
"Kenapa, apa kau takut ayahku akan jadi korban selanjutnya?" tanya Anas begitu terkejut saat aku melarangnya
"Iya," jawabku mengangguk sedih
Jujur saja aku tidak mau ada korban lagi yang jatuh hanya karena ingin menyelamatkan Ibuku. Kadang aku malah berpikir untuk meminta ibu mengakhiri perjanjiannya dengan para lelembut itu apapun resikonya.
"Tenang saja, ayahku sudah biasa menghadapi kasus seperti ini, mudah-mudahan saja dia bisa membantu kalian," jawab Anas membuat ku sedikit lega
"Benarkah, tapi... Tetap saja aku masih merasa was-was karena sudah banyak yang menjadi korban,"
Memang Ayah Anas adalah seorang dukun sakti yang cukup termasyhur di kampung sebelah. Tapi meskipun begitu aku tetap saja masih khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya.
Hari itu Anas membantuku mempersiapkan acara tahlilan pertama yang di gelar di rumahku. Ia bahkan sengaja menginap di rumahku untuk memastikan semua ucapanku.
Selesai acara tahlil Anas menjenguk ibu di kamarnya. Ku lihat ia tampak termangu saat melihat cermin keramat itu.
"Jadi ini cerminnya," ucap Anas kemudian mengusap cermin itu
"Iya Nas," jawabku singkat
Anas menghela nafas kemudian duduk di tepi ranjang ibu mendampingi ku.
Bola matanya kini tertuju pada buku usang yang tergeletak di atas meja. Ia kemudian mengambilnya dan mulai membacanya.
"Buku siapa ini Fik?"
"Punya ibu," jawab ku
"Sepertinya ini bukan buku biasa Fik,"
Anas tiba-tiba membaca sebuah kalimat bahasa jawa kuno yang aku sendiri kurang paham maknanya.
"Maksudnya??" tanyaku membelalak
"Buku ini berisi mantra-mantra pemanggil setan," ucap Anas membuatku benar-benar terkejut
"Darimana kamu tahu?" tanyaku penasaran
"Dari mantra-mantra yang di tulisnya,"
"Aku pikir buku ini berisi curahan hati ibu atau semacam diary. Soalnya aku lihat Bik Sumi selalu membacakannya sebelum ibu tidur,"
"Siapa Bik Sumi?" tanya Anas mengerutkan keningnya
"Dia itu yang membantuku merawat ibu,"
"Oh begitu,"
"Iya Nas,"
"Kalau begitu boleh aku pinjam sebentar ya bukunya?"
"Silakan saja Anas,"
__ADS_1
Aku segera menggelar karpet dan matras untuk tidur. Mungkin karena hari ini begitu capek mengurus pemakaman Azam membuatku begitu ngantuk.
"Maaf ya Nas aku tidur duluan,"
"Iya Fik santai saja," jawab Anas kemudian kembali membaca buku itu.
#Pov Anas
Entah kenapa lama kelamaan membaca buku ini membuat dadaku terasa sesak hingga aku kesulitan bernapas.
Keringat dingin mulai membasahi wajahku, aku berusaha membangunkan Fikri saat aku merasakan pandanganku mulai gelap hingga aku jatuh pingsan.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang membaca mantra yang ada dalam buku membuatku terbangun.
Ku lihat penutup cermin itu perlahan tersingkap hingga terlepas.
Ku lihat sosok wanita mengerikan berusaha keluar dari cermin itu.
Bau busuk tiba-tiba menyeruak memenuhi seluruh ruangan ini, membuat aku mual dan ingin muntah.
Kini sosok wanita dengan rambut panjang dan kusut berdiri di depanku. Matanya yang merah menatap tajam kearah ku, seolah ingin memangsa ku hidup-hidup.
Kalau dilihat dari warna kulitnya yang berwarna hijau seperti Hulk aku pastikan dia adalah sesosok buto ijo, hanya saja jenis kelaminnya perempuan karena payud*ranya yang besar dan menggantung sampai ke lantai.
"Jangan ikut campur anak muda, atau kau yang akan menjadi tumbalku selanjutnya!" ancam makhluk itu kemudian mencekik leherku hingga membuat ku kembali kesulitan bernafas.
"Assalamu'alaikum,"
Ku lihat Fikri masih terlelap, sedangkan seseorang berusaha membuka pintu kamar.
Aneh, padahal kami tidak mengunci pintu kamar ini, tapi kenapa tiba-tiba pintu kamar terkunci. Lalu siapa yang mengunci kami, dan juga siapa yang membaca mantra pemanggil setan itu.
