
Seketika aku membeku saat melihat Bik Sumi berdiri di depanku.
Aku hanya berpikir mungkin inilah saatnya aku melakukan sesuatu sebelum aku mati.
Tekadku sudah bulat, lebih baik aku mati setelah aku berusaha melawan Bik Sumi daripada aku mati pasrah tanpa berbuat apapun.
Bismillah, aku berharap bantuan dari mu ya robb.
Ku lihat Bik Sumi sudah mulai menggerakkan tangannya. Sepertinya ia mulai menggunakan kekuatannya untuk menyerangku.
Saat Bik Sumi hendak menyerangku, reflek aku melepaskan tinjuku.
*Buugghhh!!!
Bik Sumi tampak sempoyongan memegangi bibirnya yang berdarah.
Kini ia menggerakkan tangannya. Aku terkejut saat melihat lesung milik ibu terbang melayang kearahku.
*Bruugghhh!!
Beruntung ada Om Barra yang menahan lesung itu.
*Buugghh!!
Baru saja aku bernafas lega tiba-tiba sebuah alu menghantam tubuh ku.
"Arrgghhh!!"
Aku berusaha bangkit meskipun rasanya tubuhku benar-benar remuk setelah dihantam alu besar itu.
*Buughh!!
Sekali lagi tubuhku tersungkur saat alu itu kembali menghantam tubuhku. Disaat yang bersamaan kulihat Om Barra pun terhempas jatuh tak jauh dariku.
Rasanya aku sudah tidak kuat lagi, tapi melihat keadaan Om Barra yang terluka lebih parah dariku membuat ku harus bertahan.
Ku lihat Bik Sumi menghampiri Om Barra. Sepertinya kali ini benar-benar ingin membunuhnya.
Aku tak bisa membiarkan Om Barra mati, aku berusaha bangkit sebisaku. Aku bertekad untuk melindunginya apapun yang terjadi. Antara setengah sadar aku berlari menghampirinya dan memeluknya saat Bik Sumi hendak menyentuh kepalanya.
"Sekarang matilah kau Barra!"
*Grep!!
Ku rasakan kepalaku terasa begitu sakit hingga rasanya seperti hendak meledak.
"Aaarrggh!!!" aku berteriak sekeras-kerasnya saat merasakan sukmaku seperti akan berpisah dengan ragaku.
Angin berhembus kencang membuat dedaunan berguguran. Awan hitam mulai menutup cahaya rembulan hingga kini bumi menjadi gelap.
Saat itulah ku lihat seberkas cahaya terang melesat masuk ke dalam tubuhku membuat netraku seketika terbelalak.
Ku lihat tubuh Om Barra menghilang menjadi asap putih dalam pelukanku. Ku lihat Bik Sumi tertawa bahagia, sedangkan aku hanya bisa meratapi kepergiannya.
"Barra, jangan pergi Barra, jangan tinggalkan aku!" seru Om Gilang
"Barra, bagaimana kau bisa pergi secepat itu, padahal kita belum berhasil membunuh makhluk itu," imbuh Om Rangga tampak gusar dan memeluk Om Gilang.
Aku benar-benar kesal kepada diriku sendiri karena lagi lagi aku gagal melindungi orang-orang yang ku sayang. Saat kami sedang berduka meratapi kepergian Om Bara, Bik Sumi berjalan menghampiriku.
"Sekarang tidak ada lagi yang melindungi mu Fikri,"
__ADS_1
Bik Sumi kemudian membuka telapak tangannya dan meniupkan sesuatu diatasnya.
Tiba-tiba bola api muncul di telapak tangannya.
"Sekarang kau akan merasakan apa yang ibumu rasakan saat ia meregang nyawanya Fikri,"
Bik Sumi mengangkat bola api itu dan kini apinya semakin membesar.
Entah Kenapa saat ia menyinggung kematian Ibu, darahku seketika mendidih, rahangku seketika mengeras saat wanita itu mulai mengakui jika ia adalah pembunuh ibu.
Balaskan dendam Ibu Fikri!!
Tiba-tiba kata-kata iti kembali terngiang di telingaku membuat aku langsung mengepalkan tanganku dan reflek meninju Bik Sumi yang sedang mengendalikan Banas Pati untuk menyerangku.
*Brugghh!!
Bik Sumi berusaha bangun saat ia jatuh tersungkur. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ku ambil alu yang tergeletak disebelah ku dan ku lemparkan hingga mengenai punggung wanita itu.
"Arrgghhh!!"
Bik Sumi mengejang hingga Parewangan yang merasukinya keluar dari tubuhnya.
Sebuah bayangan melesat menangkap Banas Pati yang hampir menyentuh tubuhku.
Ia kemudian mengembalikan bola-bola api itu kepada pemiliknya yaitu Bik Sumi.
Wanita itu kini meraung-raung kesakitan saat tubuhnya terbakar bola-bola api buatannya sendiri.
