
Daniel melangkahkan kakinya mendekat ke hadapan Carla lalu memeluknya dengan erat. Sambil mengelus kepala Carla ia lalu bertanya
" apa sakit?"
Carla yang mengerti maksud pertanyaan Daniel, hanya menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia baik baik saja. Ia pun membalas pelukan Daniel juga dengan eratnya. Betapa nyaman nya Carla saat itu. Perasaan yang semula kalut kini menjadi hangat dan tenang.
" lain kali jangan lakukan itu lagi. Kamu bisa katakan padaku kalau ada yang membuat mu benci atau kesal. Biar aku yang menghukum mereka." Ucap Daniel
" tapi apa tidak keterlaluan sampai memecat mereka?" Tanya Carla
Carla masih merasa tak enak hati karna emosinya telah membuat seseorang kehilangan pekerjaannya.
" Itu bahkan hukuman yang paling ringan untuk mereka." Tegas Daniel, " oya, besok aku mau mengajak kamu makan malam berdua. Kamu tidak ada acara kan?" Tambahnya
" tidak ada kok. Tapi kok cuma berdua, bagaimana dengan anak anak?" tanya Carla sambil melonggarkan pelukannya dan mendongakkan kepalanya melihat ke wajah Daniel
" untuk besok malam anak anak titip sama Roy dulu yah. Soalnya aku mau sekalian bertemu klient." Jawab Daniel
" Baik lah. Kalau gitu aku kembali kerja dulu." Ucap Carla
Daniel menganggukkan kepala lalu mengecup kening Carla dengan lembut. Setelah itu Carla pun berjalan ke luar ruangan menuju ke ruang kerja nya.
Ketika ia menutup pintu perlahan setelah keluar dari ruangan Direktur, Mona terus menatap Carla dengan tatapan sinis dan raut wajah tak bersahabat. Carla menyadari itu, namun ia tak mau menghiraukannya. Setelah mengetahui ulah Mona yang menyebarkan kebenaran tentang Carla kepada karyawan perusahaan, membuat Carla makin benci dan Carla terus melangkahkan kakinya hingga ia melintas di depan Mona, tiba tiba Mona mengatakan sesuatu yang membuat langkah Carla terhenti.
" ternyata kakak tiri ku ini licik juga ya, udah berhasil merebut tunangan orang, sekarang malah buat orang kehilangan pekerjaan."
Mona mengatakan nya sambil tersenyum licik dan menyinggung Carla. Perlahan Carla berbalik dan mendekat ke arah Mona. Kemudian dengan penuh penekanan Carla berkata
" makanya, mulai sekarang berhati hatilah. Jangan sampai kamu nanti bernasib sama seperti mereka. Atau mungkin lebih parah dari mereka."
Setelah mengatakan itu Carla menjauh sembari membalas senyuman Mona dengan tak kalah licik nya. Setelah menjauh, Carla merubah kembali raut mukanya dengan wajah tegas di tambah dengan tatapan mata yang tajam. Dan kemudian ia kembali melangkahkan kaki nya meninggalkan ruangan Direktur dan juga Mona yang berada di depan ruang itu.
" perempuan sia*an. Lihat saja nanti, berapa lama kamu bisa mengandalkan Daniel." Gumam Mona dengan emosi yang mulai naik.
...
" mama pulang.."
Sore menjelang maghrib Carla tiba di rumah sepulang dari bekerja. Seperti biasa, ia langsung di sambut pelukan hangat dari kedua buah hatinya yaitu Farrel dan Frilly.
" mama gak di antar papa?" Tanya Farrel
" tidak. Mama di antar sama Billy. Papa kalian sedang ada urusan, jadi gak bisa bertemu Farrel dan Frilly dulu." Jawab Carla dengan nada lembut. " Mama mandi dulu yah." Tambahnya
__ADS_1
Farrel dan Frilly mengangguk. Carla pun berjalan menuju kamarnya untuk mandi meninggalkan Farrel dan Frilly di ruang tamu rumahnya.
Setelah Carla masuk ke dalam kamarnya, Farrel menghampiri meja yang terdapat telpon rumah di atasnya. Ia langsung mengetikan beberapa nomor lalu menghubungi nomor telpon tersebut.
" hallo.."
Terdengar suara pria dari sebrang telpon yang sudah tersambung itu. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Daniel, ayah Farrel dan Frilly.
" ini Farrel dan Frilly pah.." Ucap Farrel. " Apa papa jadi melamar mama besok?" tanya nya
" jadi dong sayang. Papa udah siapkan semuanya. Ini papa sekarang sedang membeli pakaian untuk papa pakai besok. Papa juga sekalian belikan untuk mama. Besok akan di kirim ke rumah oleh Billy" Jawab Daniel
" baiklah kalau begitu. Semoga hasilnya sesuai keinginan papa dan mama." Ucap Farrel
" papa semangat ya.." Sambung Frilly
" iya sayang.. terima kasih." balas Daniel
Farrel menutup panggilan telphone nya dan menaruh kembali telpon rumah itu ke atas meja nakas.
...
Sementara itu di tempat lain di kediaman Hasan Wijaya, ayah kandung Carla.
Nuri bertanya kepada sang putri yaitu Mona yang baru saja tiba di rumah dan menghempaskan tubuhnya di atas soffa yang berada di ruang tamu rumah mereka.
