Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 39


__ADS_3

Seketika tubuh Dita menegang saat Abraham yang tiba-tiba membuka suara dan bertanya kepada Naomi. Jika sudah begini Naomi pasti sangat penasaran dan rasa ingin tahunya bisa membuat anak perempuan itu pasti akan tahu segalanya.


Jika Abraham sudah memanfaatkan jalan tersebut Otomasi ia tak akan bisa lepas dari pria itu. Ia akan memanfaatkan dirinya bagaimana pun juga.


Membayangkan hal tersebut membuat bulu kuduk Dita ngeri. Tak mungkin ia akan terjebak di sini selamanya. Dita sungguh sama sekali tak berharap hal itu.


Wanita tersebut menarik napas panjang dan melindungi Naomi dari balik tubuhnya. Ia menatap tajam ke arah Abraham.


"Apa yang kau ingin lakukan? Aku sama sekali tak akan membiarkan mu begitu saja kepada anak ku. Pergi kau dari sini."


Lagi-lagi Abraham tertawa sinis mendengar usiran dari Dita. Ia pun mengehela napas panjang dan kemudian berkacak pinggang.


"Okey, aku akan mengatakannya kembali jika ini rumah ku. Dan kau tak berhak untuk mengatur sang pemilik rumah."


Dita pun mendengus dan membuang pandangannya. Selalu saja pria itu bersikap demikian kepadanya. Seolah-olah ia adalah pengendali seorang Dita.


"Maka dari itu kau harus lepaskan aku. Aku sama sekali tak akan Sudi tinggal di sini. Enyahlah kau bajingan. Aku muak kepada mu. Kau adalah orang terburuk yang pernah aku temui."


Dita bergebu-gebu saat mengatakan hal tersebut. Wanita itu pun menarik napas panjang dan mendongak untuk menghalau air mata jatuh ke pipinya.


"Apakah aku terlihat begitu tega menyakiti seseorang? Aku hanya ingin kau ada di sini dan juga membangun keluarga dengan ku."


Dita pun menatap ke arah Abraham dengan pandangan serius. Ia sangat terkejut saat pria itu menyebutkan keinginannya.


Melihat Abraham yang tampak seperti orang yang sudah sangat tua membuat Dita pun tak bisa berbuat apapun. Walaupun ia tampak sudah hampir berkepala empat nyatanya dia terlihat sangat muda, seksi, dan juga ya menggairahkan. Dita mengakui hal itu walau hal tersebut cukup melakukan bagi dirinya.


Memang pesona yang dimiliki oleh Abraham tak mudah untuk ditolak begitu saja. Dita bahkan sangat bingung dengan semua ini. Otaknya mengatakan untuk pergi setelah apa yang ia lakukan kepada hidupnya. Tapi, entah kenapa ada sebagian hatinya pula yang ingin menetap di ini bersama Abraham. Sebut saja ia wanita yang sangat konyol.


"Abraham nama ku, dan aku tahu semua orang akan terpesona saat melihat ku. Termasuk kau yang sama sekali dari tadi tak bisa mengentikan pandangan mu itu."


Seketika nata Dita membulat saat mendengar apa yang diucapkan oleh pria itu.

__ADS_1


Yang benar saja jika pria tersebut tengah menyindir dirinya. Tapi mau bagaimana lagi itulah kenyataannya dan ia memang terpesona kepada Abraham. Mengetahui hal itu Dita sungguh sangat malu kepada diri sendiri yang bisa-bisanya terjebak pada pesona pria tersebut.


"Apa yang baru saja kau katakan? Kau terlalu percaya diri," ucap Dita mencibir pria itu.


Abraham hanya tersenyum tipis.


"Kau sungguh tak percaya rupanya. Kau adalah wanita yang sangat keras kepala. Aku pun mengakui hal itu. Tapi itu cukup menyenangkan juga jika kau adalah orang yang sangat keras kepala. Satu lagi aku akan memanfaatkan anak-anak dan pesona mu untuk menjerat mu. Aku mengakui itu," ujar Abraham yang sangat berterus terang tanpa takut sama sekali kepada Dita. Bisa dikatakan Dita juga merasa salut kepada laki-laki tersebut.


