PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 37


__ADS_3

Angin berdesir mengibas-ibaskan rambut Fikri yang menutupi keningnya.


Percikan pasir menampar wajah pemuda itu seolah berusaha membangunkannya.


Perlahan netranya terbuka saat seekor burung gagak hinggap diatas tubuhnya.


*Gak, gak, gak!


Fikri menatap nanar sekelilingnya.


Ymuuuuuuyy di sini jawab atas segala urusannya dengan wajah yang cantik dan seksi pada saat itu juga terdapat banyak sekali makhluk hidup yang


"Dimana aku,"


Pemuda Itu berusaha bangun dan berdiri. Ia hanya termangu saat melihat disekelilingnya hanya ada hamparan pasir yang tak berujung.


"Kemana aku harus pergi??"


Dalam kebingungannya ia melangkahkan kakinya mengikuti arah matahari.


Panas terik membuatnya terkapar di hamparan pasir.


"Haus,"


Saat ia mulai putus asa karena rasa dahaga yang membuatnya melemah, ia melihat sebuah mata air. Ia kembali bangun dan mencoba perlahan mendekati mata air tersebut.


Senyumnya mengembang saat melihat sebuah danau di depannya. Ia membuka pakaiannya bersiap untuk menceburkan dirinya ke danau itu.


"Pasti segar sekali," Fikri menelan ludahnya kemudian perlahan mencelupkan kakinya ke danau tersebut.


Seketika rasa dingin menjalar ke tubuhnya membuat pria itu semakin ingin membenamkan tubuhnya di danau tersebut.


Saat Fikri sedang menikmati kesegaran berendam di danau itu, tiba-tiba ia merasakan seseorang menarik kakinya hingga ia terbenam di dasar danau.


Ia berusaha melepaskan diri dari pria yang berusaha menenggelamkannya, namun usahanya sia-sia.


Bayangan Anas membuat semangat Fikri bangkit, ia berusaha mengumpulkan tenaganya untuk melawan pria yang berusaha membunuhnya.


*Dug!!


Dengan satu kali tendangan Fikri berhasil melepaskan diri dari pria itu. Ia berenang naik keatas danau. Namun lagi-lagi seorang menangkapnya. Kali ini seorang pria lain menjambak rambutnya dan menenggelamkannya ke danau.


Ia berusaha menahan nafas agar bisa bertahan hidup.


"Aku tidak boleh begini terus, aku harus berjuang, aku harus hidup demi Anas!"


Saat tak ada kekuatan Fikri hanya bisa bermunajat kepada sang pencipta agar ia diberikan keselamatan.


"Jika aku memang masih ditakdirkan untuk hidup maka bantulah aku ya Allah untuk melawan pria itu, beri aku kekuatan untuk menghadapinya, La Hawla Wala Qu Wata Illa Billah,"


Fikri menarik lengan pria itu dan membantingnya ke danau.


Tiba-tiba air danau mengering dan pria itu berubah menjadi sosok yang mirip dengannya.


Bukan hanya satu kini pria itu berubah menjadi 4 dengan wajah yang sama.


"Sedulur papat limo pancer, kau harus menaklukannya agar mereka bisa menunjukkan jalan dimana Anas berada," ucap seorang gadis yang memakai kerudung hitam

__ADS_1


Gadis itu, bukankah dia yang ada di makam ranum??


Kini ke empat pemuda itu merangsek maju menyerang Fikri, mau tak mau Fikri harus melawan mereka.


Fikri yang tidak memiliki basic ilmu beladiri harus menjadi bulan-bulanan empat pria itu hingga tubuhnya babak belur.


"Gunakan hatimu untuk menaklukkan mereka, ingat... Mereka adalah saudaramu jadi kalian memiliki ikatan batin yang kuat. Gunakan kekuatan itu untuk menaklukkannya," ucap wanita itu lagi


Fikri mengusap darah dari sudut bibirnya kemudian berdiri lagi. Dari arah berlawanan seorang pemuda langsung menendangnya hingga tubuhnya kembali ambruk.


Dengan tertatih ia kembali bangkit.


*Grep!


Seorang pemuda lainya menariknya dan menjadikan Fikri sebagai bulan-bulanannya.


Fikri yang tak punya kekuatan lagi hanya bisa memeluknya erat. Ia tak perduli meskipun pemuda itu terus memukulinya.


"Fikri lepaskan dia, itu berbahaya!"


Namun Fikri justru mengusap punggung pemuda itu.


"Mana mungkin aku tega menyakiti saudaraku sendiri, saudaraku yang mendampingiku saat aku lahir, saudaraku yang akan menjagaku nanti," ucapnya lirih.


