Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 13


__ADS_3

Clarissa terus menatap ke depan dengan pandangan yang menyiratkan kesedihan yang sangat dalam. Wanita itu tak bisa menampik rasa rindu terhadap anaknya yang tak juga kunjung ditemukan.


Belakangan ini ia terus dirawat di rumah sakit karena kesehatannya yang terus menurun karena merindukan anaknya.


Simon sang ayah sampai kebingungan harus bagaimana menenangkan Clarissa. Karena akibat terlalu banyak pikiran lah Clarissa sampai mengalami sakit parah.


Wanita itu benar-benar pucat. Setiap harinya ia selalu akan memikirkan Dita tanpa henti.


"Kenapa kau tak ingin makan? Kau ingin pada saat Dita nanti telah ditemukan tapi kau tak dapat melihatnya karena kau sakit?"


Clarissa tersenyum kecut. Sebuah harapan yang selalu ia yakini kini telah sirna dari diri wanita itu.


"Berhentilah berbohong kepada diriku sendiri dan juga membohongi diri mu. Aku tahu semuanya jika kau juga sangat menginginkan anak kita kembali. Kenapa kau harus menjadi orang yang sangat munafik dan berpura-pura kau baik-baik saja? Kau pikir aku tak tahu jika kau juga memikirkan Dita, anak kita?" tanya Clarissa dengan air mata yang berlinang di wajahnya.


Wanita itu sudah menyerah dari rasa yakinnya. Sebut saja dia benar-benar amat lelah dengan keadaan yang saat ini menimpa keadaan keluarganya.


"Aku tak menyangka kau menyadarinya. Aku memang sangat merindukan Dita, dan bahkan sangat menyayangkan Dita yang berbuat terlalu gegabah. Aku harap wanita itu akan kembali dalam keadaan utuh. Aku akan berjanji kepadamu untuk membawa Dita dalam keadaan seperti semula."


Simon mendekati istrinya lalu mengecup kening sang istri sangat lama. Ia meneteskan air matanya dan kemudian wanita itu kian terisak.


Simon mengusap kepala sang istri lalu menatap nya dengan lama.


"Aku akan menunggu janji mu."


Simon mengangguk. Clarissa pun bernapas lega dan kemudian mengangguk menyanggupi sang suami yang akan pergi untu mencari anak mereka.


"Tunggu kami."


Simon keluar dari ruang inap Clarissa. Ia pun menatap ke arah anak buahnya yang menunggu dirinya.


"Ada apa? Apakah kau mendapatkan informasi sesuatu tenang anak ku?"


"Kami meyakini jika orang ini adalah anak buah orang lain yang juga tak main-main. Dan setelah diselidiki mereka dari Barat. Dan belum kami dapatkan informasi sebenarnya mereka anak buah dari siapa. Tapi dugaan besar jika mereka mengetahui keberadaan Dita. Atau bisa saja merekalah yang menyebabkan Dita jatuh ke dalam jurang."

__ADS_1


Simon menarik napas panjang dan berjalan cepat ke arah mobilnya.


"Hari ini aku akan ikut menyusuri hutan. Aku harap bisa menemukan apa penyebab hilangnya Dita."


____________


Abraham menarik napas panjang. Ia baru saja mendapatkan berita jika saat ini banyak orang yang curiga kepadanya.


Hari ini Abraham memutuskan untuk berada di kantornya. Di kantor, ia tampak sangat baik-baik saja dan tak pernah terpikirkan oleh para karyawannya jika dia adalah seorang pisikopat yang sering menghabisi orang-orang.


Yang hanya tahu perbuatan buruknya adalah tangan kanannya sendiri yang sama-sama memiliki kelainan menyimpang.


"Apakah kau bisa bekerja dengan becus hari ini?"


"Maaf Tuan. Tapi sepertinya keberadaan kami sudah dapat dideteksi. Tapi untungnya, kami bisa menghilangkan jejak."


"Bagus."


Mereka semua keluar dari dalam ruangannya dan hanya tinggal ia bersama tangan kanannya, Petrus.


Petrus menatap ke depan dengan pandangan yang sangat dalam. Pria itu sedikit menyunggingkan senyum di wajahnya.


"Setelah aku mencari tahu ternyata mereka adalah orang-orang dari Simon."


"Simon Andreas?" tanya Abraham antara kaget namun tetap ia sembunyikan.


"Ya dia. Dia adalah satu pengusaha hebat di New York yang baru saja menempati posisi orang terkaya di New York." Tanpa dijelaskan pun Abraham tahu. Namun ia merasa terkejut jika Simon sangat teliti. "Saya belum mengetahui dengan jelas apa motifnya, tapi yang aku kira mungkin ini adalah persaingan antar usaha. Sepertinya jika dia benar-benar mencari maslaah dengan kita, aku bisa untuk menjadikan dia makan siang ku."


Abraham tertawa gelak. Tawa itu bukan bentuk kelucuan tapi adalah tawa maut yang mematikan. Pria itu menyunggingkan senyum tipis.


"Kau yakin ingin menjadikannya makan siang mu? Atau kau yang akan dijadikan makanan harimaunya? Kau terlalu meremehkan lawan mu sehingga kau tak tahu siapa Simon sebenarnya. Dia adalah rival abadiku. Tapi dia mengira selama ini aku telah tiada tanpa ia ketahui jika aku masih bersembunyi. Mungkin ketika dia tahu aku masih hidup dia akan membunuh ku. Ah, dia juga bukan menyelidiki karena masalah perusahaan. Tapi aku yakin jika dia tahu bahwa Dita berada di tangan ku. Hanya saja dia tak tahu siapa aku," jelas Abraham sambil memainkan pena di tangannya. Ia tak sabar untuk bertemu dengan Simon setelah sekian lama.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Dia adalah orang tua Dita."


"Maksud mu Anindita?"


"Ya. Kau datang setelah aku kalah dalam masalah ini. Hubungan ku dengan Simon sudah tidak baik-baik saja dari dulu. Bahkan di saat dia masih ada di dunia ini."


Abraham menghela napas panjang dan saat ini ia tengah mengenang masa lalu yang sangat menyenangkan tapi sekaligus menjadi masa terkelam di hidupnya.


"Kau tak ingin menceritakan masalah mu?"


"Tidak. Karena tidak penting kau mengetahuinya."


Abraham pun kembali fokus dengan pekerjaannya. Pria itu merasa sedikit bahagia karena bisa akan menyaingi Simon.


___________


Dita kembali lagi berpatroli untuk mencari celah keluar dari rumah ini. Ia tak habis dengan perjuangannya dan terus mencari jalan keluar.


Perempuan itu menggigit bibirnya saat tak menemukan jalan satu pun. Dita sudah hampir putus asa.


"Ke mana lagi aku harus mencarinya? Semua rumahan di sini terkunci dan juga membingungkan. Sangat-sangat tak bisa dilalui dengan mudah," keluh Dita dan kemudian berjalan ke arah dapur.


Di dapur ia melihat Sonya yang sedang sibuk memasak. Dita pun menarik napas panjang dan berusaha untuk melewati Sonya tanpa sepengetahuan Sonya.


Bukan ia tak percaya dengan Sonya, tapi Sonya adalah tangan kanan Abraham yang bertugas untuk mengawasi dan juga memata-matai dirinya. Maka dari itu ia tak bisa lari jika Sonya mengetahuinya.


Perempuan itu pun menatap berbinar ke arah pintu dapur yang lupa dikunci oleh Sonya.


"Ya Tuhan bantu aku untuk kali ini. Semoga pelarian ku akan berhasil."


__________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2