Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 43


__ADS_3

Dita tak ingin berbicara setelah pulang dari situ. Sedangkan Abraham yang telah menyiapkan diri untuk dimarahi oleh wanita itu pun sama sekali gak merasa gentar saat Dita membencinya.


Karena telah menceritakan maka ia juga harus siap dengan konsekuensinya. Maka dari itu Abraham tampak seperti biasa-biasa saja. Karena ia tak terlalu memikirkan hal tersebut.


Abraham pun menarik napas panjang. Ia menghampiri Dita yang tengah meringkuk di atas kasurnya sambil menangis.


Tanpa memikirkan bagaimana perasaan Dita, ia pun memeluk tubuh wanita itu dengan erat untuk menenangkan hatinya saat ini. Jujur saja ia merasa ragu dengan rasa percaya dirinya yang bisa menahan juteknya Dita.


"Apakah kau sama sekali tidak ingin mendengar penjelasanku?"


Jika pun diam karena memang sudah tidak ada yang perlu dijelaskan. Ketika pria itu menjelaskan di hutan kemarin itu sudah membuatnya puas. Ia tak ingin lagi banyak berbasa-basi dengan pria itu.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku sudah tak memiliki pikiran untuk saat ini. Aku hanya ingin menangis membayangkan bagaimana nasib ibu ku yang sangat tragis mati di tangan orang yang dicintainya. Dan dengan teganya pula aku hendak merebut orang dicintainya?" tanya Dita dengan suara yang parau. Ia adalah orang yang sangat serakah, kan? Ia tahu bagaimana hancurnya perasaan ibunya saat ia membaca diary sang ibu. "Karena itu kau membenci wanita. Kau tak tahu jika dia sangat mencintai mu dan juga selalu ingin melindungi mu."


"Tapi, dia tak ingin menggugurkan kandungannya jika ia benar-benar mencintai ku."


Dita langsung menatap ke arah Abraham. Jika Abraham mengatakan hal tersebut sampai sekarang itu aryinya kehadirannya di sini pun sebenarnya tak disukai oleh pria itu.


"Apakah kau sekarang juga telah membenci ku? Karena akulah anak yang dikandung ibu ku itu."


Abraham pun menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya sangat frustasi. Ia berusaha untuk mengatakan bagaimana hatinya, tapi tampaknya tak akan ada artinya ia menjelaskan.


"Karena aku masih belum bisa menerimanya saat ini. Meksipun sekarang juga sama, tapi aku mencintaimu. Kali ini perasaan itu tumbuh setelah sekian lama aku tak merasakannya lagi."


Dita pun berbalik dan menatap ke arah pria itu dengan pandangan yang sayu. Ia tersenyum tipis dan lalu kemudian memeluk tubuh pria tersebut tanpa diduga.


Abraham pun sampai terkejut atas perlakuan Anindita yang secara tiba-tiba itu. Bahkan tubuh Abraham sampai menegang setelah dipeluk oleh Anindita.


Tapi Abraham tidak ingin melakukan apapun dan membiarkan Anindita memeluk tubuhnya sambil menangis di dadanya.

__ADS_1


Mungkin wanita itu hanya membutuhkan sandaran. Dan dirinyalah sandaran wanita tersebut.


"Apakah kau benar-benar merasa lelah? Silakan membentuk buku sepuasnya karena aku merasa sedikit tenang dan bisa menebus kesalahanku."


Dita tak bersuara untuk menanggapi pria itu. Ia hanya fokus dengan tangisnya serta membayangkan bagaimana saat ini ibunya yang melihat dari atas ia bersama dengan Abraham.


"Aku sangat takut untuk mengecewakan ibu. Bahkan aku telah memiliki anak dari orang yang sangat dicintainya dan bahkan ia rela mati di tangan orang yang dicintainya itu."


"Dita!" ucap Abraham yang malah ikut menangis karena membayangkan bagaimana hancurnya hati Alana. Nama Alana tak akan pernah bisa terhapus di hatinya karena semuanya terasa sangat menyakitkan.


"Apakah kau masih mencintai ibu ku?"


"Aku? Tentu saja aku mencintainya walau cinta itu telah dikubur tapi bentuknya masih ada."


"Maka lepaskanlah aku."


"Aku tidak mau."


________


"Kenapa aku kecolongan lagi, astaga aku!" teriak Simon dan mengusap wajahnya marah.


"Aku tidak tahu harus mengatakan kepada Calrissa nanti. Pasti Calrissa akan sangat marah kepada ku karena aku bisa sebodoh ini," ucap Simon sambil menggigit bibirnya.


Memang sangat susah untuk menangkap sahabat sendiri. Bahkan ketika sahabatnya sendiri ingin membunuh dirinya.


Ia tahu jika waktu terasa cukup lama untuk dirinya yang sama sekali tak bisa berpikir dengan jernih. Begitu banyak rasa bersalah yang ada di hatinya, bersalah kepada Dita dan juga bersalah kepada Alana.


Semua ini terjadi karena ia tak bisa menahan diri dahulu hingga Alana lah yang menjadi korbannya. Dan korban berlanjut sampai ke Dita.

__ADS_1


"Alana, jika kau ingin membenci seseorang maka bencilah aku. Akulah yang menyebabkan hubungan persahabatan kita semua retak. Pantas Abraham akan marah kepadaku."


Simon begitu merasa bersalah kepada mereka semua. Memang pada saat itu Abraham lah yang paling mempesona bahkan membuat dirinya merasa iri kepada Abraham.


Memang dahulu Simon sangat mencintai Alana dan Alana malah mencintai Abraham. Sedangkan Clarissa ia mencintai Simon tapi dia juga sering tidur bersama dengan Abraham.


Maka dari itu ia pun harus merasa iri kepada Abraham. Tapi, dia bersaing dengan sehat. Hanya saja ia dahulu lepas kontrol saat tengah mabuk.


_________


"Apakah benar-benar tidak ada kabar dari Dita? Apakah aku bisa hidup dengan tenang jika Dita tak juga kau temukan?" tanya Calrissa yang langsung menodong dengan beberapa pertanyaan kepada Simon yang baru pulang.


Simon tak bisa menyalahkan Calrissa yang tak menyambutnya dengan ramah. Baiklah ini semua karena kesalahannya.


"Aku hanya ingin pulang sebentar. Aku pasti akan memenuhi janjiku."


Clarissa mendecih seolah meremehkan suaminya itu. Bisa-bisanya Ia berpikir seperti hal tersebut.


"Aku lelah dengan semua janji mu. Jangan kau temui aku sampai kau berhasil membawa anak ku pulang," ucap Calrissa yang balik mengancam Simon.


Calrissa masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar itu hingga membuat Simon tak bisa masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Pria itu berdiri di depan pintu kamar dengan perasaan lelah. Ia tak bisa marah dengan perlakuan sang istri. Abraham pun memutuskan untuk pergi ke ruangan kerjanya dan beristirahat di sana.


Ia merasa tak pantas sebenarnya kembali ke rumah ini tanpa bisa menemukan Dita. Abraham semakin hari makin menunjukkan potensi besarnya yang ingin menaklukkan keluarganya. Mungkin inilah akibat dari rasa irinya kepada Abraham yang pada akhirnya di masa depan menjadi bumerang sendiri bagi hidupnya.


______


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2