
Dita terus meronta dan menggedor jendela mobil pria yang tak ia tahu asal usulnya tapi secara tiba-tiba menculik dirinya. Lagipula tadi kenapa sangat bodohnya ia menuruti keinginan dari pria itu.
Entahlah tapi Dita merasa seperti tengah dihipnotis sehingga ia pun dengan tanpa sadar mengikuti apa yang laki-laki itu inginkan.
Wanita itu sudah hampir lelah. Ia menatap anak-anaknya pun yang sama tengah menangis kencang karena tahu dengan kondisi yang saat ini mereka alami. Mendengar suara tangisan mereka sungguh menyayat hati Dita dan tak sanggup mendengarnya.
Ia tak tahu harus berbuat apa setelah melihat mereka yang menangis kencang. Dita sudah kehabisan ide dan meminta pria itu untuk melepaskannya juga bukanlah hal yang mudah.
Alvarez memeluk lengan ibunya dengan erat. Pria itu seolah tak ingin kehilangan Dita. Pun sama dengan si cantik Naomi yang memeluk erat tubuh Dita.
Seakan ia akan mati jika melepaskan pelukan tersebut. Sementara itu Abraham yang melihat mereka saling melengkapi tiba-tiba hatinya merasa hangat. Pria itu tersenyum lebar dan kembali lanjut menyetir.
Perasaan Dita benar-benar merasa sangat ketakutan untuk saat ini. Ia sudah pasrah tapi nyatanya dirinya tetap saja tidak bisa tenang. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?
"Tolong! Lepaskan kami! Kau ingin membawa kami ke mana? Apa yang kau inginkan? Aku bisa memberikan apapun itu."
Abraham melirik Dita dari kaca mobil. Senyum miring tersungging di pipinya. Pria itu pun menarik napas panjang dan lalu kemudian kembali menatap ke arah jalan.
"Bagaimana jika yang kau inginkan itu adalah diri mu dan juga anak-anak mu? Apakah kau akan memberikannya kepada ku?" tanya Abraham dengan nada yang seolah tengah menertawakan Dita.
Dita pun menarik napas panjang dan menatap ke arah anak-anaknya. Ia sudah tak visa banyak berkata-kata selain air mata yang jatuh dari pipinya.
Wanita itu pun memejamkan matanya dan makin mengeratkan pelukannya pada Dita.
"Aku tidak tahu jika aku akan membawa masalah bagi mu." Dita menatap ke arah Abraham lagi. "Apakah bisa kau memberikan anak-anak ku untuk turun? Biar saja aku yang kau bawa tapi jangan anak-anak ku," ucap Dita dengan perasaan yang penuh berharap.
Dita pun memejamkan matanya menunggu Abraham menjawab keinginannya. Ia harap apa yang ia inginkan terkabul.
Tapi, sangat disayangkan sekali jika apa yang ia harapkan itu tak dikabulkan oleh Abraham. Yang ada ia hanya bisa menggigit jarinya sendiri sambil menahan tangis.
"Kau pikir aku akan membiarkan mereka juga pergi? Aku juga menginginkan mereka asal kau tahu."
__ADS_1
"Tapi kenapa?" tanya Dita dengan suara seraknya.
"Karena nanti kau akan tahu jawabannya. Tapi tidak dengan sekarang," ucap Abraham pada Dita.
Dita menatap ke arah anak-anaknya yang sangat ketakutan. Sungguh tak ada hari yang paling dibenci oleh Dita selain hari ini.
Jika bisa maka dirinyalah yang akan ikut. Ia takut jika anaknya akan mengalami trauma. Apalagi Dita belum sembuh dari rasa trauma ketika dirinya disekap.
"Aku benar-benar merasa ketakutan saat ini. Aku harap aku akan mendapatkan keajaiban," gumam Dita sambil menatap ke arah depan.
Tapi ketika melihat punggung Abraham ia merasa sangat tidak asing dengan pria itu. Punggungnya mengingatkan akan seseorang. Tapi siapa?
____________
Dita telah sampai di sebuah perumahan mewah di tempat yang sangat sepi. Bahkan Dita juga tak menyangka jika di tempat seperti ini juga terdapat rumah yang cukup mewah.
Perempuan itu menggigit bibirnya karena tak bisa mengalihkan pandangannya dari keindahan interior rumah itu yang sangat luar biasa.
Ia munafik jika menganggap rumah tersebut tidak indah. Buktinya Dita bahkan tak bisa berkata-kata melihatnya.
"Dita kau menyukainya?"
Sebentar, suara ini? Dan panggilan Namanya yang sangat khas membuat Dita refleks menjauh sambil menarik tangan anak-anaknya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Dita dengan penuh menuntut.
Pria itu hanya tersenyum tipis seolah tahu apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh Dita. Dita benar-benar tak menyangka dengan apa yang saat ini ada di benaknya. Satu nama seorang laki-laki yang sangat dihindari oleh Dita, itulah sepintas terlintas di pikirannya saat pria itu mengeluarkan suara aslinya.
"Kau tak ada terpikirkan sama sekali siapa aku? Mungkin kau bisa menebaknya dahulu."
Dita pun sangat syok mendengar jawaban pria itu. Jadi apakah benar jika orang yang saat ini membawanya adalah Abraham? Jika benar begitu Dita benar-benar sangat sial karena jatuh ke dalam lubang yang sama setelah sekian lama.
__ADS_1
Wanita itu pun tak kuasa menahan air matanya yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.
Dan pada alhora ia sudah tak sanggup lagi menahan tangisnya. Pria itu pun mengerti dengan reaksi Dita yang ia pikir mungkin sudah mengetahui dirinya siapa. Abraham harap Dita tak akan memberontak.
"Kau Abraham?"
Abraham pun tersenyum miring yang makin lagi meyakinkan Dita. Tak salah lagi, pria di depannya ini benar-benar Abraham.
Dita menutup mulutnya tak menyangka. Jadi ini rupa dari Abraham. Dita akui dia sangat tampan, meskipun tampak dia sudah memiliki usia kepala tiga.
Meski begitu tubuh atletisnya menutupi semua itu. Dita pun menatap ke arah Naomi dan kemudian membandingkannya antara Naomi dan juga Abraham.
Mereka berdua memiliki tingkat kemiripan yang sangat kuat. Bahkan Dita tak menyangka jika Naomi mirip dengan ayahnya.
"Kau! Kenapa kau membawa ku ke sini? Apa mau mu? Kau ingin menyakiti aku dan juga anak-anak ku?"
Abraham menatap sekilas ke arah anak-anaknya Dita.
"Apakah kau sudah puas menikmati dunia luar? Kau sangat tega tidak mengajak aku untuk menikmati itu,"ucap Abraham yang sangat sok dramatis.
Dita yang menderanya pun rasa ingin muntah. Laki-laki tersebut benar-benar sangat menggelikan di depan Dita.
"Kau siapa? Aku hanyalah orang asing. Aku sama sekali tak pernah memikirkan diri mu."
"Apakah kau yakin dengan ucapan mu itu? Aku adalah ayah dari anak-anak mu itu."
Dita refleks Lang memeluk tubuh Alvarez dan juga Naomi. Tapi Naomi sangat terkejut dengan ucapan sang ayah. Ia pun menatap ke arah Abraham dengan polos.
"Apakah kau ayah ku?"
_________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.