
#Kediaman Fikri
Abu musa memasuki kediaman Fikri. Lelaki itu sempat curiga saat melihat pintu rumah itu terbuka.
Saat tiba di dalam rumah, Abu Musa terkesiap saat melihat Fikri tampak tak sadarkan diri diatas tikar, begitupun dengan Anas dan ayahnya Lingga.
Lelaki itu tampak menyipitkan matanya saat melihat sesaji di samping mereka.
"Astaghfirullah, apa yang mereka lakukan?" ucap pria itu kemudian menyingkirkannya sesaji itu dan mematikan dupa yang masih menyala.
Abu Musa pun berusaha membangunkan Fikri, Anas, dan Lingga. Namun ketiga tak kunjung bangun.
Saat ia hendak memeriksa kondisi Fikri, tiba-tiba lampu padam. Tentu saja hal itu membuat Abu Musa kemudian menyalakan lampu ponselnya untuk mengecek meteran listrik.
Saat ia seda memeriksa meteran listrik tiba-tiba di depannya muncul sosok mengerikan membuat Aby Musa reflek membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk mengusirnya.
Dari belakang seseorang berusaha menarik sorbannya hingga membuat ia kesulitan untuk bernafas.
Abu Musa yang mengetahui itu adalah ulah manusia segera melepaskan sorbannya, hingga terdengar suara seseorang terjerembab di belakangnya.
Saat ia membalikkan badannya, untuk melihat siapa pelakunya,
Bik Sumi segera melarikan diri.
Setelah kepergian Bik Sumi, lampu pun menyala kembali. Abu Musa kini kembali membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk membantu menyadarkan Fikri dan kedua tamunya.
Mendengar alunan suara Merdu Abu Musa bertilawah membuat Lingga perlahan mulai membuka matanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Lingga tampak linglung
"Hanya ada insiden kecil, tapi semuanya sudah beres," jawab Abu Musa kemudian duduk di samping Lingga
Pria berpakaian serba putih itu kemudian memperhatikan Anas dan Fikri yang terbaring beralaskan tikar.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?" ucap Abu Musa balik bertanya
"Entahlah, saat aku sedang melakukan ritual untuk membantu Fikri tiba-tiba seseorang datang dan mengacaukan ritual ku," jawab Lingga
Abu Musa mengusap wajah Fikri yang dipenuhi keringat.
"Sepertinya mereka dalam bahaya," ucap Abu Musa tampak khawatir
"Benar, aku tiba-tiba kehilangan mereka saat aku tak bisa melanjutkan ritual ku, " jawab Lingga
"Maaf jika kedatanganku sudah menganggu ritual mu Aki," ucap Abu Musa
__ADS_1
"Tidak, justru kedatangan Abu menyelamatkan kami, terimakasih," jawab Lingga
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membantu menyelamatkan Anas dan Fikri?" tanya Abu Musa
"Bantu doa saja Ustadz," jawab Lingga
Tiba-tiba keduanya di kejutkan dengan bunyi suara lesung yang berbunyi nyaring beraturan.
"Lesung itu??" Lingga segera beranjak dari duduknya.
Baru saja Lingga akan bergegas keluar tiba-tiba ia dikejutkan dengan kemunculan pasukan Buto Ijo yang berdatangan memasuki ruang tempatnya berada kini.
"Subhanallah," Abu Musa ikut terperanjat melihat banyaknya makhluk halus yang menyambangi tempat itu saat Lesung itu berbunyi.
"Sepertinya kita harus berbagi tugas Abu," ucap Lingga mulai mengatur siasat
"Tentu saja, apapun akan aku lakukan demi menyelamatkan Fikri," jawab Abu Musa
Lingga kemudian membisikan sesuatu kepada Abu Musa.
"Kalau begitu tolong halau para lelembut itu agar tidak menyentuh Anas dan Fikri. Aku akan kebelakang untuk menghentikan wanita itu," ujar Lingga
Abu Musa mengangguk setuju.
Setelah membuat pagar gaib untuk melindungi Anas dan Fikri, ia segera merangsek maju menerobos para buto ijo itu demi menuju ke halaman belakang.
Seperti dugaan Lingga, ia melihat seorang wanita tengah menabuh Lesung keramat tersebut.
