Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 30


__ADS_3

Setelah pulang dari gereja, biasanya Dita akan mengajak kedua anaknya untuk jalan-jalan agar bisa memberikan mereka hiburan.


Tentu saja bagi Naomi dan juga Alvarez itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagi kedua anak itu. Mereka dengan penuh semangat pergi bersama kedua orang tuanya ke taman bermain.


Memang paling cocok untuk mengajak kedua anak itu adalah ke taman bermain agar ia tak menangis.


"Mama hari ini aku ingin bermain dengan puas. Aku tidak ingin kau mengabaikan ku bermain dan kau malah pergi," ucap Alvarez yang secara tak langsung tengah menyindir dirinya. Ka tahu kesalahannya yang dulu dan meninggal anaknya di taman wisata Yunani.


Ia masih mengingat hal itu rupanya. Dota hanya terkekeh mendengar ucapan dari Alvarez dan mengusap kepala anak itu.


"Aku berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama," ujar Dita yang amat bersungguh-sungguh.


Alvarez yang mendengar pengakuan dari Dita pun langsung tersenyum lebar. Ia memeluk kaki ibunya. Dita tak menyangka jika anak ini sangat manja kepadanya padahal dia hanyalah anak angkat yang Dita temukan di pasar saat ia dibuang oleh orang tuanya.


Dita pikir mungkin Alvarez bisa menemani Naomi dan pikirannya itu benar. Walaupun mereka kerap berebut mainan tapi tetap saja mereka sama sekali tak peduli dan saling bersahabat. Hal itu lah yang membuat Dita merasa sangat kagum kepada dua anaknya tersebut.


"Kalian berdua harus saling bersama-sama. Aku tidak ingin mendengar kabar ada yang menangis di antara kalian berdua," ucap Dita yang mengancam keduanya.


"Mama tenang saja. Aku akan bisa menjaga Alvarez. Dia memang sedikit bawel."


Dita pun menghela napas panjang. Mungkin ini adalah awal dari pertengkaran keduanya. Dan apa yang dipikirkan oleh Dita benar adanya.


Alvarez merasa sangat tersinggung dengan ucapan sang Kaka hingga menyenggol tubuh Naomi.


"Kamu adalah seorang kakak, tapi kenapa tidak bisa bersikap layaknya seorang kakak?" tanya Alvarez sembari mengercutkan bibirnya. Melihat hal itu sangat membuat Dita merasa gemas.


"Sudah-sudah. Kalian berdua harus saling menjaga intinya."


Mereka pun mengangguk. Keluarga itu berjalan-jalan di tepi taman permainan untuk mencari wahana yang bagus.


Wahana di sini cukup berbahaya membuat Dita merasa sangat tidak nyaman karena takut sebab anak-anaknya ini masih kecil.


"Mama! Mau main itu!" tunjuk si adik kepada wahana roller coaster.


Dita pun menatap wahana tersebut. Wahana itu cukup tinggi dan juga lebih berbahaya dari wahana yang lainnya. Dita sangat takut apalagi dengan jalannya yang curam.


"Ayolah Ma," ajak Alvarez yang membuat pertahanan Dita pun rapuh dan mau tak mau ia terpaksa untuk memenuhi keinginan dari anak itu.

__ADS_1


"Baiklah." Dita menyerah dan membeli tiket untuk naik ke wahana tersebut.


Ketika sudah mendapatkan tiketnya mereka langsung naik ke wahana itu saja memasang sabuk pengaman. Dita benar-benar memperhatikan sabuk pengaman anak-anaknya sudah terpasang dengan rapi. Ia tak ingin ada kejadian yang membahayakan keuda anaknya tersebut.


"Sudah aman? Cus kita jalan," ucap Alvarez dengan penuh semangat.


Naomi pun sama seperti Alvarez yang tak kalah semangat dan menantikan jika wahana itu akan berjalan.


