
Pagi itu Fikri memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Ia memilih untuk menetap di Jakarta karena pertimbangan sudah tidak memiliki rumah di kampung lagi.
Saat ia mengutarakan keinginannya kepada Lingga, ia menyambutnya dengan suka cita. Lee bahkan mengijinkan Fikri untuk tinggal di rumahnya sampai ia mendapatkan pekerjaan.
"Terimakasih Pak Dhe, Insya Allah kalau Fikri udah mendapatkan pekerjaan, saya akan cari tempat kost," ucap Fikri
"Ngapain ngekos, tinggal saja disini. Lagipula aku sudah menganggap kamu seperti anakku sendiri," jawab Lingga
"Tapi aku yang gak enak Pak Dhe,"
"Gak enak kenapa?" tanya Lingga lagi
"Gak enak karena gak bisa deketin Janie kali Dad!" celetuk Anas
"Hahahaha!" Lingga Langsung tertawa mendengar ucapan putranya
Sementara itu wajah Fikri langsung memerah
"Gak masalah Fikri, Pak Dhe mah sans aja. Kamu mau deketin Janie gak apa-apa. Kalau kalian sama-sama suka yang monggo, namanya jodoh itu gak kemana toh," jawab Lingga
"Btw hari ini Pak Dhe minta tolong sama kamu untuk nganterin Janie ke kampus ya, soalnya hari ini aku harus pergi kampung sebelah buat ngobatin orang,"
"Baik Pak Dhe," jawab Fikri
"Kenapa gak Anas aja sih Dad?" ucap Janie menghampiri mereka
"Karena Anas mau Daddy bawa. Sekalian aku mau ngajarin dia gimana caranya biar dia bisa jadi dukun profesional!" jawab Lingga
"Tapi kan dia gak berbakat Dad. Jangankan jadi dukun lihat hantu aja gak bisa,"
"Gak boleh gitu Janie, kita gak tahu apa kelebihannya si Anas. Kali aja dia ternyata memiliki kemampuan yang lebih mumpuni dari Daddy kan gak ada yang tahu,"
"Aamiin," jawab Janie
Ia kemudian segera menunju ke luar diikuti oleh Fikri yang langsung menyalakan sepeda motornya.
"Cie, cie, yang sudah dapat restu!" goda Anas
"Berisik Lo!" cibir Janie
Gadis itu segera duduk dibelakang Fikri membuat Anas kembali menggodanya.
"Jangan lupa pegangan ya Dek," ucap Anas kemudian segera berlari kala Janie melepaskan sepatunya
Sepeda motor Fikri melesat meninggalkan pelataran rumah Lingga dan berhenti di depan kampus Jaya Guna.
Radit segera menghampiri mereka, seperti biasa Radit yang posesif langsung mengucapkan ketidak sukaanya jika Janie diantar oleh pria lain.
"Sepertinya aku De Javu dengan adegan ini," ucap Radit sambil menopang dagunya
Ia menatap nanar Fikri yang masih duduk di atas motornya.
__ADS_1
"Sudahlah jangan mulai lagi, dia ini Fikri temen Anas yang waktu itu," ucap Janie mencoba menjelaskan
"Tapi dia sangat mirip dengan Ken, lelaki yang dulu selalu bersamamu. Jangan bilang kau memiliki perasaan dengannya sehingga membawanya ke Jakarta," jawab Radit
"Jangan ngaco, gue bukan tipe orang yang seperti itu," ucap Janie kemudian bergegas pergi namun seperti biasa Radit langsung menarik lengan Janie dan menariknya.
"Aku paling gak suka kalau ada orang yang sedang berbicara terus kamu pergi," ujar Radit
"Aku juga gak suka kalau kamu selalu posesif seperti ini dan mencurigai setiap pria yang bersamaku," jawab Janie kemudian berusaha melepaskan lengan Radit
Namun Lelaki itu tak membiarkan Janie lepas darinya. Ia terus mencengkeram lengannya hingga Janie berteriak kesakitan.
"Sakit Radit, lepasin!" seru Janie
Melihat Janie meringis kesakitan membuat Fikri langsung turun dari motor dan mendorong Radit hingga pemuda itu melepaskan tangan Janie.
*Bruughh!!"
"Kamu tidak apa-apa Jan?" tanya Fikri
*Deg!
Seketika Janie teringat bagaimana Ken juga melakukan hal yang sama dengan Fikri.
Bukan hanya wajah kalian yang sama ternyata kalian juga melakukan hal yang sama saat melihatku kesakitan atau dalam bahaya.