Om Gilang berhasil mengalahkan Bik Sumi. Namun melihat Bik Sumi tersiksa tiba-tiba aku tak tega melihatnya. Mungkin karena aku sudah dekat dengannya jadi sejahat apapun Bik Sumi tetap saja ia juga pernah berjasa mengurus ibuku meskipun pada akhirnya ia membunuhnya juga.
Selama ini ia hanya termakan hasutan Iblis untuk membalas dendam hingga melakukan perbuatan keji.
Ku ambil sebuah lap yang tergeletak untuk memadamkan api yang menyala di tubuh Bik Sumi.
"Terimakasih Fikri,"
Bik Sumi menundukkan wajahnya saat aku mendekatinya. Sepertinya ia malu karena aku sudah menolongnya, padahal sebelumnya ia berniat membunuhku.
"Maafkan Bibik Fikri, semua ini salah ku. Andai saja aku tidak termakan dendam, mungkin semua ini tidak akan terjadi,"
"Aku sudah memaafkan Bibik. Sebaliknya Fikri juga minta maaf jika ada kesalahan Fikri, ayah, atau Ibu Fikri yang sudah membuatnya Bibik sakit hati. Begitupun dengan kematian Pak De Darno, maaf aku tidak tahu jika beliau adalah suami Bibik. Aku memang tidak bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Yang aku bisa hanyalah mendoakan Pak De agar ia tenang di sisi Gusti Allah,"
"Aamiin,"
*Bruugghhh!!!
Ku lihat Om Rangga jatuh tersungkur setelah Parewangan itu menghempaskan tubuhnya.
"Aduh bisul ku...." ucapnya sambil memegangi bokongnya.
"Kenapa Ran?"
"Bisul ku meletus Lang,"
"Syukurlah, akhirnya ada temennya juga tuh balon hijau, wkwkwk!"
"Om Gilang awas!!"
Mata Elang Om Gilang segera melirik ke samping. Ia segera melesat terbang saat melihat Parewangan Bik Sumi hendak menyerangnya.
Kembali lagi Om Rangga yang terkena serangan makhluk itu.
__ADS_1
"Aduh, duh, duh, dasar Kunti encum!" seru Om Rangga kemudian mendorong sosok kuntilanak merah yang menyerangnya
"Ncum kenapa Ran?" Tanya Om Gilang yang mendarat tepat di depannya
"Dia menyentuh milikku,"
"Yang mana tuh?" tanya Om Gilang penasaran
"Milikku yang berharga,"
*Bruugghhh!!!
Tiba-tiba Om Rangga jatuh terhempas ke tanah.
"Ups kasian sekali, pasti sakit sekali tuh, sampai pingsan si Rangga,"
"Pukul lesung itu,"
Aku terkejut saat Bik sumi memerintahkan aku untuk memukul lesung itu.
"Pukul lesung itu!!" ucapnya lagi
Namun tiba-tiba kuntilanak merah itu menatap nyalang kearahnya. Seketika wajah Bik Sumi berubah menyeramkan.
Bukan hanya wajahnya yang tiba-tiba menyeramkan karena dipenuhi dengan benjolan-benjolan besar seperti sebuah bisul.
Kini seluruh tubuhnya pun dipenuhi benjolan yang sama membuatnya tampak mengembang seperti balon.
Saat Bik Sumi menjerit kesakitan. Kini dari benjolan itu keluar belatung yang mulai menggerogoti tubuhnya.
Tubuh Bik Sumi yang besar hanya dalam waktu sekejap saja menghilang dimakan oleh ribuan belatung-belatung yang mengerubutinya.
"Innalilahi wa inna Ilaihi Raji'un,"
Ku lihat Kuntilanak merah itu kembali menghajar Om Gilang dan Rangga.
Sepertinya makhluk itu memang terlalu sakti sehingga Om Gilang dan Rangga tak mudah mengalahkannya.
Aku segera bangun dan mengambil alu yang tergelar di tanah. Saat melihat lesung milik ibu yang teronggok di samping gudang aku jadi teringat Ibuku yang begitu menyayangi lesung itu bahkan melebihi nyawanya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
*Dug!!
Tiba-tiba tanah bergetar saat aku pertama kali menabuh lesung itu.
*Dug, dug, dug!!
Tiba-tiba tanah disekitar ku mulai retak dan terbelah.
Aku terus menabuh lesung itu tanpa memikirkan keselamatan ku.
Ku lihat Om Gilang segera menyambar tubuh Abu Musa, sendangkan Om Rangga, Pak De Lee, dan Anas berlarian meninggalkan tempat itu.
"Aaarrggh!!"
Ku lihat Parewangan milik Bik Sumi yang merupakan sesosok kuntilanak merah itu ditarik kedalam bumi oleh sesosok buto ijo.
Aku berhenti menabuh lesung itu saat melihat semua orang telah pergi meninggalkan aku.
Ku lihat rumahku hancur dan ambruk karena gempa. Sekarang aku benar-benar tidak memiliki apapun lagi. Keluarga, harta, semuanya sudah tiada.
__ADS_1
"Tapi kau masih punya aku Fik," ucap Om Barra tersenyum menatapku