
Bianka dan Morgan berjalan jalan bersama menikmati pemandangan di sekitar villa. Mereka terlihat lebih dekat dan akrab.
Bianka: apa keadaanmu sudah membaik?
Morgan: aku baik baik saja. Tidak perlu cemas.
Bianka: kamu selalu mimpi buruk mana bisa dibilang baik baik saja.
Morgan: maaf ya.. aku membuatmu tidak nyaman. Aku terkadang mimpi buruk tentang kenangan masa kecil.
Bianka: apapun itu semangatlah pangeran. Jangan terlalu larut dalam luka.
Morgan: terimakasih Bianka, kamu selalu menghiburku (tersenyum)
Bianka: sama sama.
Bianka berhenti dari langkahnya. Bianka meraba raba saku celananya. Morgan penasaran dan mendekato Bianka.
Morgan: ada apa?
Bianka: (mengeluarkan susuatu dari sakunya) ketemu.. (tersenyum, menunjuk kan sebungkus permen pada Morgan)
Bianka membuka bungkus permen dan memakan permennya. Morgan terus menatap Bianka, Bianka menatap Morgan.
Bianka: ada apa? kamu mau? Tunggu ya.. aku ambilkan, hmmm.. (meraba raba saku celana)
Morgan tiba tiba menahan tengkuk Bianka dan mencium bibir Bianka. Merebut permen dari mulut Bianka. Morgan melepas ciuman dan tersenyum tampan, puas mendapatkan perman Bianka. Bianka kesal dan menggerutu.
Morgan: thanks, aku sudah dapatkan permennya. Ini manis.. (mengedipkan satu mata)
Bianka: Morgan, itu punyaku. Kamu bisa ambil yang baru kan.
Morgan: ingin aku kembalikan? Sini...
(Mendekat namun Bianka berjalan mundur)
Bianka: tidak mau, jangan aneh aneh.
Morgan: haha.. (tertawa) kamu sangat lucu Bianka. Ayo kita harus kembali. Aku sedikit lelah.
Bianka: kamu baik baik saja? (Cemas, mendekati Morgan)
Morgan: hmm.. ini tidak baik, mungkin aku perlu sesuatu.
Bianka: apa??
Morgan memegang wajah Bianka dan mencium lembut bibir Bianka, mata Bianka melebar. Bianka hanya diam, mencengkram lengan Morgan.
Deg..
Deg..
Deg..
(Dalam hati Bianka)
Hmm.. pagi pagi sudah seperti ini. Morgan sungguh memalukan. Jika dilihat orang bagaimana, kenapa pria ini selalu membuat jantungku berdebar.
Bianka menutup matanya perlahan, merasaka manisnya rasa permen. Morgan pun melakukan hal yang sama. Ponsel Bianka berdering, Bianka terkejut dan langsung melepas ciuman. Bianka menepis tangan Morgan, mengambil ponsel di sakunya. Bianka melihat nama Nico di layar ponselnya.
Morgan langsung mengambil ponsel Bianka dan menganggat panggilan. Morgan terlihat kesal, Bianka hanya terdiam.
(Panggilan terhubung)
Nico: morning baby.. (suara lembuta)
Morgan: bisa ya pagi pagi bicara mesra pada istri orang.
Nico: ini siapa? Aku salah nomor? (Bingung, melihat layar ponsel ada nama Bianka❤) ini nomor Bianka kan?
Morgan: ya, ini nomor Bianka.
Nico: kamu siapa? Beriakan ponselnya pada kekasihku.
Morgan: apa, Kekasih?
Nico: iya, bianka itu kekasihku.
__ADS_1
Morgan: bangunlah dari mimpimu. Dia istriku, jangan ganggu istriku lagi. (Memutus panggilan)
Morgan mencengkram ponsel Bianka, menatap Bianka. Tatapannya sangat dingin. Bianka merasa cemas.
Bianka: hei, apa kamu marah?
Morgan: ponselmu aku yang pegang, setelah kembali ke mansion aku belikan ponsel baru.
Bianka: tapi?
Morgan: aku tidak ingin kamu di ganggu. Kamu hanya milikku.
Bianka: (menurut) baiklah, aku mengerti.
Morgan menggandeng tangan Bianka. Morgan dan Bianka kembali ke villa untuk sarapan.
•Morgan
Aku menarik kursi dan duduk. Bianka melayaniku, menuang susu dan membuatkan roti selai untuk ku. Aku terus mantap Biankan. Dia begitu serius mengoles roti. Bianka menatapku, aku membuang muka ke arah lain. Aku menghindari tatapan Bianka.
Bianka: ini, makanlah (meletakan roti di piring Morgan)
Bianka juga mengoles rotinya, dia menarik kursi akan duduk. Aku menariknya kepangkuanku. Aku sengaja menggodanya. Aku ingin melihat wajah kesalnya.
Bianka: Morgan..
Morgan: kenapa?
Bianka: jangan begini. Nanti bibi Nina datang aku bisa malu.
Morgan: biarkan saja, bukankah kita pengantin baru. (Menggoda)
Bianka: apa? Jangan asal bicara kamu. Dasar pangeran es.
Morgan: diamlah, makan rotimu. Atau ingin aku suapi?
Bianka: tidak, aku bisa makan sendiri.
Morgan: baguslah jika bisa makan sendiri.
