
Pertemuan tersebut pun terasa sangat canggung. Baik, Abraham dan juga Simon tak ada yang mau membuka suara. Tatapan Calrissa juga sangat marah kepada Abraham yang membuat mereka tak bisa berkomunikasi dengan baik.
Bisa disebut di sini yang menjadi hostnya adalah Dita. Karena ia yang berhubungan baik dengan kedua belah pihak tersebut. Dita pun menarik napas panjang dan menyentuh tangan Abraham agar menghentikan tatapan penuh intimidasi pria tersebut kepada ayah dan ibunya.
"Abraham, apakah kau sama sekali tak ingin meminta maaf kepada ayah dan juga bunda ku, atas apa yang selama ini kau lakukan kepada anaknya dan hampir saja membuat dia trauma."
Abraham melirik Dita dengan tatapan pelan. Pria itu menghela napas cukup panjang lalu menatap ke depan ke arah Abraham dan juga Clarissa dengan pandangan yang sedikit melembut.
"Apakah tatapan seperti ini yang kalian inginkan? Tatapan yang bisa mengerti dengan keadaan kalian dan seolah-olah akulah yang paling bersalah?" tanya Abraham yang malah membuat Simon menggeram.
Dita pun terkejut dan langsung menahan Abraham agar tak banyak bicara karena tahu jika ujung-ujungnya akan seperti apa. Wanita itu sudah sangat muak kepada Abraham dan pada akhirnya ia pun mendiamkan Abraham.
Abraham bak dimusuhi satu rumah. Ia pun menarik napas dan kemudian berniat untuk meminta maaf. Tapi, caranya untuk meminta maaf seperti apa, karena Abraham merasa sangat tidak yakin meminta maaf kepada mereka. Ia malu dan sekaligus seperti sedang menjatuhkan harga diri dan reputasinya.
Wanita itu pikir hal tersebut adalah sesuatu yang sangat buruk.
"Aku tak mengerti caranya meminta maaf. Aku meminta mu untuk mengajarkan ku."
"Kau hanya tinggal mengatakan maaf saja kepada mereka. Dan mengakui semua kesalahan mu." Abraham teridam pada saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dita. Ia pikir bukan ahlinya dalam bidang hal itu.
__ADS_1
Tapi demi Dita ya pikir hal tersebut bukanlah suatu masalah. ia akan mencoba untuk meminta maaf kepada orang tua Dita, yakni teman lamanya sendiri yaitu Simon dan juga Calrissa. Walaupun hal tersebut sangat memalukan bagi Abraham. Abraham pun menghela nafas panjang.
"Clarissa, Simon. Aku sungguh meminta maaf kepadamu telah membawa anakmu. Kupikir kau bisa memaafkan semua kesalahanmu walaupun itu berat. Karena memang aku merasa tak begitu bersalah kau mengerti bukan."
Clarissa dan Simon pun saling pandang. Rupanya pria itu mengakui kesalahannya tapi masih terdapat kata yang membela diri. Tapi ia Pikir memang tak ada salahnya jika Abraham melakukan hal tersebut.
"Abraham, Kau rupanya masih sangat gigih dengan pendirian mu, karena hal tersebut memanglah benar, jadi aku memaafkan kesalahan mu pada ku. Tapi aku tidak tahu dengan Calrissa, apakah dia akan memaafkan mu atau tidak. Kau juga harus meminta maaf kepada dia."
Abraham menetap ke arah Clarissa. Sejenak kedua insan tersebut pun saling memandang. Seketika Clarissa teringat akan masa lalu yang membuatnya malu sendiri. Sementara Abraham dia hanya biasa-biasa saja.
"Clarissa kau sudah tahu mungkin maksud tujuanku untuk meminta maaf kepadamu. Semua ini memang disuruh oleh Dita. Tapi aku harap dengan begini kau bisa merestui hubunganku bersama wanita itu. Tapi aku tak mau memaksa juga kau memaafkanku atau tidak, karena aku tetap akan membawa Dita."
Clarissa menatap ke arah Dita yang menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka jika putrinya itu akan menerima Abraham begitu saja. Padahal sudah sangat jelas jika mereka terpaut umur yang sangat jauh. Dan Clarissa tak habis pikir Di mana letak otak kita hingga ia mau menerima Abraham begitu saja. Apakah pikirannya sudah diracuni oleh Abraham? Dia ingin bertanyakan hal itu tapi takutnya Abraham akan tersinggung dan akan membuat masalah baru.
Abraham memutar bola matanya muak. Padahal wanita ini tahu dengan jelas jika Abraham bukanlah orang yang seperti itu. Mungkin karena pengetahuannya akan hal tersebut sehingga Ia melakukan hal itu agar membuat rendah dirinya.
Abraham menatap ke arah Dita yang memohon agar Ia tetap melakukan apa yang disuruh oleh Clarissa.
Demi Dita ia rela dipandang rendah di depan keluarga Dita yang merupakan sahabat lamanya. Abraham pun menghilang nafas panjang dan kemudian berlutut di depan Clarissa.
__ADS_1
Baik Simon dan Clarissa tak menyangka jika Abraham akan melakukan hal itu. Ia pikir pria tersebut tak akan mau karena mengingat wataknya yang sangat keras serta teguh dengan pendiriannya.
"Clarissa aku meminta maaf kepadamu. Aku tahu aku salah karena telah membuatmu sakit-sakitan. Ini memang salahku dan hampir ingin menyakiti anakmu. Dan ku harap kau mengerti akan hal itu."
Claritas sebenarnya masih tak ingin memaafkan. Karena menurut dirinya maaf yang diberikan oleh Abraham tak sebanding dengan rasa sakit hati yang dia terima. Walau begitu Ia juga tak tega melihat Abraham yang terus berlutut. Apalagi Dita sangat mencintai pria itu.
"Dan karena anakku pulalah aku memaafkanmu. Aku menitipkan Dita kepadamu. Jika suatu saat aku mendengar kabar buruk tentangnya maka kau siap-siap akan mendapatkan amarahku. Aku takkan membiarkan anakku hidup sengsara. Dan aku pikir kau mengerti akan hal itu."
Abraham menarik nafas panjang dan menganggukkan kepalanya. Ia pun mengangkat kepalanya yang tadi bersujud di depan Clarissa.
Kemudian laki-laki tersebut pun memandang ke arah Dita. Seakan-akan ia tengah bertanya apakah kita sudah puas dengan apa yang ia lakukan.
"Apakah kau sudah mengerti dengan semua ini? Ini adalah masalah kami dan kau harus ikut terkena imbasnya. Dan aku juga telah meminta maaf seperti apa yang kau katakan. Jadi tak ada hal lain lagi kan yang harus aku lakukan?"
Dita tersenyum tipis. Ada hati yang sangat bahagia melihat Abraham telah berhasil melewati tantangan tersebut. Untuk menghargai apa yang telah dilakukan Abraham Dita pun menganggukkan kepalanya.
"Ya aku sudah melihat semuanya. Kau hebat telah bisa mengakui semua kesalahan mu."
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.