat bingung.
"Ma. Ada apa dengan mu? Kau ingin tidur di sini?" tanya sang anak sambil mengucek matanya.
Dita pun tersadar dan menatap ke arah sang anak. Ia pun tersenyum lebar dan mengusap rambut Naomi.
"Aku hanya ingin mengecek kamar mu." Naomi pun mengangguk dan menatap ke arah Dita dengan pandangan heran.
"Apakah kau menangis?"
Dita terkejut dan segera menggeleng. "Aku tidak menangis. Ah, aku harus ke kamar Alvarez," ucap Dita yang sengaja lekas pergi karena ingin menyembunyikan kesedihannya.
___________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.