Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 56


__ADS_3

Dita sangat merasa lelah karena ia begitu antusias menyambut hari pernikahannya hingga ia pun melakukan banyak pekerjaan berat. Alhasil tubuhnya sangat letih dan tak bisa melakukan apapun.


Wanita itu menarik napas cukup panjang lalu menatap ke depan tepatnya ke arah Abraham yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sejenak mereka saling pandang. Tak disangka mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri yang sangat harmonis.


Sungguh kenyataan yang tak pernah perang mereka pikirkan. Abraham pun mendekati Dita lalu mengecup bibir wanita itu pelan. Mereka tak mungkin melakukan malam pertama dengan kondisi Dita yang sedang kelelahan seperti ini.


Abraham juga sama sedikit merasa lelah karena menyiapkan pesta pernikahan tak semudah yang dibayangkan. Begitu banyak hal berat yang harus ia kerjakan hingga membuat tubuhnya terasa letih.


Belum lagi menjalani rangkaian acara pernikahan yang diadakan sampai malam. Bahkan Dita sama sekali tak bisa beristirahat dengan tenang walau hanya sebentar dan itu juga yang dialami oleh Abraham.


Hari sudah pukul 12 malam, mereka lebih mengutamakan untuk tidur ketimbang melakukan banyak aktivitas malam seperti malam-malam sebelumnya.


"Kita tidak harus melakukan hal itu, kan?" tanya Dita dengan sangat gugup dan berharap jika Abraham mengerti dengan keadaannya sekarang.


Abraham pun berdahem dan menganggukkan kepalanya. "Aku tahu jika kau sangat lelah. Tapi, karena kau  juga merasa lelah makanya aku memilih untuk tak melakukan hal tersebut. Aku masih memiliki hati dan tidak ingin memaksa dirimu."


Dita pun mendecih. Selalu saja Abraham mencari alasan agar dirinya terlihat tetap sempurna di depan Dita. Padahal aslinya pria itu memang sangat lelah dan tidak mau untuk mengakui itu. Mungkin karena malu ia tak mau mengakuinya dan malah mencari alasan yang lain.


"Sudahlah, dirimu memang suka mencari alasan. Padahal Apa yang kau lakukan bukanlah sebuah kebenaran. Selalu saja mencari alasan."


Abraham hanya terkekeh saat mendengar istrinya berusaha untuk menjatuhkannya. Walaupun apa yang dikatakan oleh Dita benar adanya tapi Abraham tetap saja seperti orang yang tak merasa bersalah.


"Istriku yang cantik, Kau tidak perlu marah kepadaku seperti itu. Kau juga sudah tahu jika aku hanyalah bercanda, jadi kau jangan terlalu memasukkannya ke dalam hati."


Dita pun menarik nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya. Ia bukanlah wanita yang terlalu baperan, namun dalam keadaan hamil mood Dita sering kali berubah-ubah.

__ADS_1


"Hm, ya aku paham dengan dirimu."


Abraham pun mengusap kepala Dita dengan sayang. Kemudian laki-laki itu memperhatikan Dita dengan cukup dalam. Ia tak menyangka jika istrinya akan secantik ini.


"Kau benar-benar sangat cantik. Aku beruntung memperistri dirimu. Walaupun kau di sini sangat dirugikan karena aku sudah tua."


Entah kenapa Dita merasa tak setuju dengan ucapan tersebut. Bukan karena marah ia dipuji cantik, tapi karena dirinya merasa Jika ia menerima Abraham apa adanya dan sama sekali tak dirugikan walaupun Abraham telah berumur.


"Kau selalu saja mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan. Kau juga mengklaim hal-hal yang sama sekali tak pernah aku pikirkan. Aku mencintaimu apa adanya dan tak peduli jika dirimu telah tua. Karena yang aku pikirkan hanyalah kebahagiaan anak kita dan juga dirimu. Aku tahu jika kau sangat mendambakan kebahagiaan itu cukup lama. Apakah aku tega membiarkan kau seperti itu? Bahkan ketika hari pernikahanku saja kau sangat sedih satupun keluargamu tak ada yang hadir. Maka dari itu aku sangat merasa bersimpati kepada mu."


Abraham menundukkan kepalanya ia benar-benar merasakan kesedihan yang sangat dalam. Apalagi setelah ia tahu jika keluarganya sama sekali tak ada di hari pernikahannya. Mereka telah melupakan Abraham, bahkan keberadaan mereka Abraham sama sekali tak mengetahuinya.


Masalah keluarga adalah hal yang paling membuat Abraham terpukul. Saat ia mendapatkan kebahagiaan dari Alana, namun wanita itulah yang mengubah dirinya menjadi orang yang paling menakutkan. Tapi, perlahan kebahagiaan itu kembali lagi kepada dirinya.


"Bagus jika begitu."


_____________


Tak terasa kandungan Dita semakin membesar setelah melewati beberapa bulan masa kehamilan. Dita sangat mendambakan anaknya yang masih ada di dalam perut.


Abraham setiap harinya pun makin terlihat seperti pria normal pada umumnya. Pernah ia tiba-tiba ingin membunuh orang lagi dan melihat darah membuatnya ingin meminum darah, tapi untungnya hasratnya tersebut ia tahan dengan segenap dada dan Dita pada saat itu juga kalang kabut sampai menelpon orang tuanya untuk meminta bantuan. Ia tak akan sanggup jika Abraham kembali ke kebiasaan lamanya.


Tapi syukur Abraham bisa mengatasi hal tersebut sendirian dan tak pernah peduli dengan hasratnya tersebut. Karena menurut dirinya ia harus bisa menentangnya agar tak diperbudak oleh hasrat nya sendiri.


"Apakah kau sekarang merasa lebih baik?" tanya Dita yang menghampiri sang suami yang tengah bermain dengan anak-anak di kolam renang.

__ADS_1


Abraham pun menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat jika sang istri tengah berjalan menghampiri dirinya. Tak tega melihat Dita yang begitu besar membawa beban yang tengah dikandungnya lantas Abraham pun mendekati sang istri dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya.


"Kenapa kau ingin ke sini tidak bilang terlebih dahulu? Kau tahu jalan menuju ke sini cukup berbahaya. Di sini licin dan aku khawatir jika kau kenapa-napa."


Dita menggelengkan kepalanya dan meyakinkan Abraham jika ia tak akan kenapa-napa.


"Apakah kau tidak melihat jika aku baik-baik saja?"


"Aku tahu jika kau baik-baik saja sekarang. Tapi tidak mungkin kan jika aku tidak mengkhawatirkan mu? Terlebih lagi jalannya cukup licin, walaupun sekarang kau baik-baik saja siapa tahu ke depannya?"


"Maka dari itu berhentilah kau mengomel. Dan sekarang bawa aku ke tepi kolam renang itu. Aku ingin melihat mereka yang sedang bermain."


Abraham pun memenuhi keinginan sang istri. Dia membawa istrinya tersebut ke tepi kolam renang.


"Tak terasa mereka telah besar. Dan beberapa bulan lagi juga aku akan melahirkan."


Abraham sontak saja langsung melihat ke arah perut Dita. Ia pun mengusap perut tersebut dengan penuh kasih sayang.


"Aku tak sabar untuk menunggu mereka."


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2