
*Buugghh!!
"Deden!" Janie begitu panik saat melihat Deden tiba-tiba pingsan. Tubuhnya begitu dingin hingga membuatnya langsung berteriak meminta tolong.
"Tolong!" seru Janie meminta bantuan
Tidak lama beberapa mahasiswa menghampirinya dan membawa Deden menuju ke ruang kesehatan.
Seorang dokter kampus langsung memeriksa kondisi Deden.
"Sepertinya dia hanya kelelahan dan butuh istirahat," ucap sang dokter
Ia kemudian memberikan resep obat kepada Janie.
"Ini saya kasih resep suplemen makanan dan vitamin saja,"
"Terimakasih dok," Janie kemudian menghampiri Deden yang mulai siuman.
"Gimana rasanya sekarang?" tanya Janie
"Pusing," jawab Dedeh lesu
Janie kemudian memberikan segelas air teh manis kepadanya.
"Minum dulu biar seger, nanti kalau udah di tebus resepnya baru minum vitaminnya,"
"Iya Jan, makasih."
Deden langsung menghabiskan satu gelas teh hangat pemberian Janie
Ia kemudian bangun dan mengajak Janie kembali ke kelas.
"Emang udah enakan?" tanya Janie mengerutkan keningnya
Gadis itu seolah tak percaya meskipun Deden sudah mengatakan jika ia baik-baik saja sekarang.
Janie bahkan harus kembali lagi ke ruang kesehatan saat menyadari ponselnya ketinggalan.
Setibanya di ruang kesehatan, Ia segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas bantal.
Janie membulatkan matanya saat melihat melihat sebuah bunga melati tergeletak di samping bantal yang digunakan oleh Deden.
Melati ini sama persis dengan yang bunga melati pemberian Audi untuk Mila.
Janie buru-buru pulang ke rumahnya untuk memastikan kedua bunga melati itu sama.
"Beruntung aku masih menyimpannya, dan ternyata bunga melati ini memang sama persis."
Tanpa berpikir panjang Janie segera mendatangi kediaman Audi.
Di sana ia disambut ramah oleh ibunya Audi.
"Ada apa Jan, kok tumben kamu datang ke sini pas jam kuliah?"
__ADS_1
"Tante, aku mau tanya-tanya tentang Audi boleh kan Tante?" Tanya Janie
"Boleh dong, memang mau tanya apa?" jawab Maryati
"Gini Tan, kemarin pas Mila baca surat dari Audi itu ternyata dia juga memberikan sebuah bunga melati di dalamnya. Nah Janie mau tanya, apa sebelum Audi meninggal Tante pernah melihat bunga melati seperti ini di tempat tidur Audi?" tanya Janie
Janie kemudian memberikan bunga melati yang hampir kering itu kepada Maryati.
Wanita itu tampak mengamati bunga itu dengan seksama.
"Sebentar ya Jan," Maryati masuk ke kamarnya dan tidak lama keluar lagi dengan membawa mangkuk berisikan bunga melati.
"Waktu di rumah sakit, tepatnya tujuh hari sebelum Au meninggal, Tante selalu menemukan bunga melati ini di bawah bantalnya. Karena penasaran Tante kemudian mengumpulkannya, dan inilah bunga-bunga yang Tante kumpulkan itu," terang Maryati kemudian memberikan mangkok berisi melati kepada Janie.
"Awalnya Tante mau mengubur bunga-bunga itu bersama Audi, tapi seorang ustadz melarang ku. Katanya bunga melati itu bisa jadi petunjuk siapa yang sudah membuat Audi meninggal," imbuhnya
"Memang benar-benar sama Tan. Kalau boleh tahu ustadz yang melarang Tante membuang bunga itu tinggal dimana Tan?" telisik Janie
"Kurang tahu Jan, soalnya Tante juga baru bertemu dengan orang itu saat di pemakaman,"
"Ok, baik Tante. Terimakasih atas informasinya. Eh satu lagi Tan, memang ada perempuan yang datang menemui Audi yang selalu menggunakan pakaian warna hijau?" tanya Janie
Maryati menggelengkan kepalanya.
"Selama di rawat di rumah sakit tidak ada yang menjenguk Audi selain kamu dan Mila," jawabnya
"Yaudah kalau begitu terimakasih Tante, Janie pamit pulang ya Tan?" jawab perempuan itu kemudian meninggalkan kediaman Maryati.
