
Saat di bawa masuk ke dalam ruangan tersebut, lalu Dita pun dilemparkan begitu saja hingga ia terjatuh ke lantai yang sangat keras.
Hal itu cukup membuat tubuhnya terasa remuk. Dita terisak karena mendapatkan sakit yang tak biasa dari tubuhnya. Tubuhnya ini kecil dan juga rapuh, dilempar dengan tak manusiawi tentu saja membuat dirinya akan mati rasa.
"Kau benar-benar tak berperasaan. Kau tak tahu jika tubuh ku ini sangat sakit?" tanya Dita kepada laki-laki tersebut.
"Apakah ini sudah membuat mu sakit? Tapi aku tak ingin melakukan itu saja."
Abraham pun mengeluarkan sebuah pisau dari kantong celananya. Dita yang melihat mata pisau yang berkilat tersebut lantas langsung mundur.
Wanita itu mengesot ke belakang dengan tangsi di wajahnya. Sudah cukup lega ia kemarin tak pernah melihat benda itu lagi. Kini pisau yang biasa menggores tubuhnya tepat berada di depannya.
"Apa yang kau inginkan? Jangan mendekat."
"Kau sangat bodoh karena memerintahkan orang yang sama sekali tak ingin diperintah," ucap Abraham sembari tersenyum miring.
Laki-laki itu kali ini lebih membahayakan berkali-kali lipat. Dita menghela napas panjang dan berusaha tenang, akan tetapi ia tak bisa membohongi perasaannya yang sangat ketakutan.
"Dita. Kau benar-benar membuat maslah yang sangat fatal. Kau menyentuh foto yang bahkan tak pernah ku sentuh," ujar Abraham yang membuat Dita terkejut. "Dan kau tak berdosanya menyentuhnya."
"Memangnya dia siapa?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja akibat rasa penasarannya.
Abraham yang tak ingin banyak bicara lantas terjebak dengan pertanyaan Dita. Wanita itu mengedipkan matanya berapa kali. Hal tersebut terjadi karena ia baru sadar dengan apa yang ia tanyakan. Harusnya dalam situasi ini lebih baik ia diam daripada banyak bertanya. Namun apa sekarang yang ia lakukan? Menambah masalah dengan bertanya hal yang mungkin itu sangat sensitif bagi Abraham.
Abraham awalnya sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia diam beberapa menit dan itu cukup membingungkan Dita. Namun, apa yang selanjutnya pria itu lakukan membuat Dita terkejut. Pria itu mendongak ke atas tampak seperti orang yang sangat merasakan kehampaan.
"Aku malas membahas ini. Dan aku harap kau tidak bertanya lagi. Kau cukup tahu alasanku Kenapa kau yang aku pilih. Semoga dengan kau melihat dirinya kau pun paham."
__ADS_1
Bagi Abraham pria itu mungkin mengira jika Dita sudah menemukan jawaban yang ia ingin ketahui dari dulu. Padahal Dita malah semakin dibuat bingung olehnya. Ia terus bertanya-tanya, siapakah wanita tersebut.
"Aku tidak mengerti. Siapa dia? Kenapa dia sangat mirip denganku? Dan kenapa aku tidak boleh menyentuh foto itu?"
Abraham terkekeh kecil. Hal itu sangat mengejutkan Dita.
"Kau memang bodoh sama seperti dia."
Abraham perlahan mengarahkan pusat penglihatannya kepada Dita. Pria itu pun mendekati Dita. Dita lantas langsung sadar bahwa laki-laki tersebut ingin melukai dirinya.
"Apakah kau berniat ingin melukaiku?"
"Aku rasa seperti itu. Setiap melihatmu serta keluguan mu membuat aku selalu ingin menghabisimu. Kau mengingatkanku dengan pengkhianatannya. Kau pikir dengan Aku menjadikanmu objek penguas nafsuku kau akan selamat dari semua ini? Itu adalah hukuman, namun ketika aku haus dan benci kepadamu maka aku melakukan hukuman ini. Jadi jangan pernah berpikir aku baik hati kepadamu sekali saja."
Abraham berjalan perlahan semakin mendekati Dita. Pria itu terkekeh keras. Sudah cukup lama ia tidak membunuh orang. Namun ia bukan bermaksud ingin membunh Dita.
___________
Abraham memandang ke arah wajah wanita itu yang terlelap. Ia tampak sangat damai. Hal itu membuatnya mengingat akan masa lalu.
Dita benar-benar mirip dengannya. Bak pinang yang dibelah dua. Apa yang ia lakukan tadi siang adalah bentuk reaksi dari rasa bencinya setiap kali mengingat masa lalu. Namun apa yang saat ini ia rasakan adalah bentuk reaksi rasa rindunya tatkala mengingat masa lalu.
Seperti yang pernah dikatakan, bahwa ia akan menunjukkan dua reaksi setiap kali melihat kemiripan Dita.
"Kau benar-benar sangat mirip dengannya. Kesalahanmu adalah lahir ke dunia. Kau pasti bertanya-tanya. Tapi biarkan kau tahu sendiri agar kau sadar apa kesalahanmu."
Abraham pun menarik nafas panjang. Diam-diam ia menyunggingkan senyumnya. Bahkan pria itu tak sadar telah tersenyum.
__ADS_1
Pria tersebut kemudian mengusap kepala Dita. Hal itu ia lakukan berulang-ulang kali.
Matanya tak sengaja berkelana ke arah tangan Dita yang telah Ia lukai. Pria tersebut meraih tangan Dita. Lalu kemudian menatap hasil ukirannya.
Ia merasa sangat puas dengan ukiran tersebut.
"Sudah aku duga jika karyaku sangat indah." Bekas luka yang tidak dibalut itu tercetak jelas bentuk bagaimana lukanya.
Abraham beranjak dan mengambil obat luka yang terletak di atas markas yang tidak jauh berada di dekat ranjang.
Hal itu memang sengaja disediakan di tempat itu agar Dita mudah mengobati setiap luka-lukanya yang ia dapatkan dari setiap yang dilakukan oleh Abraham.
Ia pun membawa obat itu. Lalu duduk di samping tubuh Dita dan meraih tangan wanita tersebut. Ia mengamati dengan seksama tangan tersebut.
"Cukup menarik," ucap Abraham. Kemudian Ia pun mengoleskan obat luka tersebut ke luka yang ada di tangan Dita.
Dita belum sadar sama sekali. Wanita itu mungkin sangat kelelahan setelah menangis cukup panjang.
Dengan penuh perhatian Abraham pun melilitkan kain putih ke tangan Dita setelah ia mengobatinya.
Ketika tangan Dita telah terbalut, Abraham pun mendekatkan bibirnya ke puncak kepala Dita. Tidak tahu dorongan dari mana Ia melakukan semua itu. Itu terjadi begitu saja dan sesuai dengan dorongan hatinya.
Kemudian ia pun pergi dari kamar Dita.
_______
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.