PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 21


__ADS_3

"Cermin itu, bagaimana cermin itu bisa kembali lagi. Bukankah Ranum sudah membawanya pergi!"


Aku benar-benar tak menyangka jika cermin itu akan kembali lagi. Buru-buru aku mengambil kain hitam untuk menutup cermin itu.


Aku langsung memberi tahu Bu Dhe tentang cermin itu, tapi Bu Dhe tak mau membahas tentang cermin itu lagi. Mungkin ia masih trauma dengan kematian Ranum karena cermin itu.


Karena tak ada solusi dari Bu Dhe akupun berusaha menghubungi Abu Musa dan menceritakan tentang cermin itu serta kematian Ranum.


Tepat sehabis sholat Isya Abu Musa datang ke rumahku. Kali ini ia datang ditemani putranya.


Aku langsung mengajaknya ke atas untuk melihat cermin itu.


Abu langsung mendekati cermin itu dan membuka penutupnya.


Abu berdiri di depan cermin itu kemudian merapikan pakaiannya. Kini ia menatap lekat bayangannya yang ada di dalam cermin sambil membaca doa.


Ku lihat ia tampak berkeringat hingga Zahid putranya langsung membersihkan wajah Abu dengan sapu tangannya.


Tidak lama ku lihat Abu sudah selesai berdoa.


"Bagaimana Abu?" tanyaku penasaran


Lelaki itu menghela nafas panjang, "Memang cermin ini bukan cermin biasa, terdapat banyak sekali makhluk gaib di dalamnya. Bukan hanya satu tapi beberapa. Aku belum bisa mengusir semuanya. Sebaiknya malam ini kamu tidur di kediamanku saja," ucap Abu Musa


"Lalu bagaimana dengan Ibu?"


"Ibu dan adikmu juga, pokoknya malam ini semua menginap di rumahku. Untuk jaga-jaga saja, karena dari yang aku lihat memang jin yang satu ini sangat ganas," ucap Abu Musa


Setelah mendengar ucapan Abu, aku langsung membereskan pakaian ibu dan barang-barang kami seperlunya untuk keperluan menginap sementara.


Azam juga sudah membereskan perlengkapan sekolah serta pakaian gantinya di bantu Zahid.


Setelah semuanya selesai aku langsung bergegas menuju kediaman Abu Musa yang berada tak jauh dari Masjid.


Abu memberikan satu kamar besar untuk tempat kami beristirahat. Karena kamarnya lumayan luas jadi kami bisa tidur bertiga.


Ibu tidur di ranjang, sedangkan aku dan Azam memilih tidur di lantai beralaskan matras.


Malam ini sebelum tidur aku sempatkan untuk bertadarus sebentar dan berwudhu seperti anjuran Abu Musa.


Ku lihat Ibu dan Azam sudah terlelap sementara mataku belum bisa terpejam karena kepalaku dipenuhi dengan berbagai pikiran.

__ADS_1


Pertama aku masih kepikiran Ranum, jujur saja sampai saat ini aku masih merasa bersalah padanya karena membiarkan ia membawa cermin maut itu. Kedua aku memikirkan keselamatan keluarga ku, aku yakin dengan usahaku meminta bantuan Abu untuk mengusir penunggu cermin akan membuat keluarga ku dalam bahaya.


Sama seperti Ranum, Mbah Sukardi, Bapak dan semua orang yang berusaha menyelamatkan Ibuku.


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Pantulan angin dari kipas angin membuat mataku perlahan mulai mengantuk.


Aku kemudian merebahkan tubuhku di samping Azam. Baru beberapa menit terlelap tiba-tiba aku terbangun karena mendengar suara bunyi lesung ibu.


Lesung itu berbunyi nyaring beraturan seperti ada seseorang yang sengaja membunyikannya.


Meskipun terdengar sangat horor, kini aku mulai sadar jika bunyi lesung itu adalah pertanda bahaya.


Aku masih ingat saat mendengar suara lesung itu berbunyi belum lama ini dan ternyata keesokan harinya Ranum meninggal.


Begitupun saat kematian Bapak dan Mbah Sukar, lesung itu selalu berbunyi malam harinya seperti memberi sebuah peringatan.


