
Setelah penantian yang sangat panjang, akhirnya Dita kembali sadar dan wanita itu bisa melihat indahnya dunia.
Ia menatap ke arah ayah dan ibunya yang melemparkan senyum tulus ke arahnya. Pada saat itu juga Dita merasa menjadi orang yang paling memiliki kebahagiaan karena mereka ada di saat Dita membutuhkan mereka.
"Bunda. Dita rindu," adu Dita sambil menitikkan air matanya. Ia sudah tahu mengenai kesehatan Clarissa yang kembali kambuh karena kehilangan dirinya. "Maafkan Dita membuat Bunda sakit. Dita janji tidak akan mengulangi perbuatan Dita lagi," ucap Dita dengan linangan air mata.
Clarissa awalnya ingin marah kepada Dita yang telah membuat banyak orang khawatir kepadanya dan jantungnya saja hampir copot karena wanita itu. Namun keinginan tersebut langsung melebur di hatinya tatkala ia melihat betapa sang anak sangat menyedihkan dan juga membutuhkan peran dari mereka semua.
"Maafkan Bunda yang tidak mengajak kamu. Seharusnya Bunda aja kamu. Bunda tahu kamu dari dulu sangat ingin ke desa, kan?"
Dita mengangguk-angguk kan kepalanya. Karena memang itu yang sudah lama ia inginkan. Ia ingin menikmati betapa asrinya desa dan juga di desanya.
Sayangnya ia kemarin tidak diajak karena Dita harus bersekolah dan hal itu pulalah yang selalu ditekankan sang ayah agar Dita menurut.
Pada akhirnya mereka pun tahu akhir dari pemaksaan itu. Simon juga teramat menyesal.
"Sayang, kalau Bunda boleh tahu, kenapa luka di belakang kamu? Apakah seseorang ada yang menyakiti kamu? Cerita aja. Bunda akan dengerin semua penjelasan kamu. Kamu tau, kan kalau bunda sayang sama kamu?"
Dita mengangguk. Ia bukan tidak mempercayai ibunya. Akan tetapi Dita belum sanggup menceritakan penderitaan nya kepada sang ibu.
Ia sangat malu kepada dirinya yang sudah kehilangan hal yang paling berharga di usianya yang masih sangat muda.
"Dita belum siap."
"Tidak apa-apa sayang. Jika benar ada orang yang menyakiti kamu, Bunda dan Ayah akan memproses dia."
Dita menatap ke arah Clarissa. Matanya memancarkan rasa terharu yang sangat dalam. Tapi ada hal yang ingin ia sampaikan tapi mulutnya sangat kelu untuk mengatakan hal itu.
"Bunda. Dita mau tidur."
"Kamu lelah? Tidur lah. Bunda akan menunggu kamu di sini."
Dita langsung menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin sang ibu kembali sakit karena mengurus dirinya.
"Bunda tidak perlu. Karena Dita bisa menjaga diri Dita sendiri. Percayalah sama Dita. Dita juga tidak ingin Bunda sakit karena Dita lagi."
Sang ibu menarik napas panjang dan menganggukkan kepalanya. Baiklah, untuk saat ini ia akan mengalah kepada anaknya.
__ADS_1
"Oke-oke sayang. Bunda akan istirahat juga di kamar ini."
Tak lama suster pun datang sambil membawa brankar. Ini semua dilakukan atas permintaan Clarissa yang ingin sati ruangan dengan anaknya. Simon juga tak ada pilihan lain.
Memang lebih bagus satu ruangan jadi dia bisa mengurus keduanya sekaligus.
"Dita. Kamu kalau ada apa-apa panggil aja Bunda."
Dita mengangguk. Ia pun tersenyum tipis. Bundanya sangat menyayangi dirinya. Bagaimana jika bundanya tahu jika sesuatu telah terjadi padanya. Apakah sang ibu akan merasa sangat kecewa kepadanya?
"Bunda maafkan Dita," lirih Dita dengan air mata yang tertahan.
