
Morgan dan Bianka kembali dari berlibur. Seminggu bersama membuat Bianka semakin tahu banyak hal tentang Morgan. Morgan bisa bersikap lembut dan manis. Meski hanya sesekali.
Saat liburan Morgan dan Bianka saling bertukar cerita. Mereka berbincang santai, terkadang bercanda dan tertawa bersama. Bianka dan Morgan tidak pernah bertengkar atau bsrselisih. Mereka mulai saling memahami karakter satu sama lain.
Mansion..
•Bianka
Aku berbaring di ranjang, lelah sekali setelah menempuh perjalanan jauh. Ponselku berdering, aku meraba sakuku mengambil ponsel. Melihat layar ponsel, panggilan dari Nico. Aku terdiam, harus mengangkat atau tidak. Morgan ingin aku menjauhi Nico. Apa harus aku menjauhinya?
Ponselku kembali berdering, Nico memanggil lagi. Aku mengangkat panggilan dari Nico.
(Panggilan terhubung)
Nico: hallo, Bianka??
Bianka: hai, ada apa?
Nico: kamu dimana? Ayo bertemu, aku ingin bicara.
Bianka: aku sibuk. Maaf Nico.
Nico: apa Morgan mengancammu?
Bianka: tidak, dia pria yang baik.
Nico: aku sedang sakit, ingin bertemu denganmu. Aku di rumah sendirian.
Bianka: tapi aku tidak bisa, aku sungguh sibuk.
Nico: aku mohon Bianka, anggap saja ini pertemuan terakhir kita.
Bianka: (berfikir lama) baiklah, kamu dimana?
Nico: di rumah, alamatnya di jalan XX no 208.
Bianka: oke, aku kesana sekarang.
Aku bangun dan berdiri. Aku memasukan kembali ponsel ke dalam saku. Mengambil mantel dan keluar kamar. Aku ingin meminta ijin kepada Morgan untuk pergi. Aku masuk kedalam kamar Morgan, menutup pintu perlahan dan berjalan mencari Morgan. Aku tidak menemukan Morgan, mungkinkah dia keluar?
Aku mengambil ponselku dan menghubungi Morgan, aku mendengar suara ponsel, aku berjalan mengikuti suara. Ponsel Morgan ada di meja dekat sofa. Lalu dimana orangnya? Apa dia ke ruang kerja? Aku berbalik hendak berjalan keluar kamar. Pintu kamar mandi terbuka, aku melihat Morgan selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Dia menggosok kepalanya, mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Morgan: ada apa?
Bianka: aku akan pergi. Boleh aku pergi?
Morgan: kemana?
Bianka: menemui Nico di rumahnya.
Morgan terdiam berjalan perlahan mendekatiku. Aku mundur perlahan merasa rakut. Apakah Morgan akan marah? Aku terus mundur hingga terjatuh ke ranjang. Morgan tertawa melihatku ketakutan. Morgan membantuku berdiri.
Morgan: aku akan antar, jangan pergi sendiri. Firasatku buruk.
Bianka: baiklah, aku akan menunggumu di bawah.
__ADS_1
Morgan: hmm.. aku akan segera turun.
Aku keluar dari kamar Morgan. Aku menutup pintu dan berjalan turun menunggu di ruang tamu. Tidak lama Morgan turun, pesonanya memang luar biasa. Pria tampan, memakai apapun selalu tampan. Morgan mendekatiku dan memegang tanganku, dia menggandengku keluar mansion menuju mobil. Kami masuk dalam mobil dan pergi menuju rumah Nico.
Morgan:dimana alamatnya?
Bianka: jalan XX no 208.
Morgan: okey.. supir tampan ini siap mengantarmu nona.
Bianka: (tersenyum)bisa saja. Kenapa kamu ikut mengantarku?
Morgan: aku tidak mau kehilanganmu.
Tentu saja, kamu tidak akan mungkin melepaskanku begitu saja Morgan. Aku adalah propertimu yang mahal. Lebih mahal dari pada harga proyek. Sepanjang jalan kami berbincang
Bianka: kamu juga ingin menemui Nico?
Morgan: tidak, aku akan menunggu di mobil. Bukankah Nico hanya ingin bertemu denganmu?
Bianka: sepertinya kita sudah sampai. (Melihat kekiri kekanan)
Morgan menghentikan mobil di depan rumah Nico, Morgan menatap ku penuh arti.
Bianka: ada apa??
Morgan: berikan ponselmu.