"Kau benar-benar gila. Aku membenci mu dan sungguh sangat membenci mu," ucap Dita sambil mendengus.


Abraham memandang ke arah Naomi dan juga Alvarez yang melihat pertengkaran sekilas dirinya dengan Dita. Ia pun tersenyum tipis dan lalu kemudian berjongkok di depan Naomi. Seketika itu pula tubuh Dita merasa meriang dan ia takut jika pria itu akan mengatakan yang sebenernya kepada anaknya. Jika seperti itu ia harus bagaimana?


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Kau ingin tahu siapa ayah mu?" Naomi pun mengangguk.


"Jangan sekali-kali kau mengatakannya."


"Aku adalah ayah mu. Mulai saat ini kau harus memanggil ku Papa."


Abraham mengatakannya dengan enteng membuat Dita langsung tak berkutik saat kata-kata itu meluncur dengan gampangnya dari mulut Abraham.


"Kau benar-benar keterlaluan Abraham!" ucap Dita yang sangat marah kepada pria itu yang berkata seenak jidatnya saja kepada anak-anaknya.


Naomi dan Alvarez terkejut dan memandangi ke arah ibunya. Dita dengan air mat tertahan berusaha menggeleng meyakinkan sang anak. Tapi sayangnya sudah terlambat.


"Papa!" seru Naomi yang sangat bahagia.


________


Naomi saat sudah mengetahui jika ayahnya adalah seorang Abrhama langsung tak ingin lepas dari pria itu dan selalu ingin bersamanya.

__ADS_1


Sedangkan Dita begitu frustasi saat tahu anak-anaknya mulai lengket kepada Abraham. Abraham bisa menggunakan kepolosan sang anak untuk merebut hatinya.


Dita sungguh merasa sangat tak tega karena pria itu melakukan hal tersebut. Entah di mana hari nuraninya.


"Papa aku ingin main itu!" teriak Naomi kepada Abraham saat pria itu membawa anak perempuan tersebut ke kolam renang.


Alvarez turut meramaikan. Ia pun bermain dengan Abraham dan juga merengek ingin bermain air.


Abraham pun mengangguk. Ia pun turun ke kolam renang dan bermain bersama dua anaknya yang sangat menggemaskan. Dita melihat dari kejauhan dengan pandangan yang sangat menyedihkan. Entah kenapa ini semua bisa terjadi.


"Kau benar-benar tidak malu apa?" tanya Dita dalam hati yang niatnya ingin mengumpati Abraham yang tak memiliki rasa malu sama sekali. Ketika anaknya sudah besar ia malah mengambil perhatian mereka padahal ia sama sekali tak ikut mengurus nereia dari kecil.


"Kau begitu menyebalkan," ucap Dita dengan wajah yang memerah marah padam. Dan rupanya kekesalan Dita itu juga dilihat oleh Abraham.


"Ck, kau terus berada di sana. Kemarilah."


Dita tak akan pernah menuruti apa yang diinginkan oleh pria itu. Tentu saja ia tak akan menurutinya karena ia sendiri merasa sangat tak sudi untuk diperintah oleh pria tersebut.


"Aku tidak mau."


Dan liciknya Abraham lagi malah membisikkan sesuatu kepada Naomi agar anak itu memanggil ibunya.


"Mama kemarilah bermain bersama kami. Pakah kau sama sekali tak ingin bermain bersama kami?" tanya Naomi dengan raut yang sedih.


Hal itu benar-benar menghipnotis Dita dan membuat Dita tak bisa apa-apa selain menurutinya.


Dita pun berdiri lalu menghampiri ke kolam renang. Tanpa ia sadari, Abraham pun menarik tubuhnya hingga ia terjatuh ke dalam kolam renang tersebut.


_________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2