
Dita tengah menidurkan kedua buah hatinya. Ia ingin menelpon sang ibu di rumah untuk meminta bantuan agar dirinya bisa lepas dan kabur dari sini. Tapi entah kenapa Dita merasa sangat sulit untuk melakukannya.
Karena memang pada dasarnya ia sama sekali tak memiliki handphone. Dita pun menghela napas panjang dan terus berpikir.
Ia benar-benar dibuat pusing oleh Abraham. Semuanya seketika berubah saat pria itu datang ke kehidupannya dan memporak porandakan hatinya.
Tiba-tiba di tengah lamunan Dita, ia pun mendengar suara seseorang yang seolah tengah memanggil dirinya. Dita menatap ke arah orang itu.
Seketika itu juga dirinya mundur dan tak berani untuk mendekat. Dita berusaha menahan rasa takut dan jika bisa ia akan melawan pria itu.
"Ada apa kau datang kemari?"
Abraham yang mendengar pertanyaan tersebut lantas mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti kenapa Dita malah seolah-olah tengah mengusir dirinya padahal kamar ini juga termasuk bagian dari rumahnya.
"Kau ingin mengusir pemilik rumah ini?" tanya Abraham kepada wanita itu yang membuat nyali Dita seketika ciut.
Ia pun baru ingat jika pemilik rumah ini adalah Abraham. Berarti yang harus pergi dari sini adalah dirinya bukan Abraham.
Kita mengenal nafas panjang lalu mengatakan ke arah anak-anaknya yang sudah tertidur.
"Aku tahu, kau adalah pemilik rumah ini. Tapi aku tidak ingin tinggal di sini. Pulangkan aku ke rumah ku," tantang Dita dengan wajah yang sedikit judes dan menatap ke arah lain.
Seolah-olah reaksi yang saat ini tengah ditunjukkannya adalah sebagai bentuk protes terhadap pria itu.
Abraham pun mengehela nafas panjang. Ia pun menghampiri Dita. Pria itu tersenyum tipis.
"Kau tahu, dunia ini benar-benar kejam. Mungkin kau salah satu korban dari kekejaman dunia ini. Aku tahu apa yang aku lakukan dulu sangat salah terhadapmu. Aku sadar, Aku ingin merubah semua itu demi dirimu."
Dita tersentak dan langsung menatap ke arah Abraham. Apa maksud dari pria itu? Apakah ia ingin berubah atau memang sudah berubah? Tapi entah kenapa Dita merasa sangat tidak percaya.
"Apa maksudmu?"
Abraham pun menatap ke arah Naomi. Lalu mengusap kepala anak itu dengan sayang. Hatinya melembut saat merasakan tubuh buah hatinya. Ia tak menyangka jika saat ini dirinya telah menjadi seorang ayah. Dan hal ini benar-benar di luar dugaannya.
__ADS_1
"Aku ingin berubah. Dan tidak menjadi diriku yang dulu. Terima kasih telah melahirkan anak-anakku."
"Anak-anakmu? Hanya Naomi yang anakmu," ucap Dita yang sengaja ingin mempanasi hati Abraham.
Dan benar saja Abraham pun sangat marah. Ia menatap ke arah kita dengan letupan emosi yang begitu menggebu-gebu.
"Apa maksudmu? Jadi dia Bukan anakku?"
Abraham menghafalkan tangannya karena menahan amarah yang sangat dalam. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya saat mengetahui hal tersebut.
Melihat kemarahan yang sangat dalam di wajah Abraham membuat senyum Dita merekah.
"Sekarang kau sudah mengerti, bukan? Ah, ya siapa wanita yang ada di dalam ruangan itu. Kau hanya mencintai dia bukan diriku."
"Bisa dikatakan dia juga adalah dirimu. Tapi dalam bentuk yang lain. Kau dan dia sangat mirip tapi berbeda jiwa. Aku menganggap kalian sama tapi jiwa kalian mengatakan kalian berbeda. Tapi kau tidak bisa menanti jika kenyataannya kau memiliki hubungan dengan wanita itu. Maka dari itu kau menjadi targetku dan hampir aku membunuhmu."
