
Dita pun memutuskan untuk kabur secara diam-diam agar pelarian kali ini tak gagal. Sambil diiringi dengan doa, Dita sangat optimis jika dirinya bisa lepas dari tempat membahayakan ini.
Memang belum tentu nasibnya akan baik jika ia telah keluar dari sini. Karena bisa saja ia akan bertemu dengan binatang buas di hutan yang sangat luas seperti ini.
Mustahil ia tak menemukan binatang berbahaya sama sekali. Tapi, Dita diam-diam telah mencuri senjata milik Abraham. Hingga membuatnya yakin untuk kabur dan jika ada yang membahayakannya ia bisa melindungi dirinya.
Sementara itu mungkin Abraham akan sangat syok saat tahu bahwa Dita tak lagi ada di rumahnya. Ia harap pria itu tak akan pulang dengan cepat hingga semakin lambat pula ia menyadari jika dirinya telah kabur.
"Maafkan aku Sonya karena telah menjebak mu. Untuk kali ini saja aku meminta bantuan mu, semoga kau tidak kenapa-kenapa bersama dia di sana." Dita menarik napas panjang dan lalu kemudian memutuskan untuk pergi.
Wanita itu sangat berhati-hati dengan setiap langkah yang ia pilih. Karena sekali saja dia melangkah maka Dita yakin dirinya tak akan bisa kembali dengan utuh.
Ia pun menyusuri hutan yang penuh dengan semak belukar. Karena Dita memilih jalan yang rimbun ketimbang jalan yang biasa dilalui Abraham juga jalan yang membuatnya berada di sini. Karena jika ia melewati jalan itu bisa saja dirinya ditemukan dengan mudah oleh Abraham.
Dita tak bisa menghiraukan tubuhnya yang luka akibat rumput yang sangat tajam. Selain itu banyak ranting kayu dan juga nyamuk yang membuat Dita sangat tidak tahan. Tapi ia terus bertahan agar bisa bebas dari tempat ini.
"Tuhan, bantu aku untuk kali ini. Aku sangat membutuhkan bantuan mu. Tunjukkan kuasa mu bahwa kau sangat menyayangi ku," harap Dita yang penuh dengan makna.
Perempuan itu kemudian kembali melanjutkan pelariannya meski dirinya sangat ragu bisa sampai di sini dengan cepat.
"Apakah aku akan mati di hutan ini?" Sebab Dita sama sekali tak ada membawa makanan yang membuat dirinya bisa saja kelaparan di jalan lalu meninggal.
Dita menggelengkan kepalanya menepis segala prasangka buruk yang selalu memenuhi pikirannya. Wanita itu menarik napas panjang dan mencoba untuk menenangkan diri.
Kemudian ia pun kembali melangkah. Tapi, suara orang-orang yang sedang mengobrol mengejutkan Dita. Dita pun menoleh ke sana dan kemari untuk mencari sumber suara tersebut.
Tubuhnya bahkan sampai lemas karena berpikir mungkin itu adalah anak buah dari Abraham. Jika benar begitu itu artinya Abraham sudah menyadari kepergiannya.
Dita merasa tak tenang karena mungkin pelarian serta mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk kabur akan berakhir dengan sia-sia.
"Tidak bisa. Aku harus bersembunyi dengan cepat," ucap Dita dan langsung lari.
Tapi rupanya kerusuhan Dita di dalam semak itu disadari oleh mereka.
__ADS_1
"Siapa itu?" tanya orang yang tadi mengobrol dengan temannya.
Simon pun mengerutkan keningnya. Apakah barusan ada orang di sin. Apa jangan-jangan itu adalah mata-mata?
"Kejar dia. Bisa jadi itu adalah mata-mata."
Untuk kali ini Simon tak ingin kecolongan hingga dirinya kembali diteror dan pencarian anaknya akan terhambat.
Dita sadar jika orang itu tengah mengejarnya. Ia sangat ketakutan dan berusaha untuk tak tertangkap.
