PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN SEASON 2 KHODAM PENJAGA


__ADS_3

*Braakkk!!


Semua mata tampak menatap kearah Radit yang tertimpa lampu ruangan. Janie segera berlari menghampirinya.


"Tolong, tolong!!" seru Janie begitu histeris saat melihat kekasihnya bersimbah darah.


Namun tak ada seorangpun yang datang menghampirinya. Mereka hanya mematung melihatnya.


Sementara itu Angel yang tak suka jika Deden peduli dengan gadis lain berusaha mencelakai gadis itu.


Saat Deden datang untuk membantunya tiba-tiba sebuah Lukisan jatuh mengarah ke gadis itu.


"Janie awas!" seru Deden


Radit yang masih setengah sadar, terkejut saat melihat sebuah lukisan mengarah kepada Janie. Ia langsung mendorong Janie saat lukisan itu melesat kearahnya.


*Buughhh!!


Radit seketika pingsan saat lukisan besar itu menghantam kepalanya.


"Raditt!!" teriak Janie


Perempuan itu segera bangkit dan menghampiri kekasihnya itu.


Ia segera menyingkirkan lukisan yang menutupi sebagian tubuh Radit kemudian membaringkan pemuda itu di pangkuannya.


"Radit, bangun Dit," ucapnya sambil menepuk-nepuk pipinya


Namun melihat Radit yang tak kunjung siuman, Ia pun mengguncang tubuh kekasihnya itu, berusaha untuk membangunkannya.


"Radit, bangun Dit, Radit bangun!!"


Janie semakin panik saat melihat darah segar mengucur dari kepala kekasihnya itu, hingga membuatnya langsung berteriak histeris.


"Tolong!" seru Janie berteriak histeris


Dua orang guru langsung menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi. Janie menunjukkan luka di kepala Radit, sambil terisak.


"Dia jatuh terpeleset dan tiba-tiba kepalanya kejatuhan lampu dan lukisan," jawab Janie sambil terisak


Seorang guru langsung berinisiatif untuk membawa Radit ke rumah sakit terdekat.


"Telpon ambulance sekarang!" perintah Bu Vita


"Baik Bu,"


Ia juga memerintahkan beberapa siswa laki-laki untuk memindahkan Radit.


Suasana Gasebo menjadi riuh, semua siswa yang seharusnya sedang menikmati makan siang mereka justru mengerubungi Radit yang masih belum sadarkan diri.


Tak Lama sebuah ambulance tiba dan membawa Radit ke rumah sakit.


Janie mengikuti Radit menuju ke rumah sakit. Sedangkan dari kejauhan Angel menyeringai senang.


Jangan harap kau bisa selamat Radit.

__ADS_1


"Kamu gak makan?" tanya Deden menoleh kearah Angel yang masih belum menyentuh nasi boxnya.


"Aku belum lapar, kalau kamu mau makan saja punyaku," jawabnya kemudian menyodorkan nasi box miliknya kepada Deden.


"Makasih ya Ngel, kebetulan aku laper banget," jawab Deden menerimanya dengan senang hati


Tidak lama Melvin datang menghampiri Deden yang tengah asyik menikmati makan siangnya.


Di depannya Angel tampak senang memperhatikan Deden yang begitu lahap menyantap makanannya.


Melvin langsung memukul punggung Deden hingga ia tersedak dan batuk-batuk.


"Sekarang kau puas hah!" serunya melotot menatap Deden yang masih tersedak.


"Uhuk, uhuk!!"


Angel segera membuka air mineral dan memberikannya kepada Deden.


"Apa maksudmu?" jawab Deden


"Lo udah membuat Radit celaka hari ini, jadi lo juga harus mendapatkan balasan yang sama atas apa yang sudah lo lakukan pada Radit!" sahut Melvin kemudian menjambak rambut Deden


"Arrgghh!!, aku tak melakukannya, ia jatuh Sendiri!" sahut Deden menyeringai kesakitan.


"Tetapi kau yang memulainya anj*ng!" sahut Melvin


Melvin yang geram langsung mengambil botol air mineral Deden dan menumpahkan isinya keatas kepala pria itu.


Angel langsung melotot kearah Melvin saat menyaksikan kekerasan yang diterima Deden. Perempuan itu kembali mengepalkan tangannya melihat Melvin yang mulai membully Deden.


"Kenapa lo, gak suka!" seru Melvin mendekatkan wajahnya kepada gadis itu


"Sebaiknya jaga sikapmu dan jangan pernah menyakiti Deden lagi atau aku akan...." ucap Angel seketika menghentikan ucapannya karena melihat Deden memberikan isyarat padanya.


"Akan apa hah!" jawab Melvin semakin mendekatkan wajahnya kepada gadis berambut panjang itu.