Wajahnya sedikit muram karena wahana itu tak juga bergerak karena masih menunggu penumpang yang lain.


Kita yang sadar dengan ekspresi kedua anaknya pun hanya tersenyum simpul.


"Sebentar lagi."


Dan benar saja Setelah menunggu beberapa menit akhirnya wahana itu berjalan dan mereka sangat terkejut saat wahana itu mulai berjalan dengan laju.


_________


Dita mengehela napas panjang saat merasakan perutnya sangatlah mual setelah naik wahana yang berhasil mengaduk-aduk perutnya. Inilah yang sangat tidak diinginkan olehnya jika mereka akan kelihatan seperti ini.


Dita benar-benar ingin muntah saat turun dari roller coaster. Ia memegangi perutnya dan mencari toilet bersama dengan kedua anaknya.


Dita pun menghela napas panjang dan menarik kedua tangan anaknya. Sudah ia tebak jika anak itu akan sakit perut.


"Mama pusing."


"Sudah aku katakan jika tidak usah naik ini."


"Tapi seru," jawab Naomi antara sadar dan tidak sadar tatkala mengucapkannya dengan. Ia terlalu sangat pusing.


Mereka pun pergi ke toilet bersama-sama dan memuntahkan cairan yang ada di perut mereka bersama-sama.


"Mama, Al lelah."


"Keluar lah lebih dulu. Jika kau ingin membeli sesuatu beli lah. Aku akan menunggu di sini," ucap Dita pada anaknya dan mereka dengan sigap pergi mencari minuman untuk mengobati rasa sakit perut mereka.


Dita pun di dalam sana berusaha untuk menuangkan dirinya agar tak kembali pusing. Wanita itu menghela napas cukup panjang sembari memijat kepalanya yang berdenyut.

__ADS_1


Sementara itu di luar, Naomi dan juga Alvarez tengah mencari makanan ringan. Tapi bukannya membeli makanan mereka malu asik melihat wahana yang lain dan ingin naik lagi tanpa mengenal jera.


Sedangkan tak jauh dari sana ada seorang pria yang sedang sibuk berdebat dengan bawahannya. Ia tak mengerti kenapa akan pergi ke sini.


Yang tapi keinginan Petrus di matanya sangat konyol walau pergi ke wahana permainan juga bukanlah hal yang buruk.


"Kenapa kau mengajak ku ke sini? Aku bukan lagi anak kecil. Apakah kau yang anak kecil?"


"Aku juga bukan anak kecil. Tapi tidak ada salahnya kau menenangkan diri mu di sini."


Abraham pun menghela napas panjang dan mencoba untuk mengatur pernapasannya. Untuk saat ini ia benar-benar dalam keadaan yang sangat emosi kepada bawahannya tersebut.


Petrus tahu jika ini salah. Tapi entah kenapa ia ingin pergi ke sini, seperti ada sesuatu di sini yang membuat Petrus merasa tak mengerti.


"Aku yakin kau pasti akan tenang."


"Aku malu dan bukan tenang. Darah ku ingin naik."


Abraham pun mengedarkan pandangannya dan tak sengaja ia melihat seorang anak perempuan dan juga anak laki-laki yang tengah menahan tangis di keramaian.


Entah kenapa ia malah tertarik dengan anak itu. Padahal biasanya ia paling membenci anak kecil karena ia benar-benar merepotkan.


Abraham lantas mendekati anak kecil itu dan memanggil mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Mereka pun menoleh dan menatap ke arah Abraham.


Abraham terpukau dengan kecantikan yang dimiliki oleh anak tersebut. Tapi ia merasa sangat tidak asing dengan wajah itu.


Wajah tersebut mirip dengannya atau hanya perasaannya saja.


"Adik ku ingin naik itu tapi aku tidak membolehkannya karena orang tua kita tidak sedang di sini."


"Kenapa kau tidak naik saja. Di mana orang tua mu?"


"Alvarez! Naomi!"


________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2