Dita menangis karena tak sanggup membayangkan bagaimana nanti dirinya akan ditangkap lagi lalu disiksa dengan sangat sadis karena telah berani berencana kabur.
Hingga wanita tersebut merasa sudah tak sanggup lagi untuk berlari dengan cepat dan pada akhirnya ia menyerah dan terjatuh ke tanah karena terlalu lelah berlari. Napasnya ngos-ngosan dan Dita hanya bisa berpasrah diri.
Ia mendengar suara derap langkah kaki dan juga suara orang yang mencoba untuk masuk ke dalam semak belukar.
Wanita itu menangis sejadi-jadinya saking takutnya. Ia berusaha untuk tak memandang ke arah para pria itu yang saat ini bisa ditebak oleh Dita mereka sudah menemukan keberadaan tubuhnya.
Orang-orang itu sangat terkejut dan tak menyangka jika itu adalah Dita. Ia memanggil atasannya dan Simon pun dengan cepat langsung menghampiri Dita.
Suara itu membuat Dita langsung berhenti menangis. Entah kenapa ia sangat merasa familiar dengan suara itu. Dita juga tak merasakan ketakutan ketika pria itu menyebut namanya.
Ia pun memberanikan diri untuk memandang ke arah laki-laki tersebut dan betapa terkejutnya saat melihat jika orang itu adalah ayahnya.
"Ayah!" panggil Dita dan langsung berusaha untuk memeluk tubuh ayahnya.
Simon sangat terharu melihat putri kecilnya masih hidup dan dalam keadaan masih utuh. Ia pun menghampiri Dita dan memeluk tubuhnya.
"Nak, akhirnya aku menemukanmu."
"Ayah! Hiks, Dita takut. Dita mau pulang. Dita tidak ingin di sini. Antar Dita pulang, Ayah," pinta Dita yang penuh dengan permohonan.
Simon menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia akan mengantarkan Dita pulang. Karena dari awal juga tujuan utama dirinya adalah menemukan Dita.
__ADS_1
"Iya sayang kita akan pulang. Tenang saja dan jangan menangis lagi," ucap Simon mengusap kepala Dita.
___________
Abraham yang mendengar Dita kabur pun sangat marah besar. Pria itu bahkan baru saja menyiksa Sonya yang tak becus untuk bekerja.
"Dasar sialan. Tidak ada yang benar di sini. Semuanya sama-sama tidak becus!" teriak Abraham kesal dan memukul mejanya.
Pria itu mengambil pisau yang terletak tak jauh dari dirinya. Ia menggenggam pisau itu saat merasa frustasi agar dirinya bisa tenang tatkala melihat darah.
Pria itu menarik napas panjang dan mulai untuk mendinginkan kepala. Ia harus menemukan Dita bagaimana pun caranya.
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi." Inilah yang juga perasaan yang sama ia rasakan ketika mendapatkan pengkhianatan dari sosok itu.
Perasaan sakit bercampur amarah yang sudah sangat lama tak ia rasakan dan sekarang telah ia rasakan kembali ketika Dita menghilang dari dirinya.
"Akan aku pastikan jika diri mu hanyalah untuk ku. Tak ada satupun orang yang bisa membawa mu pergi dari sini. Bahkan meskipun orang itu adalah dirimu sendiri."
Abraham keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke arah dapur dan melihat pintu yang terbuka lebar bekas pelarian Dita.
Pria itu hanya menatap dingin pintu tersebut sembari mengepalkan tangannya. Hingga luka di telapak tangannya kian mengeluarkan darah.
Petrus hanya memperhatikan bagaimana Abraham yang sangat frustasi. Pria itu belum pernah melihat tuannya seperti saat ini.
"Apakah kau sudah mengerahkan yang lain untuk mencarinya?"
"Sudah Tuan."
"Bagus. Jika kau berhasil maka kau boleh mengambil salah satu dari anak buah ku untuk menjadi santapan mu."
Petrus pun langsung menyunggingkan senyum. Ia sungguh tak sabar menantikan hal itu.
___________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.