"Hentikan Nyai atau aku akan memanggil para lelembut itu untuk balik menyerang mu," ancam Lingga
Bik Sumi menyeringai menatap lekat Pria didepannya itu.
"Coba saja kalau kau bisa Aki," tantangnya
Lingga kemudian mengeluarkan buku usang milik Sri yang selalu di bawanya.
Ia membuka halaman terakhir buku itu dan mulai berkidung mengikuti mantera yang tertulis di buku itu.
Seketika Bik Sumi langsung berhenti membunyikan lesung itu dan melemparkan apapun yang ada di dekatnya untuk menghentikan Lingga.
"Dasar dukun sialan, berhenti menyanyikan kidung iblis itu!" seru Bik Sumi
Lingga tak bergeming dan tetap berkidung meskipun Bis Sumi mulai menyerangnya dengan kekuatan supranaturalnya.
"Hentikan kidung itu!" seru Bik Sumi melemparkan Alu kearah Lingga.
__ADS_1
*Grep!
Beruntung Lingga mampu menangkap Alu itu hingga tak mengenai tubuhnya.
Tak menyerah meskipun gagal melukai Lingga, kini Bik Sumi menggunakan jurus pamungkasnya.
Wanita itu mengeluarkan sebuah sisir yang sering ia gunakan untuk menyisir rambut Sri. Sumi mulai mengumpulkan rambut wanita itu dan menyatukannya di dalam lesung.
"Karena kau memilih untuk menggunakan cara lama maka aku pun tak punya cara lain selain menggunakan cara klasik ini untuk menghentikan mu dukun sialan!" seru Sumi
Lingga tak menghiraukan peringatan wanita itu dan terus berkidung merdu.
Bik Sumi mulai menyiram rambut Sri dengan darah Ayam cemani yang sudah ia siapkan.
Tidak lama sesosok wanita menghantam tubuh Lingga hingga ia jatuh berguling-guling ke tanah.
Lingga berusaha bangun, namun makhluk itu langsung menggerakkan tangannya membuat tubuh Lingga seketika kaku. Lingga yang tak mau kalah berusaha menggerakkan tubuhnya namun semuanya sia-sia saja. Ia merasakan tubuhnya benar-benar kaku seperti batu yang tak bisa digerakkan.
Sial, makhluk apa sebenarnya dia?
Jangankan untuk bergerak, bahkan membuka mulutnya saja ia tak bisa. Al hasil Lingga tak bisa berkidung lagi karena tiba-tiba suaranya menghilang.
Sial, sepertinya dia menggunakan Santet juga untuk membungkam mulutku!
Sementara itu selesai menghalau para buto ijo, Abu Musa segera menuju ke halaman belakang.
Ia yang melihat Lingga terkulai di tanah buru-buru menghampirinya.
Saat mendekati Lingga, ia mengetahui jika lelaki itu tengah bergelut dengan kekuatan ilmu hitam.
Abu Musa kemudian menyentuh kepala Lingga seraya memanjatkan doa.
"La Hawla Wala Qu Wata Illa Billah," ucap Abu Musa berusaha membantu mengeluarkan santet yang menyerang Lingga.
*Grep!!
Hantu wanita yang sebelumnya menyerang Lingga, tiba-tiba melesat kearah Abu Musa dan mencekik lehernya. Abu Musa berusaha melepaskan diri dari cengkraman hantu wanita itu.
Namun semakin keras usaha Abu Musa tetap saja hantu wanita itu lebih kuat darinya.
Ia bahkan mendorong pria berbaju putih-putih itu hingga tubuhnya menghantamkan tembok.
Abu Musa yang mulai menyadari dirinya tengah berhadapan dengan sesosok makhluk gaib yang sangat kuat. Ia kemudian memejamkan matanya ia sengaja berdoa untuk menahan serangan gaib yang hendak menyerangnya.
Sementara di jagad arwah Rangga dan Gilang terhempas keluar dari tempat itu hingga hanya tersisa Barra dan Fikri.
__ADS_1
Keduanya tampak berusaha mencari jalan keluar. Barra mencoba menggunakan kekuatan supranaturalnya untuk mencari jalan keluar.
Sedangkan Fikri mengikuti sebuah jejak langkah seekor kura-kura yang mengantarnya pada Anas.