Aku memberikan ponselku, Morgan menghubungi seseorang menggunakan ponselku? Siapa? Tiba tiba ponsel Morgan berdering, Morgan mengangkat panggilanku. Morgan kembali menatapku dan tersenyum, memberikan ponselku kembali.
Morgan: jangan matikan panggilannya. Agar aku bisa memantaumu dari sini. Jika ada apa apa teriak saja. Oke?
Aku merasa Morgan sangat takut kehilanganku. Dia sungguh peduli padaku? Atau ini hanya sebuah perhatian seorang pemilik barang?
Aku menghelas nafas dan turun, Aku masuk dalam halaman rumah Nico, menuju pintu utama. Aku sampai di depan pintu, aku menekan bel rumah. Pintu terbuka, Nico menyambutku.
Nico: haii.. (tersenyum) masuklah.
Bianka: oke.. (berjalan masuk)
Nico: duduklah, mau minum apa?
Bianka: tidak perlu, apa yang ingin kamu sampaikan? (Duduk di sofa)
Nico: jangan buru buru, bukankah kita masih punya banyak waktu? (Duduk dihadapan Bianka)
Bianka: maaf Nico, aku sedang sibuk.
Nico: sibuk apa? Bukankah kamu hanya pengangguran di mansion Morgan? Kamu takut Morgan mencarimu?
Bianka: cepat katakan ada apa? Aku harus segera pulang.
Nico: menikahlah denganku Bianka.
Bianka: (terkejut) aku tidak bisa, aku masih 19 tahun. Masih terlalu muda.
Nico: oh ya, apa Morgan lebih memuaskan?
__ADS_1
Bianka; jangan bicara asal Nico. Morgan bukan pria seperti itu. Dia tidak pernah melakukan hal diluar batas.
Nico: iyakah? Sungguh? Biarkan aku melihat dia sudah melakukannya apa belum (berdiri)
Bianka: (berdiri) mau apa kamu, jangan macam macam Nico.
Nico: ayolah, bukankah kamu menyukaiku? Aku juga menyukaimu sayang. (Berjalan mendekat)
Bianka: jangan mendekat, atau aku akan teriak.
Nico: teriak saja, tidak akan ada yang peduli denganmu. Tidak perlu malu malu, ayo kita saling memuaskan.
Bianka: tidak mau, kamu ternyata seperti ini? Nico yang aku kagumi berubah menjadi Monster.
Nico berlari ke arahku, mencengkram tangaku, Nico mendorongku ke sofa.
Bianka: tidak mau, lepaskan aku. (Berontak) Tolong..... (berteriak)
Nico: percuma saja berteriak, tidak akan ada yang menolongmu. Kamu adalah milikku Bianka, aku tidak akan membiarkanmu jatuh dalam tangan Morgan.
Aku terus berontak, Nico begitu kuat mencengkram tanganku. Dia menindihku, ingin menciumku. Pintu rumah terbuka, Morgan menedang pintu rumah Nico. Morgan berlari dan langsung mencengkram baju Nico. Morgan langsung memukul wajah Nico.
Morgan: brengsek! Beraninya melecehkan wanitaku.
Nico: Bianka, kamu menipuku? Kamu datang dengannya?
Bianka: Nico maaf, awalnya aku menyukaimu. Setelah kejadian ini aku sadar, aku sangat bodoh hingga menyukaimu. Aku tidak ingin melihatmu, dan bertemu denganmu lagi.
Nico: Bianka..
Aku langsung berlari memeluk Morgan, aku sedih air mataku mengalir. Ini sungguh memalukan.
Bianka: ayo pulang.
Morgan: aku belum selesai menghajarnya.
Bianka: biarkan saja, tidak perlu peduli padanya.
Morgan: kali ini kamu selamat Nico.
Morgan menggendongku keluar dari rumah Nico. Mendudukanku di mobil, aku memeluknya erat.
Bianka: maaf..
Morgan: sudah, jangan menangis. Ayo kita pergi jalan jalan.
Aku melepaskan pelukan dan mengangguk. Morgan menyeka air mataku. Mencium lembut keningku. Dia tersenyum dan menutup pintu mobil. Morgan berjalan kesisi lain mobil masuk dalam mobil. Kami pun pergi meninggalkan rumah Nico. Aku tidak menyangka, Morgan begitu peduli. Dia langsung sigap saat aku butuh bantuan. Pangeranku terimakasih..
Hallo semua..
Terimakasih sudah mau singgah dan membaca karya saya.
Jangan lupa like,☆ dan isi kolom komentar.
Bye bye.. 😉😘
Salam hangat,
__ADS_1
"Dea Anggie"