Raut wajah Mona saat itu terlihat kecut, tak bersemangat dan kesal. Bagaimana ia tak kesal, sampai hari ini pun Mona masih belum bisa berdekatan dengan Daniel. Terlebih setelah ia harus bekerja di ruangan terpisah, ia semakin merasa sulit untuk mendekati Daniel.
Dan lagi, selama Mona bekerja sebagai sekretaris Daniel. Daniel belum pernah satu kalipun mempekerjakan Mona ke luar bersamanya selayaknya sekretaris dan bosnya. Seperti yang di lakukan Roy ataupun Carla.
Setiap ada rapat atau meeting dengan klient di luar, Daniel tak pernah menunjuk Mona untuk ikut bersamanya. Ia hanya di pekerjakan di dalam kantor. Tidak seperti Carla yang selalu Daniel ajak untuk ikut bersamanya kemanapun ia pergi saat bekerja.
" Mama tenang aja. Cepat atau lambat Daniel pasti akan Mona taklukan." Kilah Mona
Rasa gengsinya yang besar membuatnya tak mampu mengatakan yang sebenarnya kepada sang ibu. Ia tak ingin jika sang ibu mengatakan hal yang tidak mengenakan hatinya jika sampai ia tau bahwa Mona masih belum bisa mendekati Daniel.
" Siapa yang ingin kamu taklukan?"
Tiba tiba suara Hasan terdengar dari arah belakang mereka. Serentak Mona dan Nuri menoleh ke belakang melihat ke arah Hassan yang sedang berjalan menghampiri mereka.
Hasan duduk di sofa yang tak jauh dari Mona dan Nuri, kemudian ia kembali bertanya
" Siapa yang ingin kamu taklukan?"
__ADS_1
" Tidak ada kok pah. Papa pasti salah dengar." Kilah Mona
" Papa dengar kok kamu menyebut nama Daniel tadi. Jangan bilang kamu sedang mendekati Daniel Raditya." Ucap Hasan dengan tegas
Mona nampak gugup. Ia tak ingin sang ayah tau apa yang sedang ia rencanakan. Karna Hasan hanya mengetahui jika saat ini Carla lah yang sedang berhubungan dekat dengan Daniel. Kalau sampai Hasan mengetahui rencana Mona, ia pasti akan langsung menentangnya.
Namun Hasan tak begitu saja mempercayai perkataan Mona. Terlebih setelah ia tau kebenaran bahwa Daniel adalah ayah dari kedua cucu cucu nya, yaitu Farrel dan Frilly.
" Kamu boleh dekat dengan pria baik manapun yang sesuai keinginan kamu, tapi peringatkan, kamu jangan pernah berusaha mendekati Daniel Raditya. Dia bukan orang yang mudah dan juga dia secara terang terangan mengatakan kepada papa kalau dia mencintai Carla kakak mu." Jelas Hasan panjang lebar
Mona dan Nuri yang mendengar peringatan dari Hasan tentu saja merasa kesal. Ia tak terima jika ia harus merelakan Daniel yang sedang di incar Mona kepada Carla.
Namun karna ia tak ingin rencana nya di ketahui oleh sang ayah, Mona akhirnya berbohong dengan mengatakan jika ia tidak berminat sama sekali terhadap Daniel. Karna orang yang ia sukai saat ini ialah Aiden dan bukan Daniel.
" bagus kalau begitu. Lagi pula apa yang kamu harapkan dari orang seperti Daniel. Orang berkuasa seperti dia pasti kehidupannya juga sangat rumit. Kamu belum tentu bisa mengimbangi nya. Tegas Hasan
" Lalu kenapa Carla papa ijinkan untuk dekat dengan Daniel?" Tanya Nuri
" siapa yang bilang papa mengijinkan Carla dekat dengan Daniel? Papa juga memberi peringatan kepada Carla. Tapi walau bagaimana pun Daniel adalah ayah dari anak anak Carla, papa tidak bisa memaksakan kehendak papa dan hanya bisa mendukung keputusan Carla." Ungkap Hasan
Namun Mona masih tak bisa menerima apapun itu alasan nya untuk melepaskan Daniel. Walaupun sang ayah sudah memberi peringatan panjang lebar. Ia tetap ingin mendapatkan Daniel, bagaimanapun caranya.
...
Keesokan Harinya...
Billy dan Boby datang ke rumah Carla mengantarkan pakaian yang sudah di pilihkan oleh Daniel untuk Carla pakai ke acar makan malam nanti.
Carla membuka kotak yang berisi gaun berwarna peach dan juga heels bewarna senada dengan gaunnya. Mata Carla berbinar melihat gaun yang begitu cantik di tangannya. Terlihat jelas jika Carla sangat menyukai gaun yang di pilihkan secara khusus oleh Daniel itu.
Tak berselang lama, ponsel Carla berbunyi. Ia segera meraih ponsel yang ia taruh di atas sofa di sampingnya dan langsung menjawab panggilan masuk yang ternyata berasal dari Daniel.
" Billy sudah sampai?" tanya Daniel dari sebrang telpon
" iya. Billy sudah sampai. Aku juga sudah membuka kiriman dari mu." Jawab Carla sembari tersenyum
" apa kamu suka? " Daniel kembali bertanya
" suka. Sangat suka. Terima kasih." Jawab Carla senyumnya makin melebar
" syukurlah. Pakai gaun itu untuk acara nanti malam. Jam setengah tujuh nanti aku akan menjemput mu." Ucap Daniel
" baiklah." Sahut Carla
__ADS_1