
Aku baru sadar kalau makhluk itu mengejar ku dan sepertinya mereka tak mau membiarkan aku pergi begitu saja.
Saking banyaknya pocong yang mengejar ku aku sempat mengira mereka adalah ikan yang berterbangan karena bentuknya putih kecil dengan kaki yang diikat mirip ekor ikan.
Bukan hanya pocong saja yang mengejar ku. Aku juga melihat beberapa mahluk yang mirip dengan Mbah Kung juga mengikuti ku di depan. Makhluk dengan kepala besar, mata besar dan perut buncit seperti Goblin juga tak menginginkan aku pergi dari rumah ibu.
Ada yang aneh saat perjalanan menuju ke kediaman Abu Musa, itu karena para bapak-bapak ini tak bisa melihat para makhluk halus yang mengikuti kami. Hanya aku saja yang bisa melihat mereka, sehingga bapak-bapak itu tetap melanjutkan pembicaraan mereka tentang ibuku.
*Braakkk!!
Karena asyik bergosip maka bapak-bapak yang menggotong ku tersandung batu hingga mereka terjatuh. Mereka begitu ketakutan saat melihat sosok makhluk kerdil di depan mereka hingga mereka melemparkan tubuhku dan berlari tunggang langgang.
Tubuhku seketika terlempar dan berguling-guling hingga jatuh ke selokan.
*Dug!!
Karena benturan yang keras membuatku merasa sangat pusing sampai semua kembali terlihat gelap dan aku tak sadarkan diri lagi.
Aku terbangun saat ku rasakan seseorang mencambuk tubuhku hingga aku menjerit sekencang-kencangnya karena rasanya begitu sakit sekali hingga darah segar mengalir dari tubuhku. Tiba-tiba kulihat beberapa makhluk menjijikkan yang bertubuh kerdil menghampiri ku dan menjilati tetesan darahku hingga bersih.
Aku baru menyadari kalau aku berada di sebuah tempat penambangan batu. Dimana semua orang bekerja membelah batu dan mengangkat batu-batu itu ke suatu tempat. Sekilas hampir mirip dengan sistem kerja paksa pada masa penjajahan Jepang. hanya bedanya para pekerja di awasi oleh makhluk ghaib mengerikan yang memiliki tanduk dan membawa cambuk.
Mereka tak segan-segan mencambuk siapa saja yang berhenti bekerja karena kelelahan.
Dari ribuan pekerja di sana ada beberapa sosok yang aku kenal. Sulit ku percaya jika aku melihat bapak ku ada di sana. Dia tampak tertatih-tatih memindahkan bongkahan batu besar dengan tubuhnya yang tinggal tulang belulang.
Bukan hanya Bapak, aku juga melihat Azam, ada di sana. Aku benar-benar tak tega saat melihat anak sekecil itu harus bekerja keras mengangkat batu besar yang bahkan lebih besar dari tubuhnya.
__ADS_1
Beberapa orang makhluk menyeramkan langsung mencambuknya, saat ia terjatuh saat memindahkan batu-batu itu. Mereka mencambuknya tanpa ampun sambil tertawa girang.
Ingin rasanya aku menolongnya, tapi apa daya aku tak bisa bergerak menghampirinya. Jangankan untuk menolong Azam bahkan untuk menolong diriku saja aku tak bisa. Di saat seperti ini aku mulai membenci ibuku. Bagaimana ia tega mengikuti ritual pesugihan yang akhirnya justru membuat keluarganya menjadi korban.
Mungkin saja ia sudah tahu jika suatu hari akan terjadi seperti ini tapi kenapa ia tetap nekad menjalaninya ritual pesugihan terkutuk itu.
Harta yang di dapat tak seberapa tapi nyawa orang-orang tersayang yang jadi penebusnya.
Kini puluhan makhluk kerdil menjijikan mengerubungi Azam saat mencium aroma anyir darah yang menetes dari tubuh adikku itu.
Tentu saja para makhluk kerdil itu datang untuk mengambil makanan mereka yaitu darah dari para tumbal pesugihan. Mereka selalu datang untuk menjilati setiap darah yang bercucuran dari para pekerja di sana setelah di cambuk oleh para iblis penjaga.