"Jangan bilang kau akan mencelakai ku, memangnya siapa kau!" imbuhnya kemudian menjentikkan jarinya telunjuknya ke kening Angel.


Pak Jamal yang tak sengaja melintas segera menghampiri mereka dan melerainya.


"Ada apa ini, ada apa?" tanyanya berusaha menjauhkan Melvin dari Angela.


"Ini nih Pak, ada cewek songong plus caper yang berusaha mengancam aku Pak," jawab Melvin


"Caper gimana maksudnya?" tanya pak Jamal


"Cari perhatian sama gue lah pak, masa bapak gak tahu. Biasakan kan anak ganteng kaya gue tuh selalu di kejar-kejar cewek,"


"Kan normal kalau gitu. Tinggal kamu tidak usah menanggapi jika memang kamu tak suka dengannya, gitu aja kok repot,"


"Tetap saja aku gak suka ada cewek songong dan sok jagoan cuma untuk mendapatkan perhatian gue aja. Gue hapal kok tipe cewek kaya Lo!" tukas Melvin menunjuk kening Angel


Angel tersenyum mendengar ucapan Melvin.


Senyuman yang tak biasa membuat Melvin seketika merasakan dadanya sesak saat melihat Angel tersenyum padanya.

__ADS_1


Lelaki itu kemudian memegangi Dadanya membuat Pak Jamal kebingungan.


"Kamu Kenapa Vin?"


"Dadaku sesak Pak," jawab Melvin memegangi dadanya


"Apa kamu butuh nafas buatan?" goda Pak Jamal


"Ah sial, masih sempat bercanda ya Pak, lihat muridnya sekarat," jawab Melvin yang mulai lemah


Keringat dingin mulai membasahi keningnya, kini bahkan wajahnya berubah pucat membuat Pak Jamal langsung memegang pundaknya.


Pak Jamal yang merupakan seorang guru agama merasakan ada kekuatan gaib yang menyerang Melvin. Ia kemudian membaca ayat kursi dalam hati.


"Coba tarik nafas, tahan... hembuskan...tarik lagi ... Hembuskan," ucap Pak Jamal membuat Melvin mengikuti arahannya


"Tarik lagi, tahan satu jam," imbuhnya


"Mati dong Pak,"


"Gak bakal mati Vin, paling tidur panjang,"


"Sama aja, Pak,"


Pak Jamal terkekeh mendengar jawaban Melvin.


Tidak lama Melvin pun akhirnya bisa bernafas lega.


"Gimana rasanya sekarang?" tanya Jamal pagi


"Udah gak sesak lagi Pak. Akhirnya lega juga." ucap Melvin begitu bahagia


"Syukurlah kalau begitu, sebaiknya kau ikut bapak sekarang," jawab Jamal kemudian mengajak Melvin pergi


Sekarang kau boleh lolos anak muda. Tapi sebentar lagi kau akan menyesali semua ucapan yang sudah terlontar dari bibirmu dan kau akan menyesal karena sudah berurusan denganku.


"Kamu gak papa kan?" tanya Angel menoleh kearah Deden


"Gak papa kok, lagian aku udah terbiasa di bully ," jawan Deden lesu.


Deden kemudian menceritakan kehidupan sehari-harinya kepada Angel. Bagaimana ia dibully oleh Melvin dan kawan-kawannya. begitupun dengan pekerjaan paruh waktunya di sebuah toko kelontong yang dikerjakan selepas pulang sekolah untuk mendapatkan penghasilan tambahan guna membantu membayar uang sekolahnya.


Sementara itu, Radit masih belum siuman meskipun sudah mendapatkan perawatan intensif.


Janie masih tetap setia menunggu Radit meski pemuda itu sangat menyebalkan.


Janie tampak memandangi ponselnya berharap ada seseorang yang menghubunginya.


"Kenapa tak ada satupun yang menghubungi ku hari ini, apa mereka tak khawatir denganku atau setidaknya penasaran dengan keadaan Radit," keluhnya


"Kenapa juga Radit belum sadar juga, apa aku perlu mengabari Tante Ana agar ia tahu keadaan putranya?. Ah tapi bagaimana kalau dia shock nanti. Ah lebih baik tak usah, biar Bu Vita saja yang akan memberitahukan Tante Ana kondisi Radit."


Tidak lama Janie kembali dikejutkan dengan kemunculan pria misterius didepannya. Kali ini ia memintanya ikut dengannya. Meskipun Janie berusaha menolaknya namun pria itu terus memakannya.


"Kali ini kau harus ikut denganku, atau pria itu akan mati!" ucap pria itu menunjuk kearah Radit.

__ADS_1


__ADS_2