
" selamat pagi pak Daniel.."
Sapa Mona yang kini tengah berdiri dari tempat duduk nya di depan ruangan direktur. Daniel menoleh sekilas ke arah nya lalu berjalan masuk ke dalam ruangan nya tanpa membalas sapaan Mona.
Di dalam ruangan, Daniel langsung duduk kursi kerjanya. Membuka beberapa berkas, yang sudah tertumpuk di atas meja kerja.
Tak berselang lama terdengar seseorang yang sedang mengetuk pintu ruangan Daniel.
Tok.. Tok.. Tok..
" Masuk.."
Sahut Daniel sambil masih sibuk mengerjakan perkerjaannya. Masuklah Mona dengan membawa secangkir kopi buatan nya. Ia berjalan menghampiri meja kerja Daniel sambil terus tersenyum. Setelah berada tepat di depan meja kerja Daniel, ia langsung menaruh kopi yang ia bawa di atas meja.
" Saya membuatkan kopi untuk bapak. Silahkan di minum pak." Ucap nya dengan berusaha tersenyum ramah.
Daniel hanya melirik sekilas ke arah cangkir kopi yang sudah ada meja nya. Namun ia tak menghiraukan ucapan Mona dan tak segera meminum kopi buatan nya itu. Mona masih berdiri di sana dengan senyum lebar dan mata yang menatap ke arah Daniel.
" waah lihat wajahnya yang sedang fokus bekerja. Sangat mempesona." Gumam Mona dalam hati. Mata Mona seperti terhipnotis oleh wajah tampan Daniel yang sedang fokus bekerja.
Walaupun Daniel sedang sibuk dengan pekerjaan nya, tetap saja ia masih bisa merasakan jika ia sedang di perhatikan oleh seseorang. Ia langsung menegakkan kepalanya, menatap wajah Mona yang masih tersenyum ke arah nya, dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
" Ada apa lagi? kenapa masih berdiri di situ?" Tanya Daniel
" Kamu tampan. Eh.." Mona tak sengaja mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan.
" saya tau, saya tampan. Tapi saya tidak butuh pujian kamu. Jadi lebih baik kamu keluar dan kerjakan pekerjaan kamu." Ujar Daniel dengan nada sinis.
" oh. Maaf pak.. Sa-saya permisi."
Akhirnya setelah mengatakan itu, Mona pun buru buru keluar dari ruangan Daniel. Roy yang sejak tadi berdiri di belakang Daniel hanya melihat kejadian itu sambil menahan tawa melihat wajah Mona yang tadi terus menatap Daniel.
Daniel menyandarkan kepala nya dan meminta Roy untuk meijat bahunya yang terasa berat. Ia memejamkan mata sejenak saat Roy mulai memijat bahunya dengan kekuatan sedang. Saat Daniel memejamkan mata, bayangan peristiwa pagi tadi, saat Carla mengecup pipi nya dan membisikkan kata cinta padanya terlintas.
Daniel tersenyum lebar, dan semangatnya yang sempat terganggu karna tingkah Mona tadi pun mulai membaik. Ia menyuruh Roy untuk berhenti memijat nya lalu ia kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Tangan kanan Daniel mulai bergerak membuka berkas berkas yang harus ia cek, matanya fokus kepada tulisan di setiap lembar kertas yang ia buka. Roy pun membantu menjelaskan beberapa dokumen yang sedang di cek oleh Daniel secara mendetil.
__ADS_1
Namun saat keduanya tengah fokus membicarakan mengenai pekerjaan dan laporan laporan perusahaan. Daniel tiba tiba beralih ke topik yang rasanya sangat jauh sangkutannya dengan pekerjaan atau perkembangan perusahaan.
" Apa kamu tau cara melamar seorang wanita?" Tanya Daniel kepada Roy dengan wajah serius.
Roy yang mendengar pertanyaan Daniel nampak terkejut sekaligus bingung. Namun ia tetap harus menjawab pertanyaan tuannya itu.
" Maaf tuan, saya belum pernah dekat dengan seorang wanita apa lagi sampai melamar. Jadi saya kurang paham mengenai itu. Mungkin saya bisa membantu tuan mencari hal mengenai itu melalui internet." Jawab Roy
" ternyata ada juga yang tidak kamu mengerti." Ujar Daniel dengan nada menyinggung Roy
" tentu saja tuan. Karna saya cuma manusia biasa. Tuan yang sudah pernah pacaran saja tidak mengerti caranya. Apa lagi saya yang tidak pernah dekat dengan seorang gadis." Gumam Roy dalam hati
Daniel terdiam, Dada nya menempel di meja dengan telapak tangan kanan yang menyanggah dagunya. Ia berpikir harus dengan cara apa ia melamar pujaan hatinya yaitu Carla. Walaupun ia sering dengan spontanitasnya mengajak Carla menikah dengan nya. Namun ia belum pernah melamar Carla secara benar dengan cara yang romantis seperti pasangan pada umum nya.
