
Abraham menatap jengah wanita yang ada di depannya. Wanita itu salah dalam menjatuhkan diri hingga membuat ia terjebak dengan malam yang menggenaskan. Ia berpikir mungkin dengan menggoda Abraham bisa membuat ia memenangkan sengketa tanah di pengadilan.
Alih-alih menang ia malah memberikan nyawanya dengan suka rela. Abraham tak habis pikir dengan wanita itu. Terlebih wanita tersebut memiliki ciri-ciri yang sangat dibencinya dalam hidup.
"Aku tidak pernah membunuh lagi setelah dia datang. Karena wanita ini aku kembali menikmati enaknya darah. Dia benar-benar membuat ku mengkhianati janji ku sendiri."
"Ku rasa baru kali ini kau berjanji dan kau ingin menepatinya."
"Jika baru kali ini, sudah lama kau mati di tangan ku. Kau hanya jarang melihatnya saja," ucap Abraham yang sebenarnya itulah yang dimaksud oleh pria itu.
"Baiklah. Kali ini kau menang," ucap bawahannya.
Abraham melirik pria itu sekilas lalu mendengus. Entahlah hari ini dirinya merasa tak tenang. Entah apa penyebabnya. Seperti ada seseorang yang mengancam dirinya.
"Apakah kau yakin penyelidikan di tepi jurang kemarin sama sekali tidak ada yang mengetahui diri mu?" tanya Abraham melirik sekilas bawahannya.
Firasatnya mengatakan lain. Penyamaran mereka ketahuan. Jika sudah seperti itu maka tak ada pilihan lain untuk menjadikan mereka sebagai musuh. Lagipula mereka yang dulu mencari masalah dengan Abraham.
"Saya rasa tidak ada Tuan. Kenapa Anda berpikir seperti itu?"
"Kau sungguh yakin tidak ada? Jika kau salah apakah kau siap moncong senjata ku berada di kepala mu?" tanya Abraham dan berbalik.
Anak bawah dari Abraham sangat terkejut saat Abraham menodorkan pistol ke kepalanya. Berarti jika pria itu mengatakan seperti tadi dan sudah melakukannya itu artinya dirinya benar-benar melakukan kesalahan.
Sadar dengan perbuatannya, ia pun langsung berlutut di depan Abraham. Abraham yang memandang kejadian itu hanya mendengus kesal.
"Lagi-lagi kau melakukan kesalahan yang sangat fatal. Apakah kau benar-benar sudah siap untuk mati?"
"Ampun Tuan. Saya rasa saya sudah melakukan yang terbaik, ternyata masih terdapat kesalahan."
"Kesalahan mu fatal," ucap Abraham sangat emosi.
Ia hendak menarik pelatuk senjatanya, tapi pria itu menghentikan aksinya seketika karena berpikir jika menembak pria itu maka ia akan kehilangan anak buahnya yang benar-benar bekerja untuknya.
"Kau sudah mengabdi cukup lama. Dan ini adalah pengampunan ku untuk kesekian kalinya. Apakah kau benar-benar tak sadar diri?" tanya Abraham seraya membuang ludah di depan pria itu.
Ia pun pergi lalu diikuti oleh anak buahnya tadi. Ia berlari mengejar tuannya dan membuntut di belakang.
"Memangnya apa yang terjadi?"
__ADS_1
Abraham menghentikan langkahnya dan berpaling. Ia memberikan isyarat mata pada anak buahnya itu.
Laki-laki tersebut mengikuti isyarat mata dari Abraham. Ia sangat terkejut ada segerombolan orang yang mencoba untuk mencari informasi mengenai mereka. Itu artinya tuannya benar jika kehadiran mereka tengah dicurigai.
"Sekarang kau cari tahu siapa orang-orang itu. Tampaknya dia bukanlah orang sembarangan," tutur Abraham yang sangat yakin dengan ucapannya.
"Baik Tuan. Kali ini saya akan melakukannya dengan lebih teliti lagi."
"Ku harap kau memegang kata-kata mu. Agar aku tak lelah untuk memberikan ampunan."
