Pangeran Es Jatuh Cinta

Pangeran Es Jatuh Cinta
PEJC - 11


__ADS_3

Mansion


Morgan dan Bianka bertengkar di depan kamar Bianka. Bianka menolak menjauhi Nico. Dan akhirnya Bianka mengakui jika Bianka Menyukai Nico.


Morgan: oke! Mulai saat ini lakukan se sukamu. Dan pulanglah ke rumahmu. Aku sudah tidak tahan denganmu, wanita aneh yang suka mengacau!


Bianka: kamu melepasku? Aku akan pergi besok. (Senang)


Morgan: lebih cepat lebih baik. Aku tidak Kan peduli peduli lagi padamu.


Morgan meningalkan Bianka. Morgan kembali ke kamarnya. Morgan melepas mantel dan melemparnya ke sofa. Duduk bersandar di sofa memegang kepalanya. Terasa pusing dan berputar.


Morgan: hah.. (menghela nafas) ini kenapa lagi, kepalaku sudah mau meledak. (Menutup mata berusaha menengkan diri) semenjak ada Bianka, kesehatanku semakin memburuk. Bianka ini sungguh menyiksa.


 


•Bianka


Mungkin aku sudah keterlaluan pada Morgan. Sebelum pergi aku harus minta maaf dan berterimakasih. Besok pagi pagi aku akan pergi.


Aku berjalan menuju kamar Morgan, aku mengetuk pintu perlahan, aku membuka pintu. Masuk dan menutup pintu kembali. Aku berjalan perlahan, aku melihat kearah ranjang kosong, ranjang masih rapi. Mungkin mandi? Aku berjalan ke arah kamar mandi.


"Papi.. mami.. jangan pergi, kakak jangan pergi, aku tidak punya siapa siapa lagi (suara tangisan) jangan pergi.. jangan pergi.."


Langkahku terhenti, mendengar suara morgan yang merengek dan menangis. Aku berjalan ke arah sofa. Benar saja, aku melihat morgan memeluk tangannya sendir. Air matanya mengalir, Morgan mengigau. Aku mendekati Morgan. Meraba wajah Morgan, aku terkejut Morgan demam tinggi.


Bianka: Morgan.. kamu baik baik saja? (Menepuk perlahan wajah Morgan) Morgan kamu dengar aku? Morgan..


Morgan membuka mata perlahan dan tersenyum, (dalam pandangan Morgan, Bianka adalah Yenako yang sedang tersenyum cantik) aku terkejut, pria es ini bisa yersenyum. Dia sangat tampan saat tersenyum.


Morgan: mami, mami datang? Aku merindukan mami. (Menangis, memeluk Bianka)


Aku terkejut, pria es mengira aku maminya? Aku mengusap lembut kepala Morgan. Melihatnya seperti ini aku merasa kasihan.


Bianka: ayo aku bantu pindah ke ranjang. Aku Bianka, bukan mamimu.


Morgan sepertinya tersadar mendengar kata kata ku. Morgan langsung melepas pelukan dan menyeka air matanya.


Morgan: keluarlah, aku baik baik saja. Maaf, aku tidak sadar memelukmu.


Bianka: kamu demam, jangan tidur si sofa. Ayo pindah ke ranjang, aku akan merawatmu.


Morgan tidak menolak, (Morgan merasa kepalanya sakit dan berat. Badannya merasa lemas dan tidak bertenaga.) Aku membantu Morgan berdiri dan memapah ke ranjang. Morgan duduk bersandar bantal.


Bianka: tunggu, aku akan ambilkan kompres dan obat.


Aku berdiri, dan berbalik. Dengan cepat Morgan menarik tanganku, Morgan memeluk ku erat. Aku terkejut, lagi lagi pria ini bertingkah seenaknya. Aku merasakan suhu panas tubuhnya.

__ADS_1


Morgan: 5 menit. Biarkan aku memelukmu 5 menit saja. Aku ingin seperti ini, aku merindukan keluargaku.


Aku tersenyum, mengusap lembut punggung Morgan. Morgan menangis tersedu. Saat mendengar Morgan menangis, hatiku tiba tiba merasa sakit. Aku juga tidak punya ormag tua, hidup tanpa orangtua memang sangat sulit dan menyiksa. Kasian sekali kamu Morgan.


Bianka: menangislah. Jangan ditahan, apa yang kamu pendam? Jika ingin cerita, cerita kan Morgan. Aku akan dengarkan. Jangan simpan kepahitan dalam hatimu. (Menepuk perlahan punggung Morgan)


Morgan: aku sangat rindu papi dan mamiku.


Bianka: jika rindu, bawalah dalam doa. Doakan mereka, aku pun begitu. Jika aku rindu orangtuaku. Pasti aku akan bedoa dan menangis. Kuatkan hatimu Morgan.


