PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 41


__ADS_3

"Bismillah,"


Ku langkahkan kakiku perlahan, mencoba meraih lengan Om Gilang.


Hanya dia satu-satunya yang memilih bertahan, dan makhluk itu tak menyentuhnya.


*Grepp!!


Kini ia tersenyum menatapku, ia bahkan masih sempat mengeringkan matanya kearahku.


Semilir angin malam mengibaskan rambutnya yang panjang.


Ia menghampiriku dan mengusap mataku perlahan.


Tiba-tiba saja aku melihat sosok Ibuku berdiri di sampingku.


"Balaskan dendam Ibu Fikri!" ucapnya sambil menunjuk kearah Bik Sumi


Ternyata benar kematian ibu bukan karena manjadi tumbal Parewangannya, tapi karena Bik Sumi?.


Entah kenapa rasanya darahku mendidih saat mengingat kematian ibu yang benar-benar tragis.


"Utang nyawa harus di bayar nyawa Fikri, atau kau juga akan mati ditangannya!" imbuhnya


Saat menatapnya ku lihat tatapannya yang penuh dendam membara di pelupuk matanya.


Ku peluk erat Ibuku, dan ku usap lembut rambutnya yang panjang.


"Dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah Bu, ikhlaskan semuanya. Biar Allah saja yang menghukumnya, kita serahkan semuanya kepada Allah saja Bu,"


Perlahan tubuh ibu sedikit demi sedikit menghilang setelah mendengar kata-kata ku.


"Kau memang bijak Fik," ucap Om Gilang menepuk-nepuk pundakku


Om Gilang kemudian memberikan sesuatu kepada ku.


"Pakai cincin ini, jangan pernah dihilangkan lagi ya,"


Aku mengangguk, saat melihat cincin itu. Ternyata cincin itu adalah cincin pemberian Pak De Lee yang sempat menghilang. Aku lega sekarang karena cincin itu ternyata ada sama Om Gilang.


"Terimakasih Om,"


"Mau duet gak?" tanya Om Gilang membuat ku sedikit penasaran


"Duet apa Om?" tanyaku penasaran


"Duet maut," bisiknya lagi-lagi membuat ku kembali tersenyum


"Iya maksudnya duet apa itu om?" aku semakin penasaran dengan tawarannya


"Menghadapi Bik Sumi sama Jin Ivritnya itu. Aku yakin dengan kelembutan hatimu kau mampu mengalahkan wanita itu dengan Parewangannya,"


"Memangnya aku bisa apa Om?"


"Bisa apa ya, pokoknya banyak Fik, yang jelas sulit diungkapkan dengan kata-kata," jawab Om Gilang cengengesan


"Satu aja Om tolong kasih tahu Fikri,"

__ADS_1


Om Gilang tampak berpikir keras, "Kau lihat wanita di ujung sana yang memakai kerudung hitam?"


Ku ikuti arah jari telunjuk Om Gilang. Ku lihat seorang wanita berkerudung hitam tampak berdiri memperhatikan kami.


"Kenapa dengan Ranum Om,"


Kenapa Om Gilang justru menunjuk kearah Ranum bukan malah menyebutkan kemampuan ku, tentu saja itu membuat aku semakin penasaran.


"Dia yang akan menolong ku jika terjadi sesuatu padamu," jawabnya sambil menepuk-nepuk pundakku.


Entah kenapa rasanya ucapan Om Gilang membuat ku semakin penasaran.


Ranum, kenapa dia ingin menolongku???


Saat pikiranku sedang dipenuhi oleh rasa penasaran dengan kemampuan ku dan kedatangan Ranum yang memang akhir-akhir ini sering mengikuti ku, tiba-tiba ku lihat Om Gilang terbang melesatkan tinjunya kearah Bik Sumi dan menghantam wajahnya.


*Buugghhh!!


Wanita itu jatuh tersungkur membuat semua orang yang sedang di siksanya berjatuhan di lantai.


"Arrgghhh!!"


"Lama banget Lang," keluh Rangga


"Kan emang wanita sekarang suka yang kuat lama, Ran," jawab Gilang


"Kan gue bukan wanita Lang,"


"Sama aja Pria juga suka yang lama-lama,"


"Akh gak suka dodol Ran, aku sukanya dia," jawan Gilang


"Tapi sayangnya dianya suka sama aku,"


"Dih kepedean!" sahut Gilang


"Sudah, sekarang bukan waktunya untuk bercanda bro, kuy kita bersatu untuk mengalahkan Bik Sumi?" jawab Om Rangga


"Santai saja Ran,"


Om Gilang tampak merangkul Om Rangga.


