
Kehadiran pelayan itu yang menjadi temannya sedikit membuat Dita terbantu dari rasa kesepian. Ia jadi mempunyai teman bercerita di rumah kosong ini.
Walau seperti itu mereka berdua sama-sama berharap bisa pulang dari tempat yang membahayakan yang telah menjadi sangkar menakutkan. Sonya adalah salah satu korban Abraham yang sangat beruntung di mana ia tak seperti korban-korban yang lain yang memiliki nasib buruk atau berakhir menjadi bangkai.
Pilihan Abraham menjadikan Sonya seorang pelayan untuk Dita membuat Sonya bersyukur dan ia berjanji untuk menjaga Dita dengan baik.
"Dita. Apakah kau tidak takut di sini sebelumnya?"
"Aku sangat takut. Kenapa kau berpikir seperti itu?"
Sonya tampak ambigu. Ia tak tahu nasib Dita yang sebenernya terjadi di sini. Wanita itu tak seberuntung Sonya yang sama sekali belum pernah mendapatkan hukuman mengerikan yang sering ia rasakan.
"Karena aku berpikir kau adalah pasangannya."
Dita tertawa gelak mendengar jawaban polos dari Sonya. Sejak kapan ia menjadi pasangan pria itu. Bahkan jika benar terjadi pun ia sungguh sangat tak sudi.
"Kau tak tahu dia bahkan sangat membenci ku," ucap Dita tanpa sadar. Ada nada kesedihan di setiap kata yang ia lontarkan.
Dan itu adalah hal yang wajar dirasakan oleh orang yang menjadi korban kekerasan.
"Aku tak mengerti kenapa dia sangat membenci mu. Jika dia membencimu kenapa dia ingin kau mendapatkan yang terbaik dan menjadikan mu pelayan? Kau tak tahu dia kerap kali memikirkan mu."
Dita terkejut mendengar jawaban Sonya. Apa pria itu benar-benar sangat mengkhawatirkannya dan juga memikirkannya? Pernyataan konyol macam apa itu. Mana mungkin seorang pisikopat berdarah dingin seperti Abraham peduli padanya. Ia tak percaya dan sungguh tak percaya.
Sontak air mata Dita pun jatuh begitu saja. Wanita itu menangis karena itu semua pasti sebuah kebohongan. Lagipula yang ia butuhkan bukan belas kasihan tapi yang ia inginkan pria itu mengantarkannya pulang jika menang benar-benar sangat mengkhawatirkannya.
"Jika dia khawatir kepada ku mana mungkin dia menyakiti ku dan selalu menyiksanya ku. Dah hal yang paling aku benci adalah dia baru saja merebut mahkota ku. Apakah aku tak merasakan sakit? Tentu saja itu lebih sakit dari pada dilukai secara fisik."
__ADS_1
Sonya mendengar semua cerita Dita pun menjadi tak tega. Ia pun akhirnya tahu kenapa kamar Dita sangat berantakan dan terdapat noda merah. Melihat betapa Dita sangat terpukul dengan keadaan tersebut membuat Sonya pun langsung memeluk Dita, menenangkan wanita itu.
"Bersabarlah. Aku di sini datang untuk menghibur mu. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan pergi," ucap Sonya seraya mengusap kepala Dita.
Dita merasakan usapan itu merasa lebih baik. Ia menghapus air matanya dan berusaha menciptakan senyum di wajah yang sangat sendu tersebut.
"Terima kasih untuk semuanya. Kau benar-benar sangat peduli pada ku. Aku sedikit bersyukur kau ada di sini. Dan apakah kau mengira kedatangan mu ke sini untuk menjadi pelayan ku adalah sebuah bencana?"
Tentu saja jawabannya adalah sebuah bencana. Mana ada orang yang mau diculik oleh sang Pisikopat dan hampir dibunuh lalu dijadikan pelayan tanpa dibayar. Hanya Dita yang terlalu konyol karena menannyakan hal tersebut.
"Lupakan. Aku benar-benar keterlaluan."
