
Dita memutuskan untuk tetap ikut dengan Abraham. Karena ia sudah tahu dengan masa lalu Abraham yang bisa menggila karena cinta maka ia sekarang harus mengorbankan diri agar cerita masa lalu tak terulang lagi dan ia berharap dengan begini bisa membangun keluarga bersama dengan Abraham.
Jika sudah begitu ia sangat yakin bisa membuat Abraham juga merasakan kehangatan keluarga yang sama sekali belum pernah dirasakan oleh pria itu.
Karena Dita pun tahu bagaimana kehidupan keluarga Abraham yang sebenarnya yang juga jauh dari kata baik.
Abraham telah menceritakan semuanya dan itu dibenarkan oleh Simon ayahnya sendiri. Jadi tidak mungkin Abraham berbohong kepadanya.
Lagi pun Naomi dan Alvarez membutuhkan seorang ayah. Mungkin Abraham akan bisa menjadi ayah yang baik bagi Alvarez dan juga Naomi.
Sebab Dita juga melihat ada sosok ke ayahan pada diri Abraham. Hal tersebut dapat dilihat saat Abraham tengah bermain bersama Naomi dan juga Alvarez. Ia melakukan hal tersebut dengan sangat ikhlas.
Pria itu juga tampaknya merupakan penyayang anak. Naomi dan Alvarez begitu menerima kehadiran Abraham dengan baik. Dita rasa juga mereka telah sangat akrab. Dan sulit untuk dipisahkan.
"Sedang apa kau di dapur?" heran Dita kepada Abraham yang tiba-tiba mengotak-atik dapur.
Ia pun mendekati Abraham dan sangat terkejut melihat apa yang tengah dilakukan laki-laki tersebut. Abraham dengan sangat lincah memasak di dapur.
"Aku sedang memasak untuk anak-anak. Alvarez dan Naomi hari ini ingin sekali memakan pizza. Maka dari itu aku akan membuatkannya."
"Kenapa harus membuatnya sendiri? Kenapa tidak membeli saja?" tanya Dita bingung kepada pria tersebut.
Tumben sekali seorang pisikopat mau memasak seperti ini. Seolah hal itu menjadi sebuah kelangkaan bagi Dita makannya ia terheran-heran pada saat Abraham mencoba untuk memasak.
Sementara itu Abraham memasang wajah bengong. Ia pikir tidak ada salahnya untuk memasak. Lagi pula ia juga sangat hebat dalam hal memasak. Hanya saja Dita yang tak tahu akan hal itu.
"Kau selalu saja meremehkan ku. Kau bahkan tidak tahu siapa aku, aku adalah salah satu orang yang paling bisa memasak dan lebih hebat dari ibu mu. Ibu mu saja sampai iri kepada ku." Dita teridam sejenak. Entah kenapa ia merasa jika ucapan yang dilontarkan oleh Abraham adalah suatu fakta dan itu benar-benar terjadi. Jika begitu itu artinya Abraham sangatlah luar biasa dan hebat memasak.
"Wow jika seperti itu maka aku akan mengakui jika kau hebat memasak. Baiklah, makanya buktikan kepadaku agar aku bisa percaya dengan ucapan mu itu."
__ADS_1
Abraham tersenyum miring. Baiklah dia akan menunjukkan sisinya yang lain. Ia bukan saja terkenal dengan sifatnya yang jahat. Ia juga memiliki sisi positifnya yang tak akan pernah disangka-sangka oleh banyak orang.
Hari ini Abraham berhasil membuat Dita benar-benar tak bisa berkata-kata pada saat pria itu tampak menakjubkan kala ia memasak pizza untuk kedua anaknya penuh dengan kelincahan. Mulai beberapa atraksi ia tunjukkan seakan-akan seperti chief profesional.
Alvarez dan Naomi yang semula sibuk dengan permainan mereka pun pada akhirnya mengalihkan pandangannya pada sang ayah. Mereka berdecak kagum melihat sang ayah yang sangat hebat dan benar-benar di luar ekspektasi mereka.
"Aku tak menyangka jika ayah kita akan sekeren ini," ucap Alvarez sembari menghampiri sang ibu agar bisa melihat ayahnya memasak lebih dekat lagi.