Seketika keempat pemuda itu berhenti memukulinya dan menghilang menyatu kedalam tubuh Fikri.


"Yes, akhirnya dia berhasil!" seru Barra kemudian menghampiri Fikri


Ia membantu Pemuda itu bangun. "Sekarang saatnya kita bergerak Fik," ucap Barra


Fikri mengangguk.


"Apalagi sih!"


"Sabar dong Barra, biar lebih seru kaya di film-film, pahlawan itu sebaiknya pakai kostum biar makin keren," sahut Gilang


"That's right baby," timpal Rangga


"Untuk itulah aku sudah menyiapkan kostum buat Fikri," Gilang memberikan sebuah bungkusan kepada Fikri


Fikri kemudian membukanya bungkusan itu.


"Sekarang pakai Fik,"


"Emang harus ya di pakai?" tanya Fikri


"Wajib hukumnya Fik, ingat kalau wajib berarti berdosa jika tidak di pakai," jawab Rangga


"Yoi,"


"Astoge, dasar somplak masa si Fikri suruh pakai kostum gituan sih,"


"Namanya juga usaha Bar, jangan salah loh, untuk mendapatkan kolor ijo itu Rangga harus puasa tujuh hari tujuh malam," tegas Gilang


"Masa iya sih, emang puasa apaan Ran?" tanya Barra penasaran


"Puasa menahan diri untuk tidak menggoda para janda," jawab Rangga membuat semua orang tertawa mendengarnya

__ADS_1


"Sue lo, kirain beneran,"


Mereka tiba-tiba terdiam saat melihat Fikri memakai celana pemberian Gilang.


"Keren juga itu kolor kalau di pakai si Fikri, jadi ada auranya gitu,"


"Aura apa nih, aura kasih atau aura Hermansyah,"


"Aurel kali Bar," celetuk Gilang


"Kamu juga pakai Bar," ucap Rangga


"Gak ah nanti ketampanan ku menurun,"


"Justru aku membuatkan kostum itu untuk meningkatkan ketampanan mu. Jangan takut di dalam kolor ini ada sistem yang bisa meningkatkan ketampanan pemakainya. Namanya sistem ketampanan Kolor ijo," jawab Rangga


"Cara kerjanya gimana Ran?" tanya Gilang


"Jadi semakin banyak para wanita yang melihat kolor mu maka ketampanan mu semakin meningkat Bar?" jawab Rangga


"Terus kalau gak ada yang melihat gimana?" tanya Barra lagi


"Artinya lo jelek wkwkwkwk!" sahut Rangga membuat Gilang tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya


"Sue lo!"


"Sttt, si Fikri ilang kemana tuh, gara-gara kalian berisik mulu jadi belahan hati gue ilang deh!" celetuk Barra


*Brakkk!


Ketiganya di kagetkan dengan kemunculan Fikri yang terlempar di hadapan mereka.


"Sans aja selama Fikri pakai kolor itu semuanya aman terkendali," ucap Gilang


"Oh gitu, emang lu kasih apa tuh kolor sampai bikin si Fikri kebal?" tanya Rangga


"Tadi aku Iseng-iseng kasih potongan daleman anak perawan," jawab Gilang


"Punya siapa emang Lang?" telisik Rangga penasaran


"Janie, kakaknya anas," bisik Gilang


"Sue lo, bisa-bisanya pakai punya cucu gue!" ucap Rangga segera mengejar Gilang yang langsung kabur


"Dasar bocah tua nakal, udah tua masih aja kaya bocah," ucap Barra kemudian menoleh ke samping


Ia begitu terkejut saat melihat sosok wanita cantik di sampingnya.


"Halo Barra?"


"Astoge ngagetin aja lo Kunti!" seru Barra mengusap dadanya


"Sekarang teman-temanmu sudah meninggalkan mu jadi sekarang saatnya kita melanjutkan pertarungan kita yang sempat tertunda,"


Wanita itu langsung mencekik leher Barra dan mendorongnya hingga keduanya melesat tak terlihat.


Fikri berusaha mengejar mereka untuk menyelamatkan Barra, namun seekor ular besar menghalanginya. Ia kemudian mengambil sebuah kayu kecil dan menancapkannya di kepala ular itu. Ia kemudian berlari mengejar Barra.

__ADS_1


Entah darimana ia mendapatkan kekuatan itu, dengan satu pukulannya Ia berhasil menumbangkan iblis wanita itu dan membebaskan Barra.


__ADS_2