"Apa kata mu? Meskipun aku tidak rela tapi aku sedikit bersyukur karena aku tidak mati. Jika kau tak ada di sini mungkin aku sudah menjadi bangkai sama seperti yang lain." Ucapan Sonya sangat menyakinkan Dita. "Ah iya kau tak perlu terlalu banyak bersedih. Berhentilah menangis kita berdua sama-sama diancam. Jika kau menangis karena kehilangan mahkota mu maka aku akan siap menggantikan untuk melayani dia. Ternyata pisikopat juga butuh seorang untuk memuaskan dirinya."
"Karena aku juga manusia," ucap Abraham yang berdiri di depan pintu. Dita dan Sonya yang mendengar suara berat dan sangat menusuk indera pendengaran mereka pun membuat keduanya lantas menatap ke arah pintu. Sontak saja baik Dita maupun Sonya tak ada yang membuka suara. Bahkan hanya dengan tatapan tajamnnya dapat berhasil mengintimidasi keuda wanita tersebut. "Aku tidak membutuhkan mu. Yang aku butuhkan adalah dia! Jadi kau jangan merepotkan diri mu untuk melayani ku."
"Kau pikir aku mau? Aku tidak akan pernah mau."
"Memangnya kau bisa menolak? Aku sedang berbaik hati agar tak menyiksa mu dan mencoba menjadikan kau memuaskan kesenangan ku yang lain. Tapi rupanya kau ingin dihukum dengan kasar juga."
Plak
Tamparan keras pun melayang ke pipi Dita. Dita terjerembab ke lantai dengan darah yang keluar di sisi pipinya. Tanpa ampun pria itu menyakitinya karena tersulut emosi, hingga Abraham pun memukul Dita kembali.
Semua itu terjadi di depan mata Sonya. Sonya tak berani mencoba untuk memberhentikan Abraham karena ia tahu jika si pria juga nanti akan menyiksa dirinya.
"Buat apa kau melakukan semua ini jika ujung-ujungnya aku akan tetap luka? Aku ingin mati!!"
__ADS_1
"Kau pikir mati adalah jalan yang terbaik, hah? Aku mencoba menerima kehadiran mu dan aku melakukannya semua untuk mu. Tapi pernah kah kau peduli pada ku? Tidak pernah!! Jika bisa ditanya satu-satu kepada korban ku tidak ada yang seenak diri mu. Perlakuan ku kepada mu berbeda Dita! Karena kau adalah dia, dan aku mencoba untuk berdamai dengan masa lalu ku dengan memberikan mu hukuman yang bisa membuat mu juga merasakan nyaman."
Menurut Abraham hukuman itu adalah hukuman yang paling ringan karena menurutnya kedua belah pihak terpuaskan. Tapi ia tak sadar siapa wanita di depannya ini yang sama sekali tak menerima hukuman bentuk apapun.
Apalagi hukuman seperti itu adalah bencana bagi dirinya.
"Terserah mu aku lelah. Satu yang aku katakan, kau adalah seorang pedofil. Aku masih di bawah umur. Jika aku bebas aku akan melaporkan mu agar kau dipenjara dan membusuk di dalam sana," ucap Dita seraya memalingkan wajahnya.
"Kau bisa menebak ku rupanya. Aku memang tak seumuran dengan mu. Dan kau juga tak tahu dengan wajah ku, ku akui kau cukup baik juga dalam menerka."
Dita tak peduli dengan segala ocehan tak berguna yang keluar dari mulut Abraham.
"Kau hanyalah pria yang gagal mouvon." Ucapan Dita yang kali ini sukses mengejutkan Abraham.
Ia menarik tangan Dita dan mensejajarkan tubuhnya dengan wanita itu. Lalu kemudian menarik wajah Dita.
"Kau, apakah kau tahu semuanya?"
Dita yang hanya menebak pun kembali kaget karena tebakannya ternyata benar.
"A...aku!"
Ucapan Dita dibungkam dengan sebuah ciuman dari pria itu.
__________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.