Ia bahkan pernah membuat kesan buruk di hadapan ayah Carla yaitu Hassan. Ia berpikir, bagaimana reaksi ayah Carla jika ia meminta restu untuk meminang putri nya secara resmi. Apa Hasan akan merestuinya? atau menolak dengan tidak hormat?
Memikirkan itu, wajah Daniel tiba tiba berubah kecut. Ia mengacak ngacak rambut bagian belakangnya sembari membuang nafas kasar.
" Roy.. Apa Billy dan Boby sudah di rumah Carla?" tanya Daniel
Roy pun menjawab " sudah tuan. Mereka sudah berada di rumah nona Carla."
" baik tuan."
Setelah menjawab itu, Roy langaung menekan layar ponselnya untuk menghubungi Billy dan Boby (body guard Daniel). tuut.. nada panggilan tersambung dan tak butuh waktu lama Billy sudah menjawab panggilan dan Roy.
" iya kak Roy, ada apa?" ucap Billy dari sebrang telpon. Billy dan Boby memiliki perbedaan usia 3 tahun di atas Roy, jadi untuk menghormati atasan nya sekaligus orang yang lebih tua dari nya Billy dan Boby selalu memanggil Roy dengan sebutan kakak. Sesuai permintaan dari si pemilik nama.
" kamu sudah berada di rumah nona Carla kan?" Tanya Roy
" sudah kak " jawab Billy
" berikan ponselnya ke tuan dan nona muda, Tuan Daniel ingin bicara dengan mereka." titah Roy.
" baik. tunggu sebentar." Setelah mengatakan itu, Billy langsung memberikan ponselnya kepada Farrel.
Tak butuh waktu lama, suara Farrel terdengar dari sambungan telpon Roy. Roy pun langsung memberikan ponsel miliknya kepada Daniel.
__ADS_1
" Hallo " ucap Daniel
" iya, ada apa pah?" tanya Farrel tanpa basa basi lagi.
Daniel mulai dengan sedikit mengobrol ringan dengan Farrel dan Frilly. Ia menanyakan bagaimana kabar mereka, mereka sudah sarapan atau belum dan apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Setelah cukup berbasa basi, Daniel mulai mengatakan maksud yang sebenarnya ia menghubungi Farrel dan Frilly.
" sayang.. Menurut kalian, mama Carla suka cara di lamar yang seperti apa?" Tanya Daniel to the poin.
" waah papa mau melamar mama Carla?" Sambung Frilly
" iya sayang.. Tapi papa masih bingung bagaimana cara melamar mama Carla. Setahu papa, perempuan itu punya impian bagaimana seorang pria akan melamar nya. Mungkin mama Carla juga punya keinginan seperti itu, makanya papa jadi bingung." ungkap Daniel panjang lebar.
" Frilly kayanya tau pah." jawab Frilly, " mama waktu itu pernah nonton drama di TV. Waktu itu mama senyum senyum sendiri pas lihat adegan peria nya melamar kekasih nya di sebuah taman di saksikan banyak orang."
Frilly menceritakan nya sambil membayangkan wajah sang ibu beberapa waktu lalu saat ia tak sengaja melihat Carla sedang menonton drama di televisi.
" pasti mama akan sangat terharu dan langsung menerima lamaran papa, kalau papa ngelakuin cara yang sama seperti di dalam drama yang mama tonton" sambungnya
" kamu ngomong apa sih. memangnya kamu pikir mama sama papa lagi syuting drama." terdengar suara Farrel yang menyela perkataan Frilly.
" jangan dengerin Frilly pah. Mama gak akan suka cara yang seperti itu." Tambah nya
" memang menurut Farrel, mama suka nya dengan cara seperti apa?" Tanya Daniel
" cerita Frilly tadi memang benar sih pah, tapi jangan lakuin cara yang sama seperti yang di lakuin di drama itu. Mama gak akan suka. Karna maam gak suka sesuatu yang berlebihan." Tegas Farrel
" apa Farrel punya ide?" Daniel kembali bertanya
" Farrel memang gak mengerti soal lamar melamar karna Farrel masih kecil. Tapi Farrel bisa kasih sedikit saran buat papa. Kalau menurut Farrel mungkin papa harus mengajak mama dinner di restourant romantis yang tempat nya di outdoor gitu."
Farrel terus mengatakan gagasan nya kepada Daniel dengan mendetil layaknya seseorang yang sudah dewasa. Daniel pun mendengarkan dengan seksama setiap kata yang di ucapkan oleh buah hatinya itu.
Setelah Farrel selesai mengungkapkan saran nya untuk sang ayah. Daniel nampak tersenyum seolah mendapat pencerahan dari saran yang di berikan oleh Farrel kepadanya.
" Saran Farrel sangat bagus. Terima kasih sayang, papa akan coba cara itu." Ucap Daniel
" ya. Tapi, memang nya kapan rencana nya papa akan melamar mama?" tanya Farrel
__ADS_1
" Dalam waktu dekat papa akan segera melamar mama kalian." Jawab Daniel sambil tersenyum