(Panggilan terhubung)
Morgan: tidak bisakah tanganmu diam tuan Gween? Mengganggu kesenanganku saja.
Nico: Jerryco Morgan Lewi, dimana Bianka Josie? (Nada kesal)
Morgan: Bianka Josie? Tidak ada. Yang Ada Bianka Lewi.
Nico: brengsek! Dimana kekasihku.
Morgan: (menatap Bianka) sayang bicaralah pada dia. Kamu ingin bicara atau tidak?(Suara lembut)
Bianka: (menutup mata kilas dan menghela nafas) Nico maaf, aku sibuk.
Nico: Bianka, itu kamu? Apa dia melukaimu?
Bianka: tidak, dia baik padaku. (Menatap Morgan) dia sangat baik dan perhatian.
Morgan: ah.. sayang, terimakasih. Aku mencintaimu (menggoda)
Nico: kamu dimana Bianka?
Morgan: dihotel, kami sedang berkencan. Jangan ganggu lagi. (Memutus panggilan)
Aku meletakan ponsel dan menghela nafas panjang, aku sungguh sangat kesal. Si Nico ini lebih berani dari yang aku duga. Aku memeluk Bianka dari belakang, menyandarkan kepalaku di punggung Bianka.
Bianka: kenapa?
Morgan: kepala ku sakit, aku tidak nafsu makan.
Bianka melapaskan tanganku dan berdiri. Tangannya menempel di dahiku.
Bianka: kamu demam lagi, kita pulang saja. Aku yang menyetir. Kita harus ke rumah sakit.
Morgan: tidak perlu. Aku baik baik saja.
__ADS_1
Bianka: mana ada baik.
Morgan: kamu khawatir?
Bianka: menyebalkan sekali. Makan rotimu, aku akan ambilkan obat.
Aku tersenyum, entah mengapa aku suka melihat Bianka mengomel dan kesal. Bianka pergi ke kamar mengambil obat. Aku memakan roti di hadapanku hanya separuh. Apa aku terkena suatu penyakit? Akhir akhir ini sering sekali pusing dan lemas.
Bianka kembali dengan membawa obat, memberikan obat padaku. Aku langsung meminum obat tanpa banyak bicara. Bianka membantuku berdiri dan memapahku ke kamar.
Bianka: kamu terlalu lelah berjalan Morgan, maafkan aku membuatmu seperti ini.
Morgan: sepertinya aku harus ke rumah sakit. Aku takut ada penyakit berbahaya bersarang di kepalaku.
Bianka: jangan bicara asal, kamu hanya terlalu lelah \(cemas dan khawatir\)
Aku naik keranjang dan berbaring. Kepalaku rasanya ingin pecah. Aku mengatur nafasku perlahan. Bianka duduk di samping ranjang mengusap lembut wajahku.
Bianka: tidurlah, aku akan kembali setelah sarapan. Oke?
Morgan: ya, pergilah makan rotimu. Ingat jangan mengbuhungi Nico.
Bianka: iya aku tau, tidurlah pangeranku.
Bianka mendekat dan mencium kilas pipiku, ciumannya begitu lembut. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Bianka menatapku dan tersenyum. Bianka berdiri dan meninggalkan kamar. Aku meraba wajahku, tanpa sadar senyumku mengembang. Bianka bergitu hangat dan perhatian. Aku perlahan menutup mataku dan terlelap tidur.
..
..
Aku merasa sesuatu menyentuh wajahku. Aku memebuka mata perlahan, Saat mataku terbuka, aku melihat Bianka menatapku, Bianka tersenyum cantik padaku. Dia sungguh mirip dengan mami.
Bianka: ayo bangun dan makan, ini sudah sore. Kamu tidur sangat nyenyak hingga aku tidak tega memmbangunkanmu.
Aku tersenyum, aku menyentuh wajah Bianka. Aku mengusapnya lembut.
Bianka: ada apa,?
Morgan: kamu seperti mamiku Bianka. Sangat cantik dan manis.
Bianka terdiam, wajahnya merona. Dia tersipu malu.
(Dalam hati Bianka)
Dasar Morgan, di saat seperti ini menggodaku. Aku sungguh malu, aku senang dia memujiku cantik dan manis.
Morgan: (bangun dan duduk bersandar bantal) aku lapar, suapi aku makan.
Bianka: oke, buka mulutmu (bicara lembut)
Aku membuka mulut dan makan makanan yang disuapkan oleh Bianka padaku. Rasanya sangat enak dan lezat.
Morgan: siapa yang memasak?
Bianka: aku, kenapa? Tidak enak?
Bianka terlihat cemas, dia mencium makanan di piring, menyendok lalu melahapnya, mengunyah perlahan dan merasakannya. Bianka memutar bola matanya ke atas. Sungguh menggemaskan.
Bianka: tidak ada yang salah, semuanya pas. Rasanya enak. (Menatap Morgan)
Morgan: memang aku bilang tidak enak? Aku hanya bertanya siapa yang memasak.
Bianka: haha.. (tetawa) aku kira masakanku membuatmu marah dan kecewa.
Bianka Bianka, kamu sungguh unik. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku ingin selalu bersamamu.
Hallo semua..
Terimaksih sudah singgah ke novel saya, Jangan lupa like, ☆dan isi kolom komentar..
Bye bye..
😉😘
Salam hangat,
"Dea Anggie"
__ADS_1