Sepertinya aku harus mencari petunjuk lain untuk mengungkapkan kasus ini.
Pukul satu siang Janie kembali ke kampus untuk mengikuti mata kuliah terakhir.
Namun karena kelelahan bolak-balik ke rumah Audi, gadis itu terlelap saat jam pelajaran.
Janie tiba-tiba merasa terkejut saat menyadari dirinya berada di tempat asing.
"Dimana aku, bukankah aku tadi berada di sekolah, lalu kenapa tiba-tiba aku berada di sini?. Sebenarnya tempat apa ini??"
Janie kemudian menyusuri bangun bergaya arsitektur belanda itu.
*Krieet!!.
Ia bahkan memberanikan diri masuk saat pintu rumah itu terbuka.
"Sugeng rawuh nduk?" sapa seorang wanita berkebaya hijau
Wanita itu berjalan menghampiri Janie membuat gadis itu berjalan mundur hingga ia jatuh ke sebuah lubang.
"Arghhh!!"
Semua mahasiswa spontan langsung menoleh kearah Janie saat mendengar gadis itu berteriak histeris.
Bahkan sang dosen yang tahu jika Janie tengah mengigau saat tidur kemudian menyuruhnya untuk keluar dari kelas.
__ADS_1
Melihat Janie keluar kelas membuat Mila pun meminta ijin keluar. Ia sengaja ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu.
"Ada apa sih Jan, kok kamu bisa-bisanya tidur saat jam pelajaran?. Udah gitu pakai acara teriak-teriak lagi, mimpi apa lo?" tanya Mila
"Mimpi ketemu pengirim bunga melati itu,"
"Melati??" Mila tampak mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Janie
"Melati yang ada di surat Audi,"
"Astaga, beneran Jan?"
"Iyalah masa boongan," jawab Janie
Tiba-tiba Janie merasakan bulu kuduknya berdiri hingga ia langsung menoleh kebelakang.
"Sepertinya ada yang mengawasi kita?" tanya Janie
"Jangan bikin takut deh Jan," ucap Mila segera memegangi lengan Janie
"Beneran tadi aku merasa ada seseorang yang memperhatikan kita, lihat aja bulu kudukku sampai berdiri gini," jawab Janie
Mila segera menarik Janie pergi meninggalkan ruang kesehatan. Keduanya sengaja memilih duduk di warkop depan sekolah.
"Bang Indomie goreng dua ya, pedes!" seru Mila
"Tambah es teh manis dua," imbuh Janie
Saat kedua gadis itu mulai kembali membuka obrolan tiba-tiba Radit datang menghampiri mereka.
"Di sini rupanya, pantas saja aku cari-cari di kelas tidak ada," ucap Radit kemudian duduk di samping Janie
Ia berusaha mencari perhatian gadis itu namun sepertinya Janie sudah terlanjur ill feel dengan pemuda itu.
Merasa diacuhkan oleh Janie, Radit langsung menarik gadis itu keluar dari warung kopi.
"Apaan sih Radit, Lepasin!" seru Janie berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Radit
"Kesabaran ku sudah habis Janie, aku gak suka kalau kamu terus-terusan mengacuhkan ku,"
"Terus mau lo apa?" tantang Janie
"Kamu itu pacar aku Jan, jadi sudah seharusnya kamu nurut sama aku dan ngikutin semua apa yang aku katakan,"
"Nurut, emang gue peliharaan lo, yang bener aja. Baru juga pacaran sudah sok-sokan ngatur-ngatur. Maaf ya Radit, dari awal gue pacaran sama lo kan udah bilang kalau gue gak suka diatur-atur," jawab Janie
"Gak bisa begitu sayang. Dulu sebelum ada si Ken kamu fine fine aja tuh. Kamu tuh nurut dab juga gak baperan kaya gini,"
"Jangan bawa-bawa Ken, dia gak ada hubungannya dengan kita,"
Keduanya kemudian bertengkar hebat hingga Radit menampar wajah kekasihnya itu.
"Ternyata benar yang diucapkan Mila kalau lo itu cewek brengsek. Selama ini aku berusaha bertahan karena ku pikir kau akan berubah ternyata tidak. Baiklah kalau begitu kita putus!" seru Janie
__ADS_1