
Dita meminta kepada Abraham agar diantar ke rumah Simon dan juga Clarissa untuk menyampaikan kabar baik yang mereka dapatkan. Ia harap Calrissa juga akan merasa ikut senang dengan kehamilan Dita kali ini. Tentunya sudah pasti Calrissa senang sebab wanita itu selalu merasa bahagia jika hal itu akan membuat Dita juga merasa bahagia.
Maka dari itu hari ini Dita ingin secara langsung mengabarkan kabar bahagia tersebut kepada Simon dan juga Clarissa. Ia bahkan sudah sangat tak sabar ingin mendengar respon Clarissa nanti.
Sudah lama ia tak melihat wajah bahagia wanita itu dan kali ini ia ingin memberikan hiburan kepada ibunya. Anggap saja ini sebagai balas budi karena kita seringkali membuat khawatir sang ibu. Maka dari itu Dita sungguh merasa bersalah kepada Clarissa. Padahal Clarissa bukanlah ibu kandungnya tapi Clarissa begitu menyayangi dirinya. Menurutnya Calrissa adalah orang yang bisa bersikap dewasa dan sabar tulus.
Karena semua kebaikan yang Clarissa lakukan kepadanya membuat Dita merasa Jika ia berhutang budi kepada Clarissa. Padahal Clarissa sama sekali tak menganggap Dita Jika Dita tak berhutang budi kepadanya. Ia memperlakukan Dita seperti anak kandungnya sendiri.
"Kau selalu saja mengatakan ingin melihat wajah bahagia Clarissa. Aku pikir dia belum tentu bahagia karena tahu jika anak itu dihasilkan dari hubungan seperti apa. Terlebih pria yang telah menghamili putrinya adalah pria yang telah memerawaninya." Abraham begitu santai menjelaskan kepada Dita tanpa mengetahui jika Dita sangat terkejut mendengar kalimat yang memuat fakta baru yang baru diketahui Dita.
Ia baru mengetahui fakta tersebut dan Dita cukup merasa sakit hati dengan tingkah Abraham yang begitu memalukan di masa lalunya. Terlebih lagi Abraham adalah orang yang dicintainya dan dia melakukan hal bejat itu kepada orang terdekatnya yang juga sangat dicintai oleh Dita.
"Aku tak mengerti kenapa kau bisa menjadi orang yang bejat seperti itu di masa muda mu. Aku rasa jika Mama ada di sini dia akan membenci perbuatan mu."
"Kau tak perlu membayangkan hal tersebut karena sudah pasti hal tersebut terjadi. Bahkan kau sendiri saja sangat jengkel kepadaku. Tapi menurutku tidak ada lagi yang perlu untuk disembunyikan makanya aku mengatakan semua ini kepadamu agar kau tahu bagaimana aku di masa lalu. Apakah kau sekarang menyesal memutuskan untuk mencintaiku?" tanya Abraham dengan sangat harap. Sementara itu Dita diam tak merespon Abraham sama sekali.
Entah kenapa Abraham tak bisa memikirkan perasaannya saat ini. Mungkinkah pria itu belum pernah merasakan rasanya sakit hati makanya ia menganggap hal tersebut sebagai hal yang remeh.
"Aku harap kau sadar dengan semua ucapan mu dan memikirkan bagaimana perasaan orang yang mendengar ucapan mu itu." Abraham tahu jika Dita sangat marah kepada dirinya. Maka dari itu ia membiarkan Dita marah kepadanya dan melampiaskan rasa cemburunya kepada dirinya.
"Ya aku harap aku segera sadar. Dan mungkin bisa saja sudah sadar," ucap Abraham kepada Dita dan ia melihat Dita yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya di ruangan ini sendirian.
Dita tak peduli lagi kepada Abraham dan wanita itu mengajak kedua anaknya ke dalam mobil dan bersekongkol dengan kedua anaknya untuk tak menghiraukan Abraham yang begitu meresahkan.
Abraham pun sadar jika Keuda anaknya telah diperalat oleh Dita. Maka dari itu untuk menyenangkan Dita ia membiarkan saja mereka tak menghiraukan dirinya.