Morgan: jangan pergi.. (bicara lembut)


Bianka: apa? Siapa?


Morgan: kamu jangan pergi. Tinggallah disini. Aku tidak akan menyulitkanmu lagi.


Morgan melarangku pergi? Bukankah dia ingin aku pergi tadi? Apa ini, pria es ini sungguh mempermainkanku. Aku maafkan kali ini karena dia sakit, apa aku pergi setelah merawatnya saja ya? Anggap saja jasa terimakasih.


Bianka: (melepas pelukan) jika kamu bersikap baik, aku akan tinggal


Morgan: ya, lakukan apapun yang kamu mau, asalkan kamu tetap tinggal di mansionku.


Bianka: kamu tidak akan mengekangku lagi? Tidak akan marah marah lagi jika aku dengan temanku?


Morgan: soal itu.. lebih baik kamu juga harus menjaga jarak dengan pria asing. Bagaimana pun kamu milikku, propertiku.


Bianka: ya.. aku mengerti. Berbaringlah, aku akan ambil kompres dan obat.


(Dalam hati Morgan)


Melihat Bianka seperti melihat mami. Hah! Mungkin karena aku terlalu rindu pada mami. Bianka tetap Bianka, mami tetap mami, mereka bukan orang yang sama.


Bianka: minum obatnya (mengambil handuk di dahi morgan)


Morgan: oke.. (bangun dan duduk)


Morgan menurut, dia bangun dan duduk. Morgan langsung meminum obat yang aku siapkan.


Bianka: perlu kita ke rumah sakit?


Morgan: (menggeleng, kembali bersandar) duduklah disampingku, Aku hanya butuh teman.


Aku mengangguk, naik ke ranjang dan duduk di samping morgan. Aku bersandar dan menghela nafas panjang. Morgan merebahkan kepalanya ke bahuku.


Morgan: apa aku terlalu jahat? Apa kamu membenciku?


Bianka: kenapa kamu bertanya seperti itu?

__ADS_1


Morgan: apa kamu tau, dari kecil aku menghindari perempuan? Aku tidak suka pada perempuan. Yang aku suka hanya mamiku seorang.


Bianka: lalu? Sekarang kenapa kamu menempel padaku?


Morgan: karena kamu hangat seperti mamiku. Senyumanmu cantik seperti mami. Melihatmu seperti melihat mami. Sama sama cantik dan manis. Aku suka (Tersenyum)


Deg..


Deg..


Deg..


Jantung ku berdebar. Banyak orang mengatakan jika senyumanku cantik, tapi mengapa saat Morgan yang mengatakannya terasa berbeda? Aku langsung tersipu malu seperti ini. Oh.. tidak, apa aku sudah gila?


Bianka: terimakasih kamu sudah memujiku Morgan. Kamu juga tampan, kenapa kamu tidak merubah sikap dinginmu?


Aku tidak mendengar jawaban. Aku melibat wajah Morgan, ternyata dia tertidur. Pantas saja tidak menjawab. Aku mengangkat kepala morgan perlahan. Aku membaringkan Morgan, tangan Morgan memelukku.


Morgan: tetaplah bersamaku. Aku mohon.


Bianka: oke, tidurlah. Aku akan bersamamu. Menjagamu.


Tanpa sadar aku membelai rambut Morgan, aku dengan lembut merapikan rambut Morgan. Morgan sangat tampan, hanya saja dia dingin seperti ice. Kadang juga kejam. Jantungku kembali berdebar. Semakin lama semakin kencang. Aku segera membalikan badanku. Morgan semakin erat memelukku. Oh tidak, kenapa harus sedekat ini. Aku sudah sangat malu.


Morgan: terimakasih Bianka.


(Berbisik lembut)


Bianka: untuk apa?


Morgan: untuk perhatianmu.


Bianka: tidurlah, jika tidak aku akan pergi kekamarku.


Morgan: ya, aku akan tidur. Selamat malam, selamat tidur Bianka. (Morgan mencium kilas kepala Bianka)


Astaga, kenapa darahku mendidih? Morgan, pria es ini membuatku hilang akal. Bisa bisanya seperti ini, aku sangat malu. Aku perlahan menutup mata. Aku mencoba tenang dan merasakan hangat suhu tubuh Morgan, cepatlah pulih Morgan. Agar kamu bisa kembali bekerja dan kembali menjalanakan aktivitasmu.


Hallo semua..


Terimakasih sudah berkunjung dan meluangkan waktu membaca karya saya.


Jangan lupa like,☆ dan isi kolom komentar..


Bye bye.....😉😘


Salam hangat,

__ADS_1


[Dea Anggie]


 


__ADS_2