Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 37


__ADS_3

Dita pun menatap ke arah anaknya yang bertanya demikian. Ia tak menyangka jika Naomi akan secepat itu menyadarinya. Padahal anak itu masih kecil.


"Naomi apa yang kau tanyakan itu? Dia adalah penjahat. Kau jangan terkecoh dengannya."


Naomi memandang ke arah ibunya dengan wajah berkerut. Ia tahu apa yang dimaksud sang ibu, tapi ia merasakan sendiri jika ada perbedaan antara sang ibu dan juga dirinya. Ia merasa seperti kenal dengan pria itu dja juga dekat dengannya.


Ia juga melihat jika dirinya dan pria yang ada di depan ini memiliki tingkat kemiripan yang sama.


"Apakah kau benar-benar ayah ku?" tanya Naomi kembali.


Abraham yang mendengar anak itu bertanya pun merasa menang. Ia menatap ke arah Dita dengan pandangan mengejek.


"Kau ingin tahu jawabannya?" tanya Abraham pada Naomi.


Naomi pun mengangguk dengan polosnya. Karena ia benar-benar sangat penasaran siapa ayahnya sebenernya.


"Tanyakan saja kepada ibu mu. Aku harap dia akan menjawab yang sebenarnya," ucap Abraham yang seolah tengah menyindir Dita.


Dita pun hanya meneguk ludahnya dengan gugup saat Naomi menatap ke arah dirinya. Ia bingung akan menjawab seperti apa pertanyaan yang dilontarkan oleh Naomi itu.


Ia tak ingin membohongi Naomi tapi ia juga tak bisa mengatakan yang sebenernya kepada Naomi. Hatinya terlalu sakit untuk mengetahui siapa ayah sebenernya Naomi.


Bahkan ia tak bisa menerima fakta jika Naomi adalah anak pria itu. Ia tak kuasa menahan tangis dan hingga Naomi yang melihat itu tak tega dan memeluk tangan ibunya.


"Kau pasti sangat sedih saat aku menanyakan tentang sjapaauah.maka dari itu maafkan aku yang sudah lancang bertanya kepada mu siapa ayah ku."


Alvarez pun memeluk tubuh Naomi. Sebagai adik laki-laki, Alvarez sangat pintar untuk menenangkan hati Naomi hingga Dita pun bis bernapas lega kala melihat anaknya tersebut.


"Jangan bersedih. Aku tahu jika kau lupa dengan ucapan ibu jangan bertanya tentang ayah karena akan menyakiti hati ibu."


Abraham yang mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Alvarez lantas langsung memandang ke arah Dita.

__ADS_1


Dita pun mengalihkan pandangannya secepat mungkin dari pria itu. Ia sungguh menyesal sudah berjumpa dengan sosok pisikopat Abraham.


"Dita. Aku baru tahu jika kau mengalami trauma Karena diri ku."


Abraham berucap seolah tak merasa bersalah sama sekali. Padahal pria itu sendiri yang membuatnya seperti ini.


"Siapa yang tidak akan trauma dengan kelakuan mu yang sangat bajingan itu! Aku rasa orang tua mu juga tak menginginkan ku."


Abraham terkejut dengan jawaban Dita. Ia tak menyangka jika Dita akan menjawab seperti itu. Pria tersebut menatap ke arah Dita dengan luapan emosi yang sangat dalam.


"Apa yang baru saja kau katakan kepada ku? Kau mengatakan jika orang tua ku bahkan sama sekali tak bahagia? Ya itu memang benar, aku sangat menyesali tak bisa membuatnya bahagia. Tapi bukan berarti kau bisa mengejek ku seperti ini."


Dita pun mendecih. Ia sama sekali tak peduli jika pria itu marah atau tidak kepadanya. Yang penting ia telah berhasil membuat pria itu kesal kepadanya.


"Kau tahu aku sangat membenci mu. Siapa sebenarnya wanita yang ada di dalam ruangan itu? Bukan aku tak tahu jika kau menyimpan seorang mayat yang mirip dengan ku."


Abraham lantas teridam dengan gigi yang bergesekan.


Abraham pun pergi dari sana agar tak marah kepada Dita dan didengar oleh anak-anak mereka.


____________


Dita diarahkan ke suatu ruangan yang sangat sepi. Pria itu benar-benar tak berubah sama sekali menurut Dita.


Ia juga terkejut ketika melihat banyak foto dirinya di rumah ini yang terpajang. Dita pun bertanya-tanya, kenapa bisa ada fotonya di sini.


Wanita itu sungguh tak mengerti. Apakah mungkin Abraham telah terobsesi kepadanya? Tapi jika benar begitu sangat menakutkan sekali.


Bahkan Dita tak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar dirasakan oleh Abraham. Itu artinya kehidupannya benar-benar sangat terancam.


Dita pun menatap ke arah anaknya yang dengan polosnya malah menikmati suasana sunyi di rumah ini.

__ADS_1


"Wow rumahnya sangat cantik."


Dita pun menatap ke arah anaknya tersebut. Ia tak ingin aku Arez dan juga Naomi terbuai dengan keindahan rumah di sini yang menyimpan banyak jeritan.


Dita belum tahu jika Abraham tak lagi membunuh seperti dulu. Seperti apa yang sempat dipikirkan oleh Dita jika ia adalah obsesi dari pria itu, dan yang dikhawatirkan Dita adalah benar.


Abraham telah terobsesi kepada Dita. Dita juga tak memiliki waktu untuk kabur karena ia telah disekap selamanya oleh pria itu.


Sungguh hari yang benar-benar sangat suram bagi Dita. Dita pun diarahkan oleh Petrus untuk masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan. Ternyata, bertahun-tahun lamanya dan Abraham masih mempekerjakan Petrus.


Ia tahu jika Petrus sama seperti dengan Abraham yang suka membunuh. Oleh karena itu dari tadi Dita selalu merinding jika dekat dengan pria itu.


Entahlah, tapi hawanya sangat berbeda jika bersama pria tersebut.


"Terima kasih," ucap Dita ngeri-ngeri sedap berdekatan dengan Petrus.


Petrus tahu kecanggungan Dita. Tapi ia tetap diam dan hanya mengangguk yang membuat Dita kembali berpikir benarkah orang yang ada di depannya ini seorang manusia?


Petrus pun pergi dan Dita menatap kepergian itu dengan isi kepala yang penuh dengan rasa syukur. Akhirnya ia bisa lepas dari kengerian duniawi.


"Mama, itu siapa? Kenapa dia sangat mengerikan? Aku benar-benar merinding di dekatnya. Bahkan dia sama sekali tak bisa tersenyum," ucap Alvarez sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Tuhkan, anaknya pun juga merasakan hal yang sama dengan apa yang saat ini Dita rasakan. Itu artinya bukan dirinya saja yang merasa seperti itu.


"Entahlah. Tapi dia benar-benar sangat mengerikan. Kau harus berhati-hati jika dekat dengan dia," ucap Dita memperingatkan anak-anaknya.


Mereka pun mengangguk patuh. Sedikit Dita merasa lega dan lalu kemudian masuk ke dalam kamar itu. Kamarnya sangat luas dan Dita tak bisa berkata-kata atas keindahan interior yang terdapat pada kamarnya.


__________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.


__ADS_2