Kini aku berpikir akan ada bahaya apalagi yang menanti kami. Siapa yang akan jadi korban selanjutnya.


Aku atau Abu Musa, atau adikku Azam.


"Astaghfirullah hal adzim, semoga ini bukan pertanda buruk. Semoga Allah selalu melindungi keluarga ky dan juga keluarga Abu Musa,"


Karena aku tak bisa tidur setelah mendengar suara lesung itu maka aku pun memilih untuk melakukan sholat malam.


Selesai mengambil air wudhu aku langsung menggelar sajadah dan berdiri untuk melakukan takbiratul Ikhram.


"Allahu Akbar!"


Semuanya terasa sunyi, sepi, hanya detak jarum jam yang terdengar begitu jelas malam itu.


Selesai sholat aku memilih bertadarus berharap mataku akan mengantuk agar aku bisa tidur lagi.


Benar saja, baru beberapa ayat ku baca mataku sudah terasa berat.


Kali ini aku tidur dengan posisi duduk masih memegang Al-Qur'an.


Lagi-lagi aku bermimpi seram, dalam mimpiku kali ini aku melihat Azam bermain di gudang belakang rumah.


Aku melihat ia bermain bersama Mbah Kung di sana.


Entah kenapa aku melihat Azam tak terlihat bahagia meskipun Mbah Kung memberinya banyak makanan enak dan juga beraneka ragam mainan.

__ADS_1


Wajahnya terlihat pucat dan tatapannya kosong.


Ia seperti terlihat sangat lelah hingga ada tanda hitam di bawah matanya.


Melihat Azam yang seolah kecapean akupun berinsiatif untuk mengajak nya pulang.


Tapi baru saja aku hendak melangkah masuk tiba-tiba seorang menjambak rambut ku hingga kepalaku terbentuk tembok.


"Mas bangun Mas, sudah subuh!" ku lihat Azam membangunkan aku sambil menarik-narik bajuku.


"Oh, sudah pagi!"


"Abu sudah menunggu Mas untuk sholat subuh di Musholla," ucap Azam


Setelah mimpi itu entah kenapa aku berpikir enggan meninggalkan Ibu bersama Azam.


Meskipun ini rumah Abu Musa tapi tetap saja firasat ku mengatakan akan terjadi hal buruk jika aku meninggalkan mereka.


Aku segera pergi menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Selesai berwudhu aku menemui Abu, aku menceritakan mimpiku padanya.


"Maaf kalau pagi ini aku gak bisa gabung sholat di masjid karena harus menjaga ibu,"


"Baik Fik, sholat di rumah pun tak apa-apa yang penting itu sholat. Yaudah kalau gitu Abu pamit ya, assalamualaikum."


"Waalaikum salam,"


Aku kemudian mengajak Azam untuk sholat berjamaah.


Setelah kejadian yang menimpa ranum jujur saja itu membuatku menjadi lebih religius. Kematian Ranum seolah mengingatkan aku untuk berubah menjadi lebih baik. Dari yang dulu sholat masih bolong-bolong kini sudah mulai penuh.


Akupun jadi lebih suka mengisi waktu luang ku dengan membaca Alquran.


Seperti hari ini setelah sholat subuh aku memilih bertadarus sampai pagi, sementara Azam ku lihat dia sedang mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas-tugas sekolahnya.


Karena hari ini aku harus kembali bekerja maka akupun menghubungi Bik Sumi untuk merawat ibuku lagi.


Karena dengan begitu aku bisa bekerja dengan tenang. Kenapa aku memilih Bik Sumi, karena hanya dia yang paham dengan kondisi ku dan juga ibuku. Jadi aku tak perlu repot-repot untuk mengajarinya lagi.


Hari ini bengkel sangat ramai mebuat ku kelelahan sampai lupa makan.


Bahkan aku baru bisa sholat duhur setelah jam dua siang.

__ADS_1


Selesai sholat dhuhur aku mendapatkan telpon dari pihak sekolah yang mengabarkan kalau azam jatuh dari kelasnya yang ada di lantai dua.


Seketika aku buru-buru menuju ke rumah sakit tempat Azam di rawat.


__ADS_2