
Dita menunggu Abraham di dalam kamar. Sedangkan Abraham tak tahu jika Dita tengah menunggunya dan maka dari itu ia lebih berlama-lama di dalam ruangan kerjanya.
Namun melihat wajah Dita yang terlihat amat kelelahan tengah duduk di atas kasur membuat Abraham pun sadar apa yang tengah dilakukan oleh wanita itu, yaitu tengah menunggunya.
"Kau menunggu ku?" Tanya Abraham dan Dita pun mengangguk.
Dita menepuk kasur yang ada di sebelahnya bermaksud agar Abraham duduk di sampingnya. Untungnya insting Abraham cukup kuat hinga ia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dita.
"Kenapa kau menunggu ku? Tumben sekali kau melakukan hal tersebut," ucap Abraham yang sama sekali tak mengerti dengan Dita yang menunggunya seolah-olah ada hal yang serius ingin dibicarakan oleh wanita tersebut.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu," ucap Dita kepada Abraham yang membuat rasa penasaran Abraham pun kian meningkat.
Tapi, dugaannya di awal benar ternyata. Abraham pun memandang Dita dengan cukup serius.
Dita mengerutkan keningnya saat melihat tatapan Abraham ada yang berbeda. Ia pun menggelengkan kepalanya mencoba untuk tak memikirkannya dan ia fokus akan membicarakan yang menjadi sumber masalahnya itu kepada Abraham.
"Alvarez bukan anak ku dan juga anak mu. Ku pikir kau sudah tahu bukan?" Abraham pun mengangguk karena pada dasarnya ia sudah cukup lama mengetahui hal tersebut. Maka dari itu yang menerima Alvarez begitu saja.
"Ya aku sudah mengetahuinya. Lantas yang menjadi sumber masalah mu itu apa? Apakah ini yang kau ingin bicarakan kepada ku sehingga kau terlihat sangat serius?" tanya Abraham pada Dita yang terlihat kebingungan itu.
Dita pun menganggukkan kepalanya. Karena memang hal itu yang selalu saja membuat ia kepikiran dan takut jika Abraham tak dapat menerima Alvarez dengan lapang dada. Ia tak bisa membayangkan nanti berapa kecewa nya Alvarez saat suha mengetahui semuanya. Belum lagi akan memikirkan bagaimana nanti Alvarez saat tahu jika dia bukanlah anak kandung.
"Jika kau menyayangi nya aku akan menerimanya. Tapi, jika kau tak menyayangi dia, maka aku juga tak bisa menyayanginya. Semua itu ada di tangan kamu sayang."
Dita terdiam saat Abraham mengatakan hal tersebut. Seperti ada kupu-kupu yang terbang di atas perutnya, ia merasa sangat Dejavu.
Perasaan ini berbeda dengan perasaan seperti biasanya. Oh Tuhan ada apa dengannya? Apakah sesuatu telah terjadi pada dirinya?
Dita berharap jika ia tak jatuh cinta kepada Abraham karena hal itu akan semakin rumit. Tapi, tampaknya keadaan tak mendukungnya dan ia pun mulai jatuh cinta kepada Abraham.
__ADS_1
Jika Abraham mengetahui hal itu mungkin ia akan menertawakan Dita. Dita dahulu sangat gencar tak ingin bersama dengan dirinya.
Namun, sialnya entah kenapa ia malah bisa jatuh cinta kepada Abraham. Wajahnya bahkan memerah dalam kurun waktu yang sangat cepat setelah membayangkan ucapan sayang keluar dari mulut Abraham tadi.
"Abraham!" ucap Dita dengan suara yang bergetar.
Abraham pun tahu apa yang saat ini tengah dialami Dita. Ia tersenyum misterius seolah tengah mengejek Dita.
"Kenapa Dita? Apakah sesuatu telah menggangu diri mu? Wajah mu sangat memerah. Sepertinya kau tak bisa lagi mengelak dari diri ku mengenai perasaan mu."
Baiklah kali ini ia tak bisa lagi berkata-kata dan Abraham telah menang. Dita pun menarik napas panjang dan menundukkan kepalanya. Sepertinya ia adalah orang yang sangat bodoh karena bisa jatuh cinta kepada orang yang telah menghancurkan kehidupannya.