___________
Dita masih memikirkan ucapan yang dilontarkan oleh Abraham tadi. Apa maksud dari pria itu. Kenapa hatinya tiba-tiba merasa gelisah.
"Aku tak mengerti kenapa pria itu malah menyembunyikannya dariku. Sebenarnya dia siapa? Apakah dia sangat penting dalam hidupku?" tanya Dita yang terus-menerus.
Wanita itu pun menghela nafas panjang dan menatap ke arah anaknya yang masih juga tertidur. Abraham pergi setelah ia menjawab apa yang ingin Dita ketahui.
"Jawaban yang diberikan oleh Abraham benar-benar belum membuatku puas. Aku harus tahu kenapa aku bisa berada di sini dan juga siapa wanita itu," ucap Dita lalu menghampiri anak-anaknya.
Ia menatap Naomi dan juga Alvarez cukup lama. Tiba-tiba terlintas pikirannya bagaimana jika Clarissa di rumah sangat khawatir kepadanya dan tengah menunggu dirinya.
Iya tak bisa membayangkan bagaimana wajah Clarissa saat ini. Ia harap Clarissa baik-baik saja dan tidak sakit karena kehilangan dirinya.
"Abraham, apakah kau memiliki hati sama sekali. Kau tak ingin membawa ku pulang. Aku juga memiliki keluarga yang harus aku perhatikan. Kenapa rasanya aku sangat merindukan dia, tapi kau sama sekali tak peduli dan lagi-lagi malah merenggut kebahagiaan yang saat ini aku rasakan," monolog Dita.
Dita pun tak sadar jika anak-anaknya saat ini tengah terbangun. Naomi mengucek matanya dan kemudian menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Anak perempuan tersebut pun kemudian duduk dan memperhatikan ibunya yang masih belum sadar juga jika saat ini ia telah bangun.
"Mama!"
Dita sungguh terkejut mendengar suara anaknya. Ia pun menghela napas panjang dan menatap ke arah Naomi yang masih setengah bernyawa.
"Ada apa sayang?"
"Apa yang baru saja mama katakan?" Dita pun bungkam seribu bahasa. Rupanya anaknya ini mendengar monolognya tadi.
Dita pun merasa sangat malu karena ketahuan oleh anaknya. Tapi salsa gelisahnya lebih nomor satu lagi karena Dita khawatir jika Naomi mengetahui masalah yang saat ini tengah dialaminya.
"Tidak apa-apa. Kau jangan berpikir yang cukup jauh. Aku hanya bergumam biasa saja."
Naomi pun mengangguk dengan wajah polosnya. Anak itu pun termenung beberapa detik dengan pikiran yang cukup penuh. Ia pun mengercutkan bibirnya seolah ia memiliki masalah yang membuatnya bingung.
"Aku tidak mengerti dengan semua ini mama. Sebenarnya dia siapa? Dan kenapa dia sangat mirip dengan ku mama?"
Inilah yang dikhawatirkan Dika jika anaknya mengetahui apa yang selama ini telah ia rahasiakan. Wanita itu pun memikirkan cara untuk menjelaskan kepada anaknya yang belum mengerti apa-apa.
"Mungkin suatu hari nanti kau akan tahu jawabannya. Aku akan berusaha untuk membuatmu mengerti dengan semua ini. Tapi dengan perlahan-lahan."
Naomi pun hanya diam. Dia sangat lelah dengan semua jawaban yang diberikan mamanya. Entah kenapa seperti ada yang dirahasiakan oleh sang ibu dan Naomi yang masih kecil itu sedikit mengerti.
"Nanti aku akan bertanya kepada Paman itu langsung."
Mata Dita kontan membulat. "Jangan!!" teriak Dita.
"Kau ingin tahu siapa aku?" Dita menatap ke arah Abraham yang sudah ada di samping Naomi.
________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.