"Fikri, apa kamu di dalam!" seru Abu Musa
Iya aku yakin itu suara Abu, buru-buru aku bangun dan membukakan pintu untuknya.
#Pov Anas selesai
Abu Musa memasuki kamar dan segera membangunkan aku.
"Sepertinya kamu sangat kelelahan sampai susah sekali dibangunkan," ucap Abu tersenyum menatapku yang masih menguap
Aku kira sudah siang, sampai Abu datang membangunkan aku, ternyata masih subuh.
Abu datang untuk memperingatkan aku agar tidak meninggalkan solat subuh.
"Terimakasih Abu sudah membangunkan aku untuk sholat," ucapku kemudian mengantarnya ke depan.
Ku lihat Anas masih sibuk membaca buku itu. Aku kemudian mengajaknya untuk sholat berjamaah di kamar ibu, namun ia menolak. Anas memintaku untuk sholat bergantian.
Ia bilang tak baik meninggalkan ibuku sendirian, karena itu justru akan membahayakan nyawa kita berdua.
Aku benar-benar terkejut mendengar penuturan Anas.
__ADS_1
Bagaimana dia bisa tahu kalau Ibu tak boleh di tinggal sendirian?
"Aku membacanya dari buku ini," jawab Anas
Benar sekali, dari buku itu di sebutkan jika Para Rewang akan datang untuk menemui Ibuku saat ia sendirian.
"Astaghfirullah, bagaimana aku bisa sebodoh ini. Kenapa aku tak menyadari kalau buku ini adalah petunjuk untuk ibuku," ucapku begitu menyesal baru mengetahuinya jika buku ini berisi banyak petunjuk tentang ibuku.
"Lebih baik terlambat Fik daripada tidak tahu sama sekali,"
"Benar juga sih, yaudah kalau gitu aku sholat duluan ya,"
"Sip,"
Alhamdulillah, hari ini ada sedikit pencerahan, semoga setelah ini akan ada jalan terang yang akan membantuku keluar dari jerat setan..
Pukul delapan pagi Bik Sumi datang, seperti biasa dia datang untuk menjaga ibu. Meksipun hari ini aku cuti karena masih berduka tetap ku biarkan dia untuk menjaga ibu, karena aku ingin menyelesaikan sebuah teka-teki yang belum terpecahkan bersama Anas.
Sambil menunggu Anas yang masih mandi, aku menyiapkan air untuk membasuh tubuh ibu. Saat aku hendak membasuh tubuh ibu tiba-tiba Bik Sumi mengambil alih.
"Sini biar bibi aja yang mandiin ibu kamu,"
"Silakan Bik," aku kemudian mempersilakan Bik Sumi untuk memandikan ibu.
Tak lama Anas menghampiriku dan mengajakku untuk mengecek lesung ibu di halaman belakang.
"Ayo Fik,"
"Kuy," jawabku kemudian meninggalkan ibuku bersama Bik Sumi.
Kami segera menuju ke halaman belakang untuk mengecek lesung padi milik ibu.
"Itu lesungnya?" ucapku kemudian membuka penutup lesungnya.
Anas tampak mengusap lesung itu dan kemudian menatap kearah gudang yang terkunci.
"Kenapa lesung itu tak kau masukan saja ke gudang?" tanya Anas
"Entahlah aku tak pernah berpikir memindahkannya,"
"Daripada di sini nanti lapuk karena terkena hujan kan mending di simpan di dalam gudang," ucap Anas
"Iya sih, tapi karena dulu ibu selalu memakainya maka aku tak pernah berpikir untuk memindahkan lesung itu. Lagipula terlelalu berat jika aku memindahkannya seorang diri,"
Anas kemudian berjalan menuju ke gudang, ia menarik engsel pintu dan pintu itupun terbuka.
"Gak dikunci??"
Aku hanya mengangkat bahu mendengar ucapan Anas. Karena melihat Anas memasuki gudang itu, akupun mengikutinya.
Saat memasuki ruangan itu ku rasakan hawa yang berbeda di sana.
Rasanya sangat pengap saat memasuki gudang seperti ada banyak orang di dalam ruangan ini, padahal hanya kami berdua saja. Nafasku seperti tercekik sehingga membuat ku susah untuk beranfas. Aku memegang dadaku yang terasa sakit. Ingin aku bersuara atau bergerak namun terasa kaku. Untung saja Anas segera menepuk punggungku, "Jangan melamun di sini, bahaya!"
__ADS_1