"Mari kita bersatu untuk mengalahkan Bik Sumi dengan parewangannya,"


"Deal!" sahut Rangga


"Gue gak diajak nih!" celetuk Om Barra


"Sans Aja semuanya pasti diajak," seru Galang


Ketiga pria itu kemudian saling bergandengan tangan dan menundukkan kepalanya. Aku hanya termangu melihat ketiganya.


"Bantu kami dengan doa Fik," ucap Gilang


"Baik Om,"


Sementara itu Pak De Lingga langsung duduk bersila. Sepertinya ia juga berusaha membantu ketiga Om Ganteng.

__ADS_1


Aku melirik kearah Anas yang masih duduk sambil memegangi kakinya yang terluka.


Ku lihat kaki Anas terluka parah. "Sebaiknya kamu istirahat saja Nas, sekarang kita masuk saja ke dalam," Aku berniat mengobati luka Anas, tapi sepertinya ia menolak.


Anas ternyata lebih memilih untuk membantu ayahnya daripada mengobati lukanya.


"Biarkan saja Fik, nanti juga sembuh sendiri.. Sekarang yang terpenting adalah mengusir Parewangan itu dari rumahmu. Karena jika tidak maka seumur hidup kamu akan hidup dalam ketakutan,"


"Benar juga sih, tapi aku bingung harus bantu pakai apa?"


"Setiap manusia terlahir dengan keistimewaannya sendiri-sendiri, hanya kau yang tahu kekuatan mu sendiri Fik, kalau kau belum tahu maka bantulah dengan doa," jawab Anas


Ku lihat Anas kemudian menghampiri ayahnya dan mulai memejamkan matanya.


Sepertinya ia memiliki kekuatan supranatural seperti sang ayah, dan mulai membantunya. Sepertinya hanya aku sendirian yang tidak memiliki kekuatan supranatural di sini.


Semua kini terasa sunyi, karena semua orang menuju ke dunia lain, kecuali aku yang masih berada di sini. Desiran angin yang berhembus menerpa wajahku seakan memberitahu ku untuk segeralah bertindak.


*Tak, tak, tak!


Wanita berkerudung hitam itu mendekati ku. Ia menatapku dengan tatapan dingin yang sulit aku deskripsikan.


"Sebaiknya kau segera bergerak, tidak ada waktu lagi untuk berpikir sesuatu yang tidak mungkin. Jangan sampai kau menyesal untuk keduanya kalinya karena ditinggalkan orang-orang yang kau sayang," ucapnya


"Iya, aku akan membantu mereka dengan doa karena hanya itu yang aku bisa,"


Ku lihat wanita itu tersenyum sinis mendengar jawabanku.


"Kenapa kau tak menyusul mereka. Kau sudah pernah pergi ke alam gaib bukan. Bahkan Mata batinmu pun sudah di buka oleh Ksatria dari Singosari, lalu apa lagi yang kay butuhkan??" terang wanita yang mirip Ranum itu seolah menyadarkan aku


"Tapi aku tidak memiliki kekuatan supranatural seperti mereka?"


"Semua orang punya kekuatan supranatural hanya kau belum tahu bagaimana cara menggunakannya. Sekarang kau sudah bersama sedulur papat limo pancer, dan ada aku yang akan menuntun mu mendapatkan kekuatan mu itu,"


"Baiklah, kalau begitu bantu aku menyusul mereka,"


Aku langsung menadahkan tanganku dan mulai bermunajat. Ku pejamkan mataku bersiap melakukan perjalanan menuju alam arwah.


Ku rasakan tubuhku begitu ringan saat Ranum menyentuh dadaku.


Sayup-sayup ku dengar suara Abu Musa membantuku membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Sementara itu Pak De Lingga tampak mulai merapalkan mentera-manteranya di bantu oleh Anas.


Ku lihat sebuah cahaya melesat menghantam tubuh sang demit hingga ia jatuh terguling ke tanah.


"Sekarang saatnya!" seru Om Gilang!


Ku lihat ketiga Om Ganteng melesat menyerang Parewangan Bik Sumi.


Ketiganya langsung terpental begitu makhluk itu berhasil merasuki Bik Sumi.


Kini Bik Sumi menghampiriku. Ia berusaha menyerangku dengan kekuatannya namun Ranum dengan cepat menahan serangannya.


Ku lihat Ranum jatuh terkapar setelah Bik Sumi berhasil menghajarnya.


"Sekarang giliran mu Fikri!"

__ADS_1


__ADS_2