__ADS_1
"Aku harap hal ini tak berlanjut sampai besok. Aku hanya bercanda, dan aku tadi berpikir jika kau tidak akan sakit hati. Well ternyata wanita memang sama dan selalu sensitif."
Dita yang mendengar ucapan Abraham tersebut membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Bisa-bisanya Abraham mengira ia tak akan sakit hati.
"Ku harap dia cepat sadar dan tak terus bodoh seperti ini."
Harapan Dita sangat besar karena pada dasarnya pria yang sedang menyetir itu susah sekali untuk peka. Dita sendiri sampai heran kenapa ia bisa seperti itu.
________
Sesampainya di rumah, Dita cukup merasa senang melihat Calrissa yang sudah menunggu dirinya di depan rumah. Sebab tadi Dita sempat mengatakan kepada Calrissa bahwa ia akan datang hari ini dan Calrissa dengan sangat cepat merapikan rumah dan juga menunggu kedatangan Dita dengan antusias.
Dita turun dari dalam mobil lalu kemudian langsung berlari ke arah Clarissa. Ia sudah sangat tak sabar untuk memeluk Calrissa dari dalam mobil tadi.
"Kau tak perlu bertanya Dita. Tentu saja jawaban ku akan sama dengan mu jika aku juga sangat merindukan diri mu. Kau pikir ibu mana yang tidak merindukan anaknya.
Dita hanya terkekeh mendengar pertanyaan dari sang ibu. Benar juga apa yang dikatakan oleh ibunya, Ibu mana yang tak merindukan sang anak yang sudah cukup lama tak ditemuinya.
Bahkan Clarissa sama sekali tak ingin melepaskan pelukannya pada diri Dita. Jika bukan karena kedatangan Alvarez dan Naomi mungkin sampai sekarang Clarissa tak ingin melepaskan pelukannya dengan Dita. Ia begitu bersemangat melihat kedua cucunya yang turun dari mobil.
"Oh my God, cucu Oma. Alvarez dan juga Naomi kenapa kemarin kalian tidak datang ke rumah Oma? Dengar-dengar dirimu kemarin malahan datang ke taman bermain dan tidak mempedulikan untuk datang ke rumah Oma. Kalian tahu hati Oma sungguh sakit." Kedua anak yang tidak jauh terpaut umurnya pun terkekeh.
Mereka hanya pura-pura tak mengerti dengan apa yang telah mereka lakukan agar bisa lepas dari amarah sang Oma.
"Maafkan kami Oma. Kami memang salah karena lebih mementingkan taman bermain daripada datang untuk menemui dirimu."
__ADS_1
Clarissa menarik nafas cukup panjang. Ia bisa memaklumi kedua anak tersebut yang tak ingin datang ke rumahnya. Maklum saja karena mereka masih anak-anak.
"Baiklah, tapi lain kali kau Jangan melakukan hal tersebut. Karena yang lebih penting itu adalah Oma mu bukan taman bermain itu."
"Iya Oma."
Alvarez dan juga Naomi bergantian untuk memeluk tubuh Simon. Mereka begitu bahagia dengan Simon karena Simon merupakan kakek yang baik menurut mereka sebab sering memberikan hadiah.
"Oppa, di mana mainan kami? Kemarin kau berjanji ingin memberikan kami mainan."
"Mainanmu ya? Sudah Kakek belikan. Dan sekarang kau harus masuk terlebih dahulu ke rumah kakek. Baru kau bisa mendapatkan mainan yang kau inginkan tersebut."
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruang tamu. Dita duduk sangat dekat dengan Clarissa. Karena memudahkannya untuk membicarakan beberapa hal dengan ibunya tersebut.
Simon dan Clarissa menatap Dita dengan sangat serius. Mereka tahu jika ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Dita.
"Katakanlah, kami siap mendengarkan semuanya. Jika ini karena pria tersebut maka aku akan memarahinya. Dia tak melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, kan?" Dita menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Bukan itu yang ingin aku katakan, Aku hanya ingin menyampaikan jika aku sedang hamil."
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1