Azam tampak berteriak ketakutan sambil menutup matanya. Tak ada seorangpun yang datang menolongnya termasuk Bapak, yang justru mengacuhkannya.
Pemandangan mengerikan itu seolah sudah menjadi rutinitas para tumbal pesugihan yang akan menjadi budak bagi bangsa jin sampai hari kiamat tiba. Selain sebagai budak, darah mereka juga akan di jadikan makanan untuk keturunan para makhluk gaib tersebut.
Kembali aku merasakan tubuhku di pecut hingga aku berteriak kesakitan. Sesosok makhluk mengerikan membawaku pergi dari tempat itu. Aku tak tahu dibawa kemana yang jelas aku merasakan banyaknya bebatuan yang menimpa tubuhku hingga kurasakan tubuhku remuk redam. Hingga tiba-tiba makhluk itu membanting ku membuat aku langsung tersadar.
Seorang makhluk gaib lain menarik ku menuju ke sebuah istana.
Ia menyeret ku menuju ke sebuah istana besar dan mewah seperti dalam cerita film. Di sana aku melihat sosok pria bertubuh tinggi besar dengan tubuh berwarna hijau kehitam-hitaman dengan mata merah menyala duduk diatas singgasana yang terbuat dari tumpukan tubuh Manusia.
Di singgasana itu aku melihat sosok yang aku kenal, dia adalah Mbah Kung.
Sebagai seorang yang menjadi pengabdi setan Mbah Kung sudah jelas akan menjadi budak Iblis itu sampai hari kiamat nanti.
Rasa penasaran ku membuat ku ingin mendekati singgasana itu. Sambil menganga aku berjalan mendekati singgasana itu.
__ADS_1
Seorang makhluk gaib tiba-tiba kembali menarik ku saat aku hampir saja menyentuh singgasana itu, hingga aku jatuh terjerembab ke lantai.
Ku rasakan leherku begitu sakit, dan aku baru sadar ternyata ada rantai yang mengikat leherku.
"Mulai sekarang kau akan menjadi budakku, mulai sekarang kamu harus bekerja menghasilkan uang demi manusia-manusia tamak yang memujaku seperti ibumu itu," ucap sosok pria yang duduk di atas singgasana.
"Kau tinggal pilih saja, bekerja menjadi budakku atau menjadi tumbal penebus kekayaan yang sudah ku berikan pada ibumu. Kau atau ibumu yang akan lebih dulu menyusul Bapak mu," imbuhnya
Seketika aku merasa ngilu jika harus menghabiskan sisa hidupku menjadi budak seorang Iblis, tapi aku juga enggan menjadi tumbal yang bernasib memilukan seperti azam dan bapak.
Pria itu beranjak dari singgasananya dan mengajak ku ke suatu tempat.
Di sana aku melihat beberapa orang terpasung dengan kondisi yang memilukan.
"Mereka adalah para pengabdi ku yang ingkar janji sehingga aku harus menghukumnya seumur hidup. Mereka akan sulit untuk mati karena kami menahan sukmanya dan menyiksanya di sini, sama seperti ibumu," ucapnya menunjuk kearah Ibu.
Aku langsung merinding saat melihat kondisi ibu.
Ku lihat ibuku tampak terbaring di sebuah ranjang dengan kaki yang diikat rantai begitupun dengan kedua tangannya. Kedua kakinya hanya tinggal tulang belulang karena habis dimakan makhluk kerdil menjijikan dengan liur yang terus menetes. Mungkin itu yang membuat ibu tak bisa berjalan.
Lehernya di ikat dengan rantai hingga ku lihat ia kesulitan bernafas sementara itu beberapa sosok buto ijo perempuan menginjak-injak tubuhnya hingga membuat ibuku muntah darah.
Ibu tak bisa menjerit kesakitan karena mulutnya di jahit dengan paku membuatku merasa ngilu.
Kini pria itu membawaku ke sebuah ruangan dimana isinya adalah semua orang yang menggunakan pakaian serba hijau.
"Sekarang kau tinggal pilih, mau jadi budakku atau menjadi tumbal berikutnya??"
__ADS_1