"Apakah aku adalah orang yang sangat bodoh hingga dengan mudahnya jatuh cinta kepada orang yang telah menghancurkan kehidupan ku?" tanya Dita dengan suara pelan.
Abraham terkejut saat mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Dita. Seolah semuanya yang ia dengar adalah mimpi. Ia pun menatap Dita dengan wajah yang penuh bahagia.
Ia merutuki dirinya yang selalu saja salah berucap dan dalam keadaan tak sadar. Ia pikir jika selamanya dirinya seperti ini malah akan membawa bencana buruk bagi dirinya.
"Kau mendengarnya?" tanya Dita pelan berharap jawaban yang akan diberikan oleh Abraham seusai dengan eks Open ekpektasinya.
"Tentu saja aku mendengarnya. Jika aku memintanya selain lagi kau mengucapkannya apakah kau akan melakukannya?"
"Tidak!"
"Baiklah. Jadi benar apa yang aku dengar tadi. Aku pikir hanya aku yang salah dengar."
Mata Dita pun membulat. Jadi, Abraham masih ragu dengan apa yang didengarnya tadi hingga ia meminta dirinya untuk mengulang lagi ucapan itu. Dan bodohnya Dita tak mengatakannya. Andai saja ia tak bodoh maka ia akan terhindar dari rasa malu ini.
"Kenapa kau menutup wajah mu? Dia sangat cantik dan tak pantas kau tutup. Lepaskan tangan mu, aku ingin melihat wajah mu yang cantik itu," ucap Abraham yang sengaja menggoda Dita.
__ADS_1
Dita pun tak bisa kabur dengan rasa malu yang saat ini telah dipendam oleh dirinya. Dita pun menghela nafas panjang dan melepaskan tangannya dari wajahnya.
"Ya aku mulai mencintaimu. Entahlah tapi aku tak bisa mengatakannya dengan benar. Itu hanya dugaanku saja."
"Tapi aku sangat yakin jika kau memang mencintaiku," ucap Abraham yang tanpa sadar semakin mendekatkan wajahnya kepada Dita.
Anindita terkejut saat melihat wajah Abraham yang hanya sejengkal dari wajahnya. Lantas wanita tersebut pun hendak mundur untuk menghindari wajah Abraham yang kian mendekat. Abraham dengan gercap langsung menahan pinggang Dita.
"Kau pikir kau bisa melepaskan dirimu dariku? Tidak akan bisa sayang," ucap Abraham dengan nada yang sangat sensual. Dan karena ucapan tersebut pulalah membuat Dita tak bisa berkutik sehingga Ia seperti tengah dipaku di tempat.
Dan yang paling membuat Dita tak bisa melawan adalah pada saat wajah itu mulai menyentuh wajahnya. Terutama bibir pria itu telah berada di atas bibirnya. Dita bak seperti orang bodoh dan membiarkan Abraham melakukan hal tersebut.
Dita hanya diam dan menikmati lu.mat.an pria itu pada bibirnya. Ia sangat menikmati hal tersebut dan maka dari itu ia tak melarang saat Abraham melakukan hal tersebut.
Sementara itu, Abraham yang diberikan lampu hijau pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata. Ia melakukannya dengan sangat lembut hingga membuat Dita sendiri merasa sangat bergairah.
Hingga pada akhirnya mereka tak sadar dengan apa yang saat ini tengah mereka lakukan. Kemesraan mereka pun terus berlanjut hingga pada akhirnya Dita terjatuh ke kasur dan Abraham berada di atasnya.
Ia memejamkan mata dan membiarkan Abraham melakukan apapun kepada tubuhnya. Karena Dita sudah sangat pasrah dan melawan pun ia tak akan mau karena apa yang saat ini ia rasakan adalah sesuatu yang sangat nikmat dan tak mau ia lewatkan.
Apalagi ia adalah wanita dewasa yang merindukan sentuhan ini dari Abraham.
"Aku rasa membuatkan adik untuk Alvarez dan juga Naomi bukanlah ide yang buruk."
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1