Ia hendak menangis setiap kali mengingat betapa hina nya ia bersama Abraham. Tak pernah dibiarkan beristirahat dan selalu dilecehkan oleh pria itu.
__________
Abraham pergi ke kota. Ia pun sudah melakukan aksinya untuk memata-matai perusahaan Simon. Seperti saat ini ia melihat Simon setelah sekian lama.
Tapi, Abraham masih bungkam dengan apa yang ada di depan matanya. Dirinya masih ingin melihat sejauh mana sepak terjang Simon dalam menyelidiki siapa dirinya sebenarnya.
"Ternyata itu benar-benar kau. Aku tak sabar ingin menunggu kesempatan untuk berduel dengan mu." Pada dasarnya Simon dan Abraham adalah rival sejati.
"Aku tidak percaya jika kau memiliki hubungan masa lalu dengan dia. Aku tak begitu mengenal dirinya tapi aku tahu jika dia adalah orang yang cukup kuat dalam bisnis."
"Bahkan kau tidak akan pernah menyangka apa yang telah terjadi di masa lalu dma membuat aku menjadi orang seperti ini."
Abraham mengenang masa lalunya. Saat ini Aldara masa depan, tapi bayang-bayang itu terus menghantui dirinya. Entah apa penyebab ia tak pernah puas untuk menghabisi orang lain.
Bisa dikatakan jika Abraham terlalu berlarut-larut menyimpan dendam hingga dendam itu benar-benar mengubah kepribadian dirinya.
"Aku yakin sesuatu yang tak pernah aku tahu adalah hal yang cukup menarik," ucap Petrus.
Abraham menarik napas panjang dan mendongakkan kepalanya. Memang sangat menarik.
"Lakukan penyelidikan lebih dalam. Aku ingin tahu di mana dirinya menempatkan Dita."
"Apakah kau ingin menculik Dita lagi?" tanya Petrus yang langsung diam saat melihat tatapan Abraham dari balik topeng yang sangat tajam.
__ADS_1
Setelah itu barulah Abraham pergi dan Petrus melakukan aksinya. Ia mengikuti Simon pergi demi mendapatkan informasi lebih dari pria itu.
Orang-orang yang berada di sekitar perusahaan Simon sangat heran tatkala melihat ada pria misterius menggunakan topeng.
Simon yang kebetulan ingin pergi dja menuju ke rumah sakit harus mengurungkan niatnya saat salah satu anak buahnya mengirimkan singnyal bahaya.
Ia juga bisa melihat dari CCTV yang sedang ditampilkan. Ada seorang pria bertopeng yang terlihat malah sengaja menampakkan diri di cctv itu untuk memancing dirinya.
Simon berpikir keras. Siapakah gerangan pria itu. Dan apa yang telah ia lakukan kepada anaknya hingga bahkan hal-hal buruk harus menimpa anaknya.
Bukan ia tak tahu jika sang anak mendapatkan kekerasan seksual. Dan iya yakin ini ada hubungannya dengan pria tersebut. Selain itu ia juga tahu jika pria tersebut memperlakukan sang anak dengan kasar.
"Aku tidak akan membiarkan kau bebas begitu saja. Kau sudja mencari masalah dengan keluarga ku. Dan aku yakin jika aku bisa membunuh mu."
Simon putar balik ke perusahaannya untuk mengejar pria tersebut. Dia belum sadar jika dirinya sudah terpancing dengan jebakan Abraham.
Abraham yang tahu bahwa dirinya tengah dikejar oleh Simon tampak sangat santai.
Ia mengarahkan Simon ke tempat sepi. Simon pun memblokir jalan Abraham.
Kemudian pria itu keluar dari dalam mobil dan menghampiri Abraham.
"Siapa kau?" Simon langsung menodong pria itu dengan segala pertanyaan.
Abraham tersenyum tipis.
"Kau tahu siapa aku?"
"Apa yang sudah kau lakukan kepada anak ku?"
"Sepertinya kau sudah tahu jawabannya."
"Bajingan kau!!!"
__________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN MEMBERIKAN KOMENTAR.