Abraham pun pergi dari sana. Pria itu memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari depannya. Sebelum mencari mangsa lain ia berniat ingin membelikan sesuatu untuk Dita.
Wanita itu dijadikan Abraham sebagai orang yang akan menggantikan nafsunya yang membeludak. Dulu ia sangat bernafsu ingin membunuh, tapi ketika melihat Dita, Abraham merasakan sensasi lain pada wanita itu.
Ia selalu ingin berada dengan perempuan tersebut dan melakukan hubungan yang sangat dekat.
___________
Dita senantiasa mengiringi diri. Temannya hanyalah Sonya. Ia mencurahkan banyak hal kepada Sonya dan tak pernah menganggap Sonya sebagai seorang pelayannya.
"Sonya. Apakah kau merasa suntuk. Kita bisa keluar jika kau lelah di dalam kamar ini."
Dita pun memandang ke arah jendela. Ia iri dengan pepohonan yang bisa memijak tanah. Sementara ia hampir dua bulan tak pernah melihat tanah.
"Jika kau ingin keluar dari sini dengan cara rahasia juga boleh."
"Memangnya ada jalannya?" tanya Dita kepada Sonya. Ia pun menjadi tertarik dengan pembahasan itu. Ia kira Sonya mengetahui jalannya.
"Kau pikir aku tahu? Aku hanya bercanda."
"Ku kira kau mengatakan yang sebenarnya."
Mereka pun larut dalam suasana yang hampa. Tak ada cerita karena keduanya memang sudua sangat lelah berada di sini.
Dita pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Ia mengitari rumah yang sangat luas ini.
Siapapun pasti tak akak menyangka jika ada rumah semegah ini di tengah hutan. Bahkan Dita sendiripun sampai sekarang masih tak percaya berada di tempat tersebut.
Saat berjalan menyusuri besarnya rumah itu, Dita tak sengaja menemukan lukisan seorang wanita muda.
__ADS_1
Bukan fotonya yang menjadi masalah. Tapi rupa wanita itu yang sangat familiar di mata Dita.
Dita pun mendekati foto tersebut dan mengamatinya dengan seksama. Tangan Dita bergetar saat melihat foto tersebut.
"Kenapa dia sangat mirip dengan ku? Apakah aku pernah berfoto seperti itu?" Dita kian tak mengerti dengan foto yang ada di sana.
Karena ada tertulis tangga pembuatannya di mana foto tersebut diambil sebelum jauh dirinya lahir.
"Siapa dia? Kenapa dia bisa mirip dengan ku?"
Dita terus bertanya-tanya dengan foto tersebut. Ia benar-benar amat penasaran. Apakah wanita itu ada hubungannya dengan masa lalu Abraham.
"Siapa yang membiarkan mu menyentuh foto itu? Letakkan sekarang juga. Tak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya."
Tubuh Dita bergetar. Wanita itu perlahan memuat balikan badannya. Seketika Dita langsung diam membisu saat mendapatkan kilatan amarah di dalam mata pria tersebut.
"Siapa dia?"
"Kau benar-benar lancang. Tak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya."
Abraham yang telah tersulut emosi menarik tubuh Dita ke ruang penyiksaan. Dita kontan berteriak saat tiba-tiba tubuhnya diseret.
"Lepaskan aku! Aku bahkan tak tahu jika foto itu tak boleh disentuh!"
Dita pun berusaha untuk lepas dari pria tersebut. Akibat pemberontakannya, barang yang ada di tangan Abraham pun jatuh. Dita menatap ke barang tersebut.
Seketika matanya menunjukkan rekasi terkejut saat tahu jika itu adalah makanan kesukaannya. Ia menoleh ke arah Abraham yang tampak menatapnya dingin.
Tangannya terkepal melihat makanan itu berserakan ditambah Dita telah membuat ulah.
"Apa salah ku? Aku hanya ingin menyentuhnya karena dua mirip dengan ku."
"KARENA KAU TAHU DIA MIRIP DENGAN MU ITULAH YANG MENJADI MASALAH!"
___________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.
__ADS_1