"Fikri awas!" seketika Janie langsung menarik Fikri saat melihat Radit berusaha menghantam batu kearahnya.
Beruntung Fikri memiliki kemampuan beladiri yang lumayan hingga ia bisa mengalahkan Radit dan kawan-kawannya.
Perkelahian mereka berhenti saat Radit dan teman-temannya lari tunggang-langgang meninggalkan Fikri.
"Kamu gak papa kan Fik?" tanya Janie
"Hmm," jawab Fikri mengangguk
Tak lama Deden berjalan memasuki gerbang kampus dengan langkah gontai.
"Deden!" Janie langsung menghampiri sahabatnya itu.
Ia melihat wajah Deden tampak pucat seperti orang sakit.
"Kamu sakit Den?" tanya Janie
Deden menggelengkan kepalanya.
"Tapi wajah kamu pucat Den?"
"Mungkin karena kurang tidur, semalam aku harus ekstra menjaga Ibu sampai pagi aku baru bisa tidur," jawab Deden
"Udah sarapan belum kamu?" tanya Janie
__ADS_1
Deden menggelengkan kepalanya.
"Yaudah kalau gitu kita sarapan dulu," Janie kemudian mengajak Deden dan Fikri sarapan di sebuah warkop depan kampus.
"Terus keadaan Tante Sofi gimana Den?" tanya Janie lagi
"Kalau siang dia itu biasa lagi. Masak, bersih-bersih, bahkan berangkat kerja tadi bareng aku. Gak ada yang ganjil gitu Jan, ya kaya dia biasa aja. Tapi kalau malam dia berubah jadi orang lain, suka menggaruk-garuk tembok hingga kukunya berdarah-darah. Mengaum seperti seekor macan dan jalannya pun merangkak. Sudah dua hari Ibu begitu," jawab Deden
"Kalau memang Tante terkena santet 7 hari maka ia akan terus seperti itu sampai hari ke tujuh. Dan di hari ke tujuh itulah dia akan mati seperti keinginan si pengirim," terang Fikri
"Bagaimana kamu tahu dia terkena santet?" tanya Janie
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas aku bisa melihat banyak energi negatif dalam dirinya dan aku juga bisa melihat ada seseorang yang menanam benda-benda tajam dalam Tubuhnya berjumlah 7 buah," jawab Fikri
"Apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya Janie lagi
Fikri menggelengkan kepalanya.
"Aku sulit mendeteksi wajahnya, karena ada kekuatan besar yang melindunginya," jawab Fikri
"Apakah Angel yang melakukan semua ini?" tanya Deden
"Tidak mungkin, dia sudah mati!" jawab Janie
"Yang jelas pelakunya adalah orang yang tidak menyukai mu Deden. Seperti yang diucapkan Ibumu saat kerasukan, pelaku sebenarnya ingin membunuhmu tapi entah kenapa ia malah memilih menyakiti ibumu. Mungkin ia dendam padamu karena kau telah menyakiti orang yang dia sayangi," terang Fikri
"Tapi selama ini Deden tidak pernah menyakiti siapapun, Justru sebaliknya ia yang selalu di bully teman-temannya," jawab Janie
"Aku yakin dia pernah menyakiti orang lain, mungkin bukan dulu tapi sekarang-sekarang ini. Ingatlah saat aku bersama Angel, siapa saja orang-orang yang sudah kalian sakiti. Aku yakin pelakunya pasti diantara mereka," jawab Fikri
"Benar juga Den, coba kau ingat-ingat lagi siapa saja yang sudah di sakiti oleh Angel?" tanya Janie
Saat jarum jam menunjukkan pukul delapan Fikri pun berpamitan.
"Maaf sepertinya aku harus pulang, karena ada panggilan interview jam 10 nanti,"
Saat Fikri pergi Janie dan Deden pun memutuskan untuk kembali ke kampus.
Saat memasuki lobby kampus keduanya bertemu dengan ibu Audi.
"Eh Tante, ada perlu apa ke kampus pagi-pagi?" sapa Janie
"Mau ngurus administrasi Audi yang belum di bayar," jawab wanita itu
"Oh begitu Tante, btw Tante udah tahu ruangan administrasinya belum, apa perlu Janie anterin?"
"Gak usah Janie, makasih ya, Tante udah tahu kok,"
"Ok kalau begitu Tante, semoga lancar ya semua urusannya hari ini," ucap Janie kemudian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu diikuti oleh Deden.
Saat wanita itu mulai melangkah pergi, tiba-tiba Deden langsung jatuh pingsan.
__ADS_1
*Bruughhh!