"Mama! Papa benar-benar sangat hebat." Dita menatap ke arah Alvarez dan mengangguk. Ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Alvarez jika ayah mereka sangat hebat.
"Aku tak tahu jika dia bisa memasak seperti ini. Ku pikir dia hanya bisa membunuh seseorang," ucap Dita yang tanpa sadar telah mengatakan sisi buruk Abraham kepada anaknya.
"Maksud Mama?" tanya Naomi yang sadar dan sudah pasti anak itu akan terkejut saat tahu jika orang tuanya merupakan seorang pembunuh. Walaupun dia masih anak-anak tapi anak itu mengerti dengan arti kata membunuh.
"Hah?" Dita berpikir sebentar apa yang sudah ia katakan kepada anaknya hingga membuat mereka kebingungan seperti ini.
Dan pada akhirnya ia pun teringat jika telah berucap hal yang salah kepada anaknya. Dita menutup mulutnya dan kemudian menjelaskan kepada Naomi.
Abraham yang mendengar percakapan antara anak dan juga ibu pun menggelengkan kepalanya. Ia hanya mendengarkan saja apa yang akan dijelaskan oleh Dita. Dan itu sudah menjadi tanggung jawab wanita itu untuk menyelesaikannya.
"Kalian kenapa berkumpul di sini? Apakah aku benar-benar sehebat itu sehingga membuat kalian terpana dengan aksi ku?" tanya Abraham pada Dita dan juga dua anaknya.
"Ya. Kau benar-benar sangat hebat Papa!" teriak Alvarez dan menatap Abraham dengan mata berbinar.
Abraham pun terkekeh dan mendekati Alvarez. Ia pun lantas mengusap kepala Alvarez dengan sayang hingga membuahkan pekikan senang dari anak itu.
"Tentu saja aku sangat hebat. Karena aku adalah ayah kalian."
Naomi yang melihat jika Alvarez disayang oleh Abraham pun merasa iri kepada adiknya tersebut. Ia mendekati Abraham lalu meminta agar Abraham juga mengusap kepalanya. Bahkan anak itu juga sampai meminta hal yang lebih, yakni ingin digendong oleh Abraham.
__ADS_1
"Anak perempuan memang sangat manja. Jadi kau jangan kaget," ucap Dita saat melihat anaknya itu yang mencoba untuk mendapatkan perhatian dari sang ayah.
Abraham pun menarik napas panjang dan kemudian melakukan hal yang sama kepada Naomi dan lalu kemudian menggendong anak itu hingga membuat Naomi merasa amatlah senang diperlakukan seperti itu.
"Yey aku digendong Papa. Kau tidak!" Naomi sengaja ingin membuat iri Alvarez. Awalnya hal itu berhasil ia lakukan sehingga akhirnya membuat Alvarez hendak menangis. Lalu kemudian Abraham yang melihat jika adanya tanda pertengkaran dari mereka lantas ingin memberikan keadilan pada dua anaknya.
Ia pun mengangkat Alvarez dan kemudian Naomi langsung memasang wajah cemberut karena ayahnya tak bisa diajak bekerja sama.
"Kenapa Papa juga menggendong dia!" tunjuk Naomi kesal pada Alvarez.
"Kenapa kau sangat marah? Bukankah dia adalah anak ku juga?" Naomi pun tak bisa berkata-kata karena ia sudah kehabisan jawaban sehingga harus merelakan dirinya diejek oleh Alavarez.
"Baiklah."
Pada akhirnya dua kakak beradik itu pun bisa adil. Dita yang melihat hal tersebut mengembuskan napas lega. Ia pikir akan terjadi pertengkaran lagi, dan syukurlah Abraham dapat menenangkan keduanya.
Abraham meletakkan kedua anaknya di atas kursi makan. Ia juga mengambil olahan pizza nya tadi lalu menghidangkan di atas meja.
Alvarez dan Naomi yang tadi terdiam sambil menggerutu pun akhirnya berbinar kembali saat melihat Hidangan tersebut.
"Papa! Ini pasti akan sangat lezat."
"Sudah pasti. Karena aku yang memasaknya."
"Aku tidak sabar untuk mencicipinya."
Dita mendesah pelan melihat kedua anaknya itu. Ada senyuman terbit di wajahnya.
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.