PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN SEASON 2 KHODAM PENJAGA


__ADS_3

Deden akhirnya tersadar setelah mendengar nasihat dari Lingga. Pemuda itu menangis tersedu-sedu dan menyesali perbuatannya.


"Maafkan aku Jan yang selalu merepotkan mu," ucap Deden menghampiri Janie yang duduk di beranda rumah dengan Mila dan Fikri.


"Tidak usah minta maaf Den, kamu itu sahabat ku dan selama ini aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu. Kita ini berteman dari kecil jadi aku tidak bisa membiarkan dirimu jatuh ke lembah hitam, itulah kenapa aku tidak pernah suka saat kau dekat dengan Angel," ucap Janie


"Iya Jan aku tahu, sekarang aku sadar jika apa yang kau lakukan selama ini adalah untuk kebaikan ku. Tapi aku malah membalasnya dengan melakukan hal jahat kepadamu," jawab Deden


"It's ok Den, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang aku hanya ingin kamu kembali menjadi Deden yang dulu dan lupakan semuanya,"


"Terimakasih Jan, aku janji sekarang aku akan kembali menjadi Deden yang dulu,"


"Good boy Deden, itu baru namanya teman gue!" seru Janie kemudian memeluknya erat


"Jangan lama-lama Jan pelukannya, inget Deden jatah gue!" seru Mila


"Ish!"


*Dreet, dreet, dreett!!


"Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Rojiun, telah meninggal dunia sahabat kita Audi Rahardian pukul 22.00,"


Janie terkesiap saat melihat pesan dari grup WhatsApp kampus.


"Gue gak nyangka banget kalau Audi meninggal Jan," ucap Mila tampak berkaca-kaca


"Beneran gue juga," jawab Janie


"Yaudah sebaiknya sekarang kita pergi ke rumah Audi,"


"Kuy,"


"Apa aku boleh ikut?" tanya Fikri


"Ikut aja, yuk!" jawab Janie kemudian mengajaknya masuk ke mobil Mila


"Aku juga ikut Jan!" seru Anas berlari mengejar mereka.


Pukul 9 mereka tiba di rumah duka. Setibanya di sana Janie dan Mila langsung menemui ibu Audi.


"Kami turut berdukacita Tante," ucap Mila memeluk wanita itu.


"Iya sayang, makasih,"


"Janie gak nyangka kalau Audi yang hampir sembuh bisa meninggal, memangnya apa diagnosa dokter Tan?" tanya Janie


"Audi memang sempat sadar sebelum dia meninggal. Bahkan dokter mengatakan jika ia bisa pulang setelah hasil lab keluar. Tapi ia meninggal tepat saat hasil lab keluar," kenang ibu Audi


"Padahal hasil lab menunjukkan kalau dia sudah sehat dan tidak ada penyakit berat yang diderita Audi," imbuhnya


"Yang sabar ya Tan, btw kita mau lihat jenazahnya Au apa boleh Tan?" tanya Mila


"Boleh sayang,"


Wanita itu kemudian mengajak Janie dan teman-temannya ke tempat jenazah dibaringkan.


Ibu Audi memberikan sesuatu kepada Mila.


"Sebelum meninggal, Audi menitipkan ini untukmu Mil,"


"Makasih Tante,"


Mila menerima sebuah amplop warna pink dan membukanya saat perjalanan pulang.

__ADS_1


"Apa isinya?" tanya Janie penasaran


"Dia mengungkapkan perasaannya kepadaku," ucap Mila kemudian memberikan secarik kertas yang dipegangnya kepada Janie.


Janie tampak mengerutkan keningnya saat membaca surat dari Audi.


"Sepertinya ini bukan surat cinta Mil,"


"Terus apa dong?" tanya Mila penasaran


Janie kembali membaca surat itu di depan Mila.


Fikri dan Anas bahkan ikut menyimak saat Janie membacakan isi surat itu.


"Sepertinya dia memberitahu Mila kalau ia bertemu seorang wanita sebelum ia meninggal," ucap Fikri


"Benar banget, soalnya toxic benget kan isinya, masa gue dibilang cantik dengan selendang ungu dan hiasan melati. Memangnya gue ini nyi Roro Kidul!" cibir Mila


"Seperti sebuah petunjuk, namun tidak terlihat ada hal-hal mencurigakan di mayatnya," sambung Janie


Selain surat, ternyata Audi juga menyelipkan sebuah bunga melati yang sudah mengering pada amplop itu.


Karena penasaran Janie membawa bunga melati itu dan memberikan kepada Lingga.


"Apa ayah bisa membaca sesuatu dari bunga ini?" tanya Janie


Lingga menerima bunga itu dan menatapnya tajam.


Ia bahkan membolak-balikan bunga itu untuk mencari sesuatu.


"Tidak ada apa-apa," jawab Lingga kemudian mengembalikan bunga itu kepada Janie


Janie yang penasaran pun membawa bunga itu ke kamarnya dan menaruhnya di sampingnya saat ia tidur.


Malam itu tak ada yang aneh, semuanya tidur dengan lelap meskipun udara Jakarta sedikit lebih panas dari biasanya. Namun berbeda dengan Janie yang justru tidak bisa tidur karena terus memikirkan kematian Audi yang misterius.


Bahkan pukul sebelas malam ia masih menerima telpon dari Deden yang memintanya datang je rumah.


"Cepatlah datang ke rumah Jan!" seru Deden dengan suara panik.


Janie pun bergegas pergi menuju ke rumah Deden yang memang tak begitu jauh dari kediamannya.


Tidak lupa Janie membangunkan adiknya Anas untuk menemaninya.


Meskipun dengan menggerutu Anas tetap menemani sang kakak menuju kediaman Deden.


*Prang!!!


Janie dan Anas yang baru tiba di depan kediaman Deden seketika langsung melompat kaget saat kedatangan mereka disambut lemparan gelas oleh Sofia.


"Anjir, untung jantung aman coba kalau gak bisa almarhum gue!" seru Anas mengusap Dadanya


Wanita itu menyeringai dan langsung merangkak mendekati mereka.


Janie menghentikan langkahnya saat melihat kelakuan Sofia yang lebih mirip seekor binatang membuatnya langsung bisa tahu jika wanita itu kerasukan.


Deden langsung berlari kearah Janie saat melihat kedatangan sahabatnya itu.


"Syukurlah kau cepat datang Jan, lihatlah ibuku bersikap aneh dan terus mencakar-cakar tembok rumah kami. Sepertinya dia kerasukan Jan!" ucap Deden begitu bersemangat


"Siapa kamu!" tanya Anas menirukan ucapan para ustadz saat meruqiyah pasiennya.


"Aing macan!" jawab Sofia membuat Anas langsung bersembunyi di belakang Janie

__ADS_1


"Gawat Jan, lawan kita macan bukan orang," bisik Anas


"Kenapa takut sih, bukankah kamu itu fans macan Kemayoran," sahut Janie


"Sue lo, ini macan beneran Janie, maung ... bukan julukan club sepak bola!" cibir Anas


"Oh maung bandung toh,"


"Astoge nih bocah lama-lama nyebelin juga tadi bilang macan Kemayoran kenapa sekarang malah berpaling ke maung Bandung, terlalu!"


Janie tertawa Kecil mendengar celotehan Anas.


"Sans aja gue setia kok orangnya,"


"Setia, setiap datang ke pesta gonta-ganti pasangannya,"


"Sa ae lo Nanas korane si Ningrum,"


*Krauk, krauk, krauk!!


Janie seketika menghentikan candaannya saat melihat Sofia mulai memakan pecahan kaca yang ada di sekitarnya.


"Berhenti menyakiti Tante Sofi, dan keluarlah sebelum aku kirim ke planet Zombie!" ancam Janie


Seketika Sofia membuang pecahan kaca yang ada di tangannya dan mendekati Janie.


"Wani piro?"


"Njaluk mu opo?" sahut Janie


"Nyawa anak itu!" jawab Sofia menunjuk kearah Deden


"Langkahi dulu mayatku kalau kau menginginkan nyawanya," jawab Janie


Seketika Sofia langsung melesat menyerangnya, membuat Janie langsung menyingkir menghindari serangannya.


*Bruughhh!!


Anas langsung meringis saat Sofia justru salah sasaran dan menerkamnya.


"Ampun, sesama macan di larang saling menyakiti!" seru Anas


Melihat Sofia menerkam Anas, Janie pun segera membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk mengusir makhluk jahat itu. Namun siapa sangka Sofia semakin mengganas saar mendengar Janie membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an tersebut.


Tanpa di duga wanita itu melesat terbang menyerang Janie.


*Wuushh!!


*Grep!!


Beruntung Fikri datang tepat waktu dan menghentikan serangan Sofia.


Ia meletakan tangannya di kening Sofia hingga wanita itu menjerit-jerit kesakitan.


Hanya dengan satu gerakan tangan Sofia pun langsung jatuh pingsan di lantai.


Janie buru-buru menghampiri Sofia dan memeriksa keadaannya.


"Tante, apa Tante baik-baik saja," ucapnya saat melihat Sofia membuka matanya


Saat Sofia hendak menjawab pertanyaannya wanita itu justru memuntahkan benda-benda tajam dari tubuhnya.


Janie benar-benar terkejar saat melihat, paku, jarum, beling dan benda-benda tajam lainnya keluar dari dalam tubuh wanita itu bercampur darah.

__ADS_1


